Selasa, 01 September 2015
model pembelajaran kooperatif
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa bekerja bersama-sama didalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar. Pembelajaran kooperatif didasarkan pada gagasan atau pemikiran bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar, dan bertanggung jawab terhadap aktivitas belajar kelompok mereka seperti terhadap diri mereka sendiri. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang menganut paham konstruktivisme.
Model pembelajaran kooperatif berguna untuk memotivasi seluruh siswa, memanfaatkan seluruh energi sosial siswa, saling mengambil tanggungjawab. Model pembelajaran kooperatif membantu siswa belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks.
Macam-macam model pembelajaran kooperatif
1. STAD (Student Teams Achievement Division)
Model pembelajaran STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga cocok bagi guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.
Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran STAD:
Siswa ditempatkan dalam kelompok belajar yang beranggotakan empat atau lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja didalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi pelajaran tersebut. Pada akhirnya siswa diberikan tes yang mana pada saat tes ini mereka tidak dapat saling membantu. Poin setiap anggota tim ini selanjutnya dijumlahkan untuk mendapat skor kelompok. Tim yang mencapai kriteria tertentu diberikan sertifikat atau ganjaran lain.
Dalam pembelajaran kooperatif STAD, materi pembelajaran dirancang untuk pembelajaran kelompok. Dengan menggunakan LKS atau perangkat pembelajaran yang lain, siswa bekerja secara bersama-sama untuk menyelesaikan materi. Siswa saling membantu satu sama lain untuk memahami materi pelajaran, sehingga setiap anggota kelompok dapat memahami materi pelajaran secara tuntas.
Lima komponen utama model STAD yaitu: presentasi Kelas, Kelompok, Kuis (tes), Skor peningkatan individual, dan Penghargaan kelompok.
Ide utama di balik STAD adalah untuk memotivasi siswa saling memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-keterampilan yang dipresentasikan guru. Apabila siswa menginginkan tim mereka mendapatkan penghargaan tim, mereka harus membantu teman satu tim dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Mereka harus memberi semangat teman satu timnya yang melakukan yang terbaik, menyatakan norma bahwa bahwa belajar itu penting, bermamfaat, dan menyenangkan. Siswa bekerja sama setelah guru mempresentasikan pelajaran. Mereka dapat bekerja berpasangan dengan cara membandingkan jawaban-jawabannya, mendiskusikan perbedaan yang ada, dan saling membantu satu sama lain saat menghadapi jalan buntu.mereka dapat mendiskuskan. Pendekatan, yang dipakai untuk memecahkan masalah, atau mereka dapat saling memberikan kuis tentang materi yang sedang mereka pelajari. Mereka mengajar teman timnya dan mengases kekuatan dan kelemahan mereka untuk membantu agar mereka berhasil dalam kuis tersebut. Meskipun siswa belajar bersama, mereka tidak boleh saling membantu dalam mengerjakan kuis. Setiap siswa harus menguasai materi tersebut. Tanggung jawab individual ini memotivasi siswa melakukan sebuah pekerjaan tutorial dengan baik dan saling menjelaskan satu sama lain, mengingat satu-satunya cara tim tersebut berhasil jika seluruh anggota tim telah menuntaskan informasi atau keterampilan yang sedang dipelajarinya. Karena skor tim didasarkan pada peningkatan diatas skor mereka yang lalu (kesempatan yang sama untuk berhasil), semua siswa memiliki peluang menjadi bintang pada suatu minggu tertentu, dengan cara memperoleh skor baik diatas skor terdahulu atau dengan mendapatkan skor sempurna. Skor sempurna selalu menghasilkan poin maksimum tidak memandang berapapun rata-rata skor terdahulu siswa.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model ini bisa diterapkan dalam pembelajaran sejarah, karena siswa dituntut untuk aktif, berdiskusi, bertanggungjawab terhadap tim maupun diri peribadi serta kerjasama ,emyelsaikan makalah atau memberikan jawaban kepada anggota porum yang bertnya, contoh dalam pembuatan makalah.
2. TGT (Teams-Games-Tournaments)
TGT adalah teknik pembelajaran yang sama seperti STAD dalam setiap hal kecuali satu, sebagai ganti kuis dan sistem skor perbaikan individu, TGT menggunakan turnamen permainan akademik. Dalam turnamen itu siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik mereka yang lalu.
Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran TGT:
1. Persentase Kelas: Guru mempersiapkan bahan ajar yang dibutuhkan: Dua LKS untuk tiap tim, dua lembar jawaban untuk tiap tim dan memperkenalkan materi (bahan ajar) melalui persentase kelas, biasanya menggunakan pengajaran langsung atau ceramah. Siswa mengerjakan LKS dalam tim mereka.
2. Tim: Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 4 - 5 orang, pembagian kelompok dilakukan didasarkan pada berbagai pertimbangan-pertimbangan agar diperoleh kelompok yang heterogen. Setiap kelompok siswa dalam suatu tim mengerjakan LKS untuk menuntaskan bahan ajar yang telah diterimanya.
3. Permainan Guru mempersiapkan jenis permainan akademik yang disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk mengetes pengetahuan siswa yang diperoleh dari persentase kelas dan latihan tim. Permainan dimainkan pada meja-meja yang berisi tiga siswa, tiap siswa mewakili tim yang berbeda.
4. Turnamen Guru mempersiapkan bahan turnamen yang dibutuhkan: Lembar penempatan meja turnamen, dengan penempatan meja turnamen yang telah diisi. Satu kopi lembar Permainan dan kunci Lembar Permainan untuk tiap meja turnamen, Satu lembar skor permainan, satu tumpuk kartu-kartu bernomor yang sesuai dengan nomor pertanyaan-pertanyaan pada lembar permainan untuk tiap meja.
Aturan Permainan:
• Pemain pertama mengambil kartu bernomor dan menemukan pertanyaan yang sesuai dengan lembar permainan.
• Membaca pertanyaan tersebut dengan keras.
• Memberi Jawaban.
• Penantang Pertama: Setuju dengan pembaca atau menantang dan memberi jawaban, demikian juga penantang kedua.
• Mencocokkan jawaban.
• Pemain yang menjawab benar akan menyimpan kartu tersebut. Apabila ada penantang yang menjawab salah ia akan mengembalikan kartu yang dimenangkan sebelumnya (bila ada) ke tumpukan kartu. Apabila tidak ada satupun jawaban yang benar, kartu tersebut dikembalikkan ke tumpukan. Langkah ini dilakukan sampai akhir pelajaran, atau tumpukan kartu telah
habis. Pada akhir turnamen hitunglah banyaknya kartu yang diperoleh tiap siswa, siswa yang memperoleh skor tertinggi mendapat poin 60, tingkatan berikutnya masing-masing 50, 40 dan 20.
5. Penghargaan Tim Guru menghitung skor tim dan siapkan sertifikat tim atau tuliskan hasil turnamen yang diumumkan pada papan buletin.
Penerapan dalam sejarah
Model ini tidak bisa diterapkan dalam sejarah, karena meskipun guruh telah membagi tim untuk turnamen namun hanya beberapa perwakilan tim saja yang bisa ikut ber lomba untuk mewakili timnya, sehingga dalam pembelajaran seperti ini kurang efektip karena sebagianlagi siswa tidak ikut terlibata dan hanya sebagai anggota tim saja, dalam sejarah hendaknya siswa menguasai semu pelajaran yang bersangkutan dengan sejarah sehingga ia tahu, paham, menganalisis dan mampu menyimpulkan suatu peristiwa sejarah namun dalm model ini tidak demikin.
3. Jigsaw
Metode Jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif dimana siswa memang berperan aktif didalam proses pembelajaran. Tujuannya adalah mengembangkan kerja tim, keterampilan belajara kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian.
Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran Jigsaw:
Kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam itu disebut kelompok pakar (expert group). Selanjutnya, para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam home teams, para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.
Penerapan didalam pembelajaran sejarah:
Model ini bisa diterapkan dalam sejarah karena siswa berperan aktif didalam proses pembelajaran menguasai pengetahuan secara mendalam selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji pelajaran dan mendiskusikanya serta saling bertukar pendapat tentang analisis yang mereka temukan masing-masing dalam suatu tema sejarah yang dibahas.
4. Tim Jigsaw
Untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, tugaskan setiap siswa pada setiap kelompok untuk mempelajari seperempat halaman dari bacaan atau teks pada mata pelajaran apa saja (misalnya sejarah), atau seperempat bagian dari sebuah topik yang harus mereka pelajari atau ingat. Setelah setiap siswa tadi menyelesaikan pembelajarannya dan kemudian saling mengajarkan (menjelaskan) tentang materi yang menjadi tugasnya atau saling bekerjasama untuk membentuk sebuah kesatuan materi yang utuh saat mereka menyelesaikan sebuah tugas atau teka-teki.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model ini bisa penerapannya dalam sejarah kamirasa, karena siswa dituntut untuk aktif dan menguasai materi yang akan dipelajari dan ditugaskan oleh guruh terlebi dahulu. Sehingga siswa lebih tahu dan paham materi yang akan dibicarakan serta mereka mampu bertukar pikiran kepada sesma rekan atau teman kelasanya.
5. Jigsaw II
Jigsaw II diadopsi dan dimodifikasi kembali oleh Slavin (1989). Dalam model ini, setiap kelompok berkompetisi untuk mendapatkan penghargaan kelompok (group reward). Penghargaan ini diperoleh berdasarkan performa individu masing – masing anggota. Setiap kelompok akan memperoleh poin tambahan jika masing – masing anggotanya mampu menunjukkan peningkatan performa saat ditugaskan mengerjakan kuis.
Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw II:
1. Pilih beberapa bab, cerita, atau unit-unit lain. Tiap-tiap bahan sebaiknya dapat mencakup dua sampai tiga unit pertemuan.
2. Buatlah lembar ahli untuk setiap unit. Lembar ini memandu siswa untuk berkonsentrasi pada saat mereka membaca, dan memandu kelompok ahli yang ditunjuk untuk mendalami bahan bacaan tertentu.
3. Buatlah kuis untuk setiap unit. Kuis tersebut seharusnya terdiri dari paling sedikit delapan pertanyaan, dua untuk setiap topik, atau sebuah kelipatan dari empat (misalnya 12, 16, 20), untuk membuat banyak pertanyaan yang sama untuk setiap topik.
4. Menggunakan kerangka diskusi (pilihan). Suatu kerangka diskusi untuk tiap topik dapat membantu memandu diskusi pada kelompok ahli. Menempatkan siswa dalam tim. Tempatkan siswa ke alam tim-tim heterogen yang beranggota empat sampai lima. Menempatkan Siswa dalam Kelompok Ahli. Anda dapat menempatkan siswa ke dalam kelompok ahli secara acak, hanya dengan menbagi peran-peran secara acak di dalam setiap tim.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model ini bisa diterapkan dalam sejarah karena siswa dengan adanya penghargaaan tau suatu riwod yang akan diberikan guru kepada anggota kelompok akan memotivasi masing-masing individu untuk mendapatkan riwod atau penghargaan tersebut sehingga mereka masing-masing individu dalam kelompok memiliki tekat dan memperdalam pengethuan dengan cara membaca atau dengn cara hal lain untuk menambah wawasanya untuk menyelsaikan kuis yang diberikan oleh guru tersebut.
6. Reverse Jigsaw (kebalikan Jigsaw)
Tipe model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan oleh Timothy Hedeen (2003). Perbedaanya dengan tipe Jigsaw adalah, bila pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw anggota kelompok ahli hanya mengajarkan keahliannya kepada anggota kelompok asal, maka pada model pembelajaran kooperatif reverse jigsaw ini, siswa-siswa dari kelompok ahli mengajarkan keahlian mereka (materi yang mereka pelajari atau dalami) kepada seluruh kelas.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model ini dalam sejarah kami rasa tidak bisa diterapkan dalam pembelajaran sejarah karena hendaknya setiap siswa sama-sama mampu menguasai materi yang telah diajarkan atau yang ditugaskan untuk membacannya, jika hanya seorang murid saja yang menjelaskanya kepada semua anggota kelas takutnya timbul cemburu sosial, kurang diperhatikan siswa lain dan takut apa yang dismapaikan tidak tersampaikan semua sehingga tidak cocok model ini dalm sejarah.
7. TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
TAI (Team Assisted Individualization) adalah salah satu jenis pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Frase Team Assisted Individualization dapat diterjemahkan sebagai “Bantuan Individual Dalam Kelompok (BIDaK)”. Model pembelajaran kooperatif TAI ini sering pula dimaknai sebagai Team Accelerated Instruction.
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) merupakan pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Salah satu poin penting yang harus diperhatikan untuk membentuk kelompok yang heterogen di sini adalah kemampuan akademik siswa. Masing-masing kelompok dapat beranggotakan 4 - 5 orang siswa. Sesama anggota kelompok berbagi tanggung jawab.
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction) merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Pada model pembelajaran kooperatif ini, siswa biasanya belajar menggunakan LKS (lembar kerja siswa) secara berkelompok. Mereka kemudian berdiskusi untuk menemukan atau memahami konsep-konsep. Setiap anggota kelompok dapat mengerjakan satu persoalan (soal) sebagai bentuk tanggungjawab bersama. Penerapan model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization lebih menekankan pada penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu dan memperoleh kesempatan yang sama untuk berbagi hasil bagi setiap anggota kelompok.
Langkah-langkah penerapan model TAI
1. Placcement test
Untuk mengetahui kemampuan siswa dan sebagai dasar timbangan pengelompokan., maka siswa dalam tahap ini diberi tes yang berupa pretest atau bisa berupa hasil test sebelumnya.
2. Team
Siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 orang yang heterogen. Fungsi kelompok adalah memastikan semua anggota kelompok ikut dan memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Tiap kelompok mengembangkan kemampuan masing-masing untuk objek yang dipermasalahkan sehingga ada interaksi kelompok yang diperoleh dari seluruh sumbangan anggota kelompok.
3. Teching group
Guru menjelaskan materi pokok secara klasikal pada siswa yaitu dengan memperkenalkan konsep-konsep utama kepada siswa sebelum mengerjakan tugas secara individu.
4. Student Ceative
Sebelum siswa belajar pada kelompoknya, terlebih dahulu masing-masing siswa berusaha membaca, memahami meteri-materi pelajaran dan mengerjakan tugas secara individu.
5. Team Study
Para siswa diberikan suatu unit perangkat pembelajaran secara individu, unit tersebut berisikan materi kemudian para siswa mengerjakan dan membahas unit-unit tersebut dalam kelompok masing-masing.jika ada siswa yang mendapat kesulitan disarankan untuk meminta bantuan kepada kelompok sebelum meminta bantuan kepada guru.
6. Whole class unit
Pada tahap ini dilakukan diskusi kelas, setiap anggota kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Ketika ada kelompok yang mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, maka tugas lain adalah menanggapi jawaban dari hasil kerja kelompok lain yang presentasi. Setelah diskusi setelah guru mengevaluasi terhadap jalannya diskusi dan membenahi atau menyempurnakan jawaban siswa. Di akhir diskusi guru meminta kepada siswa untuk membuat kesimpulan.
7. Fact test
Guru memberikan tes untuk mengukur kemampuan siswa setelah diberikan materi. Pada penelitian ini tes diberikan setelah akhir pembelajaran.
8. Team scores and team recognition
Diakhir pembelajaran guru memberikan skor kelompok. Skor ini didasarkan pada jumlah rata-rata dari nilai tes anggota kelompok.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model ini bisa diterapkan dalam pemebelajaran sejarah, karena siswa dituntut untuk menyelsaikannya per individu dan baru bergabung kekelompoknya untuk mendiskusiakn jawaban dengn belajar semacam ini semua siswa mampu menguasai materi dan memahaminya, serata dipersentasikan masing-masing kelompok dan ditanggapi oleh kelompok lain, dengan adanya tanggapan berarti siswa menguasai materi dan memeprdebatkanya, jadi model ini cocok dalam sejarah saya rasa.
8. Round table atau rally table
Untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Round table atau Rally Table ini guru dapat memberikan sebuah kategori tertentu kepada siswa (misalnya kata-kata yang dimulai dengan huruf “s”). Selanjutnya mintalah siswa bergantian menuliskan satu kata secara bergiliran.
Pada pembelajaran rally Table, secara berpasangan siswa bergantian memberi respon atau menyelesaikan masalah dengan menulis diatas kertas yang sama dan menggunakan pena atau pensil yang sama. Pada pembelajaran round table, sama dengan rally table, tetapi pasukan berempat.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model ini kami rasa tidak cocok dalam pembelajaran sejarah karena hanya memberi suatu hurup yang tidak jelas akan penjelasanya dan akan membuat pelajaran mengambang saja. Dalam sejarah itu harus jelas, memilki fakta, waktu dan bukti sejarah lainnya, saya rasa model semacam ini cocok dalam bahasa Indonesia karena teka-teki.
9. NHT (Numbered Heads Together) – Kepala Bernomor Bersama
Pada dasarnya merupakan sebuah varian diskusi kelompok, ciri khasnya adalah hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya, tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok itu. Cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa.
Numbered heads together (NHT) adalah model pembelajaran yang dikembangkan untuk melibatkan banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengukur pemahaman mereka terhadap materi pelajaran tersebut. Model pembelajaran “numbered heads together” diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif, bergairah dan siswa tidak menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber informasi, sehingga semua akan bermuara pada tercapainya tujuan pembelajaran, baik dari segi proses maupun target capaian penguasaan kompetensi dasar. NHT adalah model pembelajaran yang dikembangkan untuk melibatkan banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengukur pemahaman mereka terhadap materi pelajaran tersebut.
Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran model NHT:
a. Siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 3 – 4 anggota, setiap siswa / anggota kelompok mendapat sebuah nomor.
b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap anggota kelompok dapat mengerjakannya / megetahui jawabannya.
d. Guru memanggil salah satu siswa dengan memanggil nomornya, kemudian siswa tersebut melaporkan hasil kerjasama diskusi kelompoknya.
e. Kelompok atau teman yang lain memberikan tanggapan, kemudian guru melanjutkan memanggil nomor yang lain.
f. Siswa dengan dipandu guru membuat kesimpulan.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model ini bisa diterapkan dalam pembelajaran sejarah karena setiap anggota kelompok bekerja sama dalam menyelsaikan tugas kelompoknya, selain itu juga siswa tersebut menguasai bahan dan materi yang menyangkut tugasnya serta masing-masing individu kelmpok mencari jawaban tugas kelompok tersebut dan mendiskusikanya kepada kelompoknya dan baru diabil suatu kesimpulan tentang jawaban sehingga dengn model semacam ini membuat siswa aktif dan mandiri dalam belajaran.
10. Three-Step Interview (Wawancara Tiga Langkah)
Pembelajaran three step interview merupakan salah satu tipe pembelajaran kooeratif yang cukup sederhana, dan dapat dilatihkan kepada siswa yang belum terbiasa mengikuti pembelajaran kooperatif. Pada model pembelajaran ini setiap siswa diberikan kesempatan untuk saling berinteraksi dengan saling mewawancarai langsung dan menyampaikan kembali hasil wawancaranya serta dituntut untuk bisa bertanggung jawab terhadap tugus yang diembannya sebagai salah satu pendukung keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.
Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Three-Step Interview:
Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari empat orang. Kemudian masing-masing kelompok diperintahkan kembali untuk membuat kelompok yang baru yang terdiri dari hanya dua orang. Adapun kelompok yang berpasangan ini harus berasal dari anggota kelompok yang sama. Setelah itu tahap wawancara pertama dimulai, yaitu dalam setiap pasangan siswa pertama menjadi pewawancara sedangkan siswa yang kedua menjadi pihak yang diwawancara, orang yang mewawancara hendaknya mencatat hal-hal yang dianggap peting yang diungkapkan oleh yang diwawancarai. Kemudian tahap selanjutnya adalah mereka berdua saling bertukar peran, dan setelah itu pada tahap wawancara terakhir masing-masing pasangan bergabung dengan pasangan yang lain yang merupakan anggota kelompoknya semula kemudian mereka saling berbagi mengenai hasil wawancaranya masing-masing.
Selama tahap wawancara ini, siswa diwajibkan memberikan pertanyaan yang hanya berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari.
Kemudian setelah ketiga proses wawancara tersebut telah selesai dilaksanakan. Maka selanjutnya guru dapat menyuruh sebagian kelompok untuk melaporkan hasil diskusinya, setelah sebagian besar kelompok selesai membacakan hasil laporannya, guru kembali menjelaskan materi yang masih belum dipahami murid. Setelah itu guru memberikan evaluasi pada akhir pembelajaran.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model ini sangat cocok dalam sejarah karena siswa dituntut untuk kritis dan aktif dalam menanyakan Sesutu hal yang menyangkut sejarah. Dan setelah melakukan wawancara siswa dituntut untuk melaporkanya dan menyimpulkanya contoh dalam kkl. Dari sanalah pengetahuan dan wawasan siswa bertambah.
11. Three-Minute Review (riviu Tiga langkah)
Model pembelajaran kooperatif tipe three-step review efektif untuk digunakan saat guru berhenti pada saat-saat tertentu selama sebuah diskusi atau presentasi berlangsung, dan mengajak siswa mereviu apa yang telah mereka ungkapkan saat diskusi di dalam kelompok mereka. Siswa-siswa dalam kelompok-kelompok itu dapat bertanya untuk mengklarifikasi kepada anggota lainnya atau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anggota lain. Misalnya setelah diskusi tentang proses-proses kompleks yang terjadi di dalam tubuh manusia misalnya pencernaan makanan, siswa dapat membentuk kelompok-kelompok dan mereviu proses diskusi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengklarifikasi.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model ini cocok dalm sejarah karena siswa dituntut aktif, kritis dan tanggap dalam menjawab suatu pertanyan dari siswa lain, serta mengembangkan pengetahuan dan menghidupkan nalar mereka dalam belajar serta dapat mengingatkan kembali ada yang kurag dari jawaban sehingga mereka tahu serta paham. Serta bertambahlah wawasan mereka dari tidak tau menjadi tau.
12. GI (Group Investigasi)
Berdasarkan pandangan konstruktivistik, proses pembelajaran dengan model group investigation memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu topik melalui investigasi. Democratic teaching adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keberagaman peserta didik.
Group investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual.
Eggen & Kauchak (dalam Maimunah, 2005: 21) mengemukakan Group investigation adalah strategi belajar kooperatif yeng menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode GI mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik atau objek khusus.
Langkah-langkah pelaksanaan:
Tahap I
a. Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok.
b. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.
Tahap II
a. Merencanakan tugas.
b. Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
Tahap III
a. Membuat penyelidikan.
b. Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
Tahap IV
a. Mempersiapkan tugas akhir.
b. Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.
Tahap V
a. Mempresentasikan tugas akhir.
b. Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.
Tahap VI
a. Evaluasi.
b. Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model ini sangat cocok dalm pembelajran sejarah karna siswa dituntu untuk keritis, analisi mendalm dalm sutau hal suatu peristiwa. Yang sedang diamati atau dikaji sehingga memperdalam wawasan siswa missal dalam kkl.
13. Go Around (Berputar)
Model pembelajaran Kooperatif Tipe Keliling Kelompok ini memberikan kesempatan lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain dalam pemecahan suatu permasalahan. Pembelajaran kooperatif tipe keliling kelompok merupakan cara yang efektif untuk mengubah pola diskusi di dalam kelas yang akan mengaktifkan setiap anggota kelompok. Dimana penerapannya dimulai dari pertama sekali siswa membentuk kelompoknya masing-masing, kemudian masing-masing kelompok diberi waktu 15 menit untuk mempelajari materi yang akan dibahas. Sebelumnya guru telah mempersiapkan pertanyaan yang sesuai dengan indikator (satu buah karton dibuat satu pertanyaan) ditempel di dinding kelas (depan, samping, belakang) dengan jarak tertentu. Setiap kelompok berdiri di depan kertas kartonnya masing-masing, Guru menentukan waktu untuk memulai menulis, Siswa cukup mengisi satu jawaban dengan waktu yang ditentukan guru, Seterusnya tiap kelompok bergilir mengisi jawaban menurut arah jarum jam, dan begitu seterusnya. akhir semua kegiatan diadakan diskusi kelas dan tanya jawab.
Langkah-langkah pelaksanaan:
a. Salah satu siswa dalam kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan.
b. Siswa berikutnya juga ikut memberi tanggapan
c. Demikian seterusnya, giliran bicara bisa dilaksanakan menurut perputaran arah jarum jam atau dari kiri kekanan.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model ini tidak cocok dalm sejarah karena siswa hanya diberi waktu sedikti saja dalm memahami dan menguasai materi yang telah ditentukan oleh guru ketika peroses belajar mengajar akan dilaksanakan, serta hanya dapat menekan batin siswa saja karena mereka tidak mampu menjawab pertanyan yang diberikan krena kekurangan materi dan kurangnya informasi tentang materi yang akan dibahas karena materi ditentukan ketika belajar.
14. Reciprocal Teaching (Pengajaran Timbal Balik)
Pendekatan pengajaran timbal balik dapat digunakan kepada siswa yang mempunyai pemahaman rendah dalam membaca, baik pada sekolah dasar maupun pada sekolah lanjutan. Pada pengajaran timbal balik guru bekerja sama dengan kelompok-kelompok kecil siswa. Pengajaran timbal balik adalah kegiatan pembelajaran yang mengambil bentuk dialog antara guru dan siswa mengenai segmen teks untuk tujuan membangun makna dari teks. Pengajaran timbal balik adalah teknik membaca yang diduga untuk mempromosikan proses pengajaran. Pendekatan timbal balik memberikan siswa dengan empat strategi membaca tertentu yang aktif dan sadar digunakan untuk mendukung pemahaman: Mempertanyakan, Memperjelas, Meringkas, dan Memprediksi. tujuan pengajaran timbal balik adalah untuk memfasilitasi upaya kelompok antara guru dan siswa serta antara siswa dalam tugas membawa makna ke teks.
Langkah-langkah pelaksanaan:
1. Siswa mempelajari materi pelajaran yang diberikan secara mandiri. Selanjutnya merangkum atau meringkas materi tersebut dan membuat pertanyaan soal yang berkaitan dengan materi yang dipelajari beserta jawabannya.
2. Siswa diberikan umpan balik, dukungan dan rangsangan ketika mempelajari tersebut secara mandiri.
3. Setelah dikoreksi, beberapa siswa diminta ( sebagai wakil yang mantap dalam mengembangkan soalnya ) untuk menjelaskan /menyajikan hasil temuannya di depan kelas.
4. Mengungkapkan kembali pengembangan soal tersebut untuk melihat pemahaman siswa yang lain melalui metode tanya jawab.
5. Siswa diberi tugas soal latihan secara individual.
6. Segera melakukan refleksi/evaluasi diri untuk mengamati keberhasilan penerapan model pembelajaran berbalik dilakukannya.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model ini cocok dalam sejarah karena siswa dituntut untuk memahami materi dengan sendirinya dan membuat siswa mandiri dalm belajar karena siswa diwajibkan belajar sendiri-sendiri untuk menambah wawasan dan pengetahunnya.
15. CIRC (Cooperative Integrated Reading Composition)
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition-CIRC (Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis) merupakan model pembelajaran khusus Mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau,tema sebuah wacana/kliping. Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik siswa berinteraksi sosial dengan lingkungan.
Langkah-langkah penerapan:
a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang siswa secara heterogen.
b. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
c. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
d. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
e. Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama.
f. Penutup.
Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut:
a. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya.
b. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya.
c. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model ini cocok dalam sejarah karena siswa ditutnutu untuk memhami sendiri materi yang telah ditentukan dan di persentasikan ke kelasa dan siswa tersebut siap untuk dikeritik atu memperthankan argument dari materi yang ia pelajari.
16. The Williams
Sebuah model yang dikembangkan untuk merangsang kreativitas pada anak berbakat dikembangkan oleh Williams terdiri dari tiga dimensi.
Dimensi 1 (D1) dimensi kurikulum
Dimensi 2 (D2) strategi pembelajaran
Dimensi 3 (D3) prilaku siswa seperti prilaku kognitif – afektif
Dengan menggunakan model Williams sebagai rujukan, guru dapat mengembangkan pelajaran dalam bidang-bidang pengajaran yang berbeda dapat merencanakan tujuan pembelajaran bagi anak berbakat secara spesifik.
Synectics sebagai salah satu model pembelajaran mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya adalah 1) mampu meningkatkan kemampuan untuk hidup dalam suasana yang kompleks dan menghargai adanya perbedaan; 2) mampu merangsang kemampuan berfikir kreatif; 3) mampu mengaktifkan kedua belahan otak; 4) mampu memunculkan adanya pemikiran baru. Selain itu, kelebihan dari metode synectics yang lainnya adalah bisa dikombinasi dengan model yang lain.
Langkah-langkah pelaksanaannya:
a. Prinsip reaksi mengacu pada respon guru terhadap siswanya. Diharapkan guru menerima semua respon siswa apapun bentuknya dan menjamin bahwa hal tersebut seolah-olah merupakan ungkapan kreatif siswa, akan tetapi melalui pertanyaan evokatif, guru dapat menstimulasi lebih lanjut kemampuan berfikir kreatifnya;
b. Sistem sosial mendeskripsikan peranan dan hubungan antara guru dan siswa serta mendeskripsikan jenis norma yang disarankan. Sistem sosial dalam synectics terstruktur secara moderat, yang dalam praktiknya berupa guru mengawali dan mengarahkan siswa untuk memecahkan masalah melalui analogi, mengembangkan kebebasan intelektual, dan memberikan reward yang nantinya akan menjadi kepuasan internal siswa yang diperoleh dari pengalaman belajar;
c. Sistem pendukung mengacu pada kebutuhan yang diperlukan untuk implementasi. Sistem pendukung dalam kegiatan synectics terdiri dari pengalaman guru tentang kegiatan synectics, lingkungan yang nyaman, laboratorium, atau sumber belajar lainnya.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model pembelajaran ini cocok/relevan digunakan dalam pembelajaran Sejarah, karena pada pembelajaran sejarah mampu membuat anak berfikir analitis dan kritis, sehingga mereka akan mengetahui apa yang terbaik untuk mereka. Dan juga mampu untuk menciptakan kemampuan berfikir yang baru, karena sejarah mengajarkan tentang masa lampau, sehingga siswa mampu menganalisis mana yang lebih baik dari masa silam yang masih berguna untuk masa depannya.
17. TPS (Think Pairs Share)
Strategi think pair share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Strategi think pair share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan Koleganya di universitas Maryland sesuai yang dikutip Arends (1997), menyatakan bahwa think pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think pair share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu.
Langkah-langkah pelaksanaannya:
a. Langkah 1 : Berpikir ( thinking ) : Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah
b. Langkah 2 : Berpasangan ( pairing ) : Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
c. Langkah 3 : Berbagi ( sharing ) : Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah, karena dalam pembelajaran sejarah siswa membutuhkan adanya interaksi antara murid engan murid dan juga guru dengan murid uru sendiri, sehingga dalam melakukan suatu diskusi kelas siswa tersebut mampu nerperan aktif dalam pebelajaran tersebut.
18. TPC (Think Pairs Check)
Model pembelajaran kooperatif tipe think pairs-check adalah modifikasi dari tipe think pairs share, di mana penekanan pembelajaran ada pada saat mereka diminta untuk saling cek jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan guru saat berada dalam pasangan.
TPW (Think Pairs Write).
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah, karena dengan melakukan tes terhadap sisiwa, sisiwa tersebut dapat memahamai materi yang telah diajarkan. Namun, apa bila jawaban dari siswa tadi ditukar dengan teman satu kelasnya untuk mengeck jawaban yang benar, maka siswa akan tau dimana kesalahan yang diperbuatnya, sehingga mereka akan memperbaikinya untuk kegiatan latihan kedepannya.
19. TPW (Think Pairs Write)
Tipe model pembelajaran kooperatif TPW (Think Pairs Write) juga merupakan variasi dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pairs Share). Penekanan model pembelajaran kooperatif tipe ini adalah setelah mereka berpasangan, mereka diminta untuk menuliskan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Model pembelajaran kooperatif tipe TPW ini sangat cocok untuk pelajaran menulis.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah karena mereka setelah melakukan pertukaran jawaban yang diberikan tadi maka akan di koreksi oleh guru mereka dalam kelas bersama dengan siswa tersebut, mereka akan memahami penjelasan yhang disampaikan oleh gurunya tentang jawaban yang benar dari pertanyaan tadi, sehingga untuk kedepannya mereka tidak akan salah lagi dalam menjawab pertanyaan yang seperti itu.
20. Tea Party (Pesta Minum Teh)
Pada model pembelajaran kooperatif tipe tea party, siswa membentuk dua lingkaran konsentris atau dua barisan di mana siswa saling berhadapan satu sama lain. Guru mengajukan sebuah pertanyaan (pada bidang mata pelajaran apa saja) dan kemudian siswa mendiskusikan jawabannya dengan siswa yang berhadapanan dengannya. Setelah satu menit, baris terluar atau lingkaran terluar bergerak searah jarum jam sehingga akan berhadapan dengan pasangan yang baru. Guru kemudian mengajukan pertanyaan kedua untuk mereka diskusikan. Langkah-langkah seperti ini terus dilanjutkan hingga guru selesai mengajukan 5 atau lebih pertanyaan untuk didiskusikan. Untuk sedikit variasi dapat pula siswa diminta menuliskan pertanyaan-pertanyaan pada kartu-kartu untuk catatan nanti bila diadakan tes.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah,
Model pembelajaran yang seperti ini dapat diterapkan Dalam pembelajaran sejarah karena akan ada interaksi antara siswa dengan siswa dalam belajar, sehingga berbagai pendapat akan keluar dari masing-masing anak, sehingga anak-anak dapat berpikir secara kritis dan analitis.
21. Write Around (Menulis Berputar)
Model pembelajaran kooperatif tipe write around ini cocok digunakan untuk menulis kreatif atau untuk menulis simpulan. Pertama-tama guru memberikan sebuah kalimat pembuka (contohnya: Bila kamu akan berulang tahun, maka kamu akan meminta hadiah berupa...). Mintalah semua siswa dalam setiap kelompok untuk menyelesaikan kalimat tersebut. Selanjutnya mereka ia menyerahkan kertas berisi tulisannya tersebut ke sebelah kanan, dan membaca kertas lain yang mereka terima setelah diserahkan oleh kelompok lain, kemudian menambahkan satu kalimat lagi. Setelah beberapa kali putaran, maka akan diperoleh 4 buah cerita atau tulisan (bila di kelas dibentuk 4 kelompok). Selanjutnya beri waktu bagi mereka untuk membuat sebuah kesimpulan dan atau mengedit bagian-bagian tertentu, kemudian membagi cerita atau simpulan itu dengan seluruh kelas. Write around adalah modifikasi dari model pembelajaran kooperatif go around.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model pembelajaran yang seperti ini cocok digunakan dalam pembelajaran sejarah, karena siswa dapat membuat kesimpulan dari kalimat yang disampaikan oleh gurunya, kemudian siswa melanjutkannya kepada teman yang ada disebelahnya, sehingga interaksi antara siswa dengan siswa dapat berjalan dengan lancar. Dan mereka dapat menceritakan apa yang mereka dapatkan atau yang mereka simpulkan dapat diceritakan kepada seluruh teman-temannya didepan kelas.
22. Round Robin Brainstorming atau Rally Robin
Contoh pelaksanaan model pembelajaran kooperatif Round Robin Brainstorming misalnya : berikan sebuah kategori (misalnya “nama-nama sungai di Indonesia) untuk didiskusikan. Mintalah siswa bergantian untuk menyebutkan item-item yang termasuk ke dalam kategori tersebut.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model pembelajaran ini dqpat digunakan didalam pembelajaran sejarah karena siswa akan melakukan diskusi tentang sebuah kategori misalnya menyebutkan berbagai pahlawan revolusi, kemudian siswa mendiskusinya.
23. LT (Learnig Together)
Orang yang pertama kali mengembangkan jenis model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (Belajar Bersama) ini adalah David johnson dan Roger Johnson di Universitas Minnesota pada tahun 1999. Pada model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together, siswa dibentuk oleh 4 – 5 orang siswa yang heterogen untuk mengerjakan sebuah lembar tugas. Setiap kelompok hanya diberikan satu lembar kerja. Mereka kemudian diberikan pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. Pada model pembelajaran Kooperatif dengan variasi seperti Learning Together ini, setiap kelompok diarahkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan untuk membangun kekompakan kelompok terlebih dahulu dan diskusi tentang bagaimana sebaiknya mereka bekerjasama dalam kelompok.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah karena siswa dituntut untuk belajar bersama untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu, yang mana tugas tersebut akan di seleksi mana yang baik dan yang kurang, sehingga bagi kelompok yang tugasnya terbaik akan diberikan penghargaan yang nantinya penghargaan tersebut akan memotivasi siswa dalam melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.
24. Student Team Learning (STL - Kelompok Belajar Siswa)
Model pembelajaran kooperatif tipe student team learning ini dikembangkan di John Hopkins University – Amerika Serikat. Lebih dari separuh penelitian tentang pembelajaran kooperatif di sana menggunakan student team learning. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif yang satu ini sama saja dengan model pembelajaran kooperatif yang lain yaitu adanya ide dasar bahwa siswa harus bekerjasama dan turut bertanggungjawab terhadap pembelajaran siswa lainnya yang merupakan anggota kelompoknya. Pada tipe STL ini penekanannya adalah bahwa setiap kelompok harus belajar sebagai sebuah tim. Ada 3 konsep sentral pada model pembelajaran kooperatif tipe STL ini, yaitu: (1) penghargaan terhadap kelompok; (2) akuntabilitas individual; (3) kesempatan yang sama untuk memperoleh kesuksesan. Pada sebuah kelas yang menerapkan model pembelajaran ini, setiap kelompok dapat memperoleh penghargaan apabila mereka berhasil melampaui ktiteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Akuntabilitas individual bermakna bahwa kesuksesan sebuah kelompok bergantung pada pembelajaran yang dilakukan oleh setiap individu anggotanya. Pada model pembelajaran tipe STL, setiap siswa baik dari kelompok atas, menengah, atau bawah dapat memberikan kontribusi yang sama bagi kesuksesan kelompoknya, karena skor mereka dihitung berdasarkan skor peningkatan dari pembelajaran mereka sebelumnya.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model ini dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah, karena setiap siswa harus bertanggungjawab terhadap kelompok mereka masing-masing, harus adanya kerja sama dalam kelompok mereka, sehingga kelompok mereka akan mendapat dalam melakukasn diskusi, karena adanya kerja sama yang baik diantara siswa tersebut, dan mereka dapat belajar dari kelompok yang tidak bertanggung jawab serta tidak bekerja sama yang mana kelompok tersebut tidak mendapatkan penghargaan. Seperti membuat suatu makalah, yang mana makalah tersebut akan dinilai baik apabila ada kerja sama serta pertanggung jawaban dari kelompok masing-masing.
25. Two Stay Two Stray
Model pembelajaran kooperatif two stay two stray ini sebenarnya dapat dibuat variasinya, yaitu berkaitan dengan jumlah siswa yang tinggal di kelompoknya dan yang berpencar ke kelompok lain. Misalnya: (1) one stay three stray (satu tinggal tiga berpencar); dan (2) three stay one stray (tiga tinggal satu berpencar). Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dikembangkan pertama kali oleh Spencer Kagan (1990). Dengan struktur kelompok kooperatif seperti tipe two stay two stray ini dapat memberikan kesempatan kepada tiap kelompok untuk saling berbagi informasi dengan kelompok-kelompok lain.
Penerapan dalam pembelajaran sejarah:
Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah karena siswa dituntut untuk bekerja sama dalam suatu kelompok mereka masing-masing, sehingga akan memberi informasi kepada kelompok lain tentang apa yang mereka dapatkan didalam kelompok mereka.
hubungan luar negeri Australia dan Indonesia pada masa Orde Baru
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan karuniannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Sejarah Australia – Oceania yang berjudul Hubungan Luar Negeri Australia – Indonesia.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan tugas makalah ini, tanpa bantuan beliau mungkin penulis akan diliputi keraguan dan kebimbangan didalam penulisan makalah ini.
Disamping itu penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya serta tanggapan yang sifatnya membangun. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan Mahasiswa atau pada umumnya.
Padang, 05 Mei 2013
Kelompok 7
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hubungan luar negeri Indonesia dengan Australia sudah berlangsung sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Sebagai negara yang memiliki kedekatan geografis dan bertetangga, ada asumsi umum bahwa hubungan Indonesia – Australia disebut “Strange Neighbors”
Selama setengah abad pertama eksistensi Indonesia, kondisi hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia bervariasi dan sulit untuk di prediksi dari hubungan yang cukup hangat (selama tahun-tahun perjuangan kemerdekaan dan periode Orde) hingga ketegangan yang cukup tinggi (fase militer konfontasi dan ketidak sepakatan mengenai Timor-Timur), pertentanga tersebut memerlukan pendekatan diplomatik yang besar unutk membawa hubungan tersebut kembali ke tingkat hubungan yang lebih baik.
Namun, pada pertengahan dekade 1950-an hubungan baik tersebut mulai menurun dikarenakan pergantian kekuasaan pada pemerintahan di Australia pada tahun 1949, dari pemerintahan buruh ke pemerintahan koalisi yang lebih konservatif dan sebagian disebabkan oleh kecendrungan Indonesia di bawah pimpinan Soekarno untuk menjauh dari sistem pemerintaha parlementer yang diwarisi dari Belanda menuju sebuah sisitem pemerintahan yang lebih otoritarian dan membuka jalan bagi Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk meningkatkan peranannya dalam politik Indonesia.
Pada awal era 1960-an, hubungan keduanya mencapai titik terendah yang ditandai dengan keberatan pemerintahan Australia atas klaim Indonesia terhadap Irian Barat dan dukungan Australia terhadap pembentukan Federasi Malaysia yang sangat ditentang Indonesia. Hal ini merupakan akibat dari kepemimpinan Soekarno yang radikal dan konfrontasi. Dan politik konfrontsi ini berakhir setelah pemerintahan Orde Lama jatuh, dan pemerintahan Indonesia bertekad melaksanakan dan mempertahankan Orde Baru.
B. Batasan Masalah
Jika dilihat pada latar belakang masalah diatas, maka kajian ini dibatasi untuk membahas tentang Hubungan Luar Negeri Australia-Indonesia masa Orde Baru (1966-1998).
.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Keadaan Indonesia masa pemerintahan Orde Baru (1966-1998)
2. Hubungan Luar Negeri Australia – Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
HUBUNGAN LUAR NEGERI AUSTRALIA DAN INDONESIA MASA ORDE BARU (1966-1998)
1. Keadaan pemerintahan Indonesia dalam tahun 1966-1998
Pada tahun 1966-1998 dikenal dengan masa Orde Baru, yaitu pada masa pemerintahan Soeharto. Politik luar negeri pada masa Soeharto memimpin di tandai dengan politik bebas aktif. politik luar negeri Indonesia harus berdasarkan kepentingan nasional, seperti permbangunan nasional, kemakmuran rakyat, kebenaran, serta keadilan.
Pada masa pemerintahan Soeharto, terkenal dengan kabinet Ampera atau dwi darma kabinet Ampera yaitu untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi sebagai persyaratan untuk melaksenakan pembangunan nasional. Kabinet pembangunan pada tahun 1968 dalam sidang MPRS ada tugas lain pula yang di sebut pancakrida. Serta ketastabilan jalannya pemerintahan setelah PKI di bubarkan.
Pada masa orde baru sistem kelembagaan negara terdiri dari MPR, DPR, DPA, BPK, Preside n, dan MA. Hubungan diantara lembaga negara banyak didominasi oleh kekuasaan eksekutif yang dipegang oleh presiden. Oleh karena itu efektifitas pelaksanaan pemerintah tidak berjalan secara efektif karena hanya didominasi kekuasaan presiden.
2. Australia dan Indonesia pada tahun 1966-1998
Hubungan awal antara Jakarta dan Canberra, baik. Namun, hubungan tersebut membeku ketika Jakarta menjalankan politik luar negeri secara militan. Kampanye yang dilakukan Indonesia dalam upaya untum pembebasan Irian Barat membuat adanya ketegangan antara Jakarta dengan Australia, karena Canberra menaruh perhatian atas Papua New Guinea, yang merupakan bagian dari Australia pada saat itu. Hal ini membuat kecurigaan di pihak Australia karena mereka khawatir ia tidak hanya berhenti di Irian Barat. Hal itu diperkuat dengan adanya politik konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Hubungan antara Indonesia dan Australia mulai membaik setelah kejatuhan Soekarno dan muncul pemerintah baru Soeharto.
Pada tahun 1974, Portugal mengalami suatu revolusi yang menghasilkan keputusan untuk memberikan pemerintahan sendiri di koloninya, Timor Timur. Proses dekolonialisasi tersebut berjalan lancar. Terjadinya perseteruan dalam negeri dan kemunculan Fretilin dipandang oleh rezim Soeharto sebagai ancaman terhadap stabilitas politik Indonesia. Jakarta khawatir akan keberadaan Timor Timur yang merdeka di bawah Fretilin yang nantinya akan menjadi kuba di Asia Tenggara. Indonesia mengintervensi dan akhirnya memasukkan bekas koloni Portugis kedalam Republik.
Ketika Perdana Menteri Australia, Gough Whitlam (partai buruh) mengunjungi Indonesia, Soeharto mengantakan kepada Whitlam tentang isu Timor Timur. Australia menyetujui untuk mengintegrasi wilayah ini secara damai kedalam wilayah Indonesia. Tetapi, ketika Indonesia menduduki Timor Timur dengan kekrasan dan Australia menolak hal itu. Pemerintahan Partai Buruh bertindak kritis terhadap tindakan Indonesia tersebut di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dan hal ini dikatakan sebagai penyebab memburuknya hubungan jakarta-Canberra yaitu dengan meninggalnya liam wartawan Australia yang yang sedang meliputi suatu peristiwa di Timor Timur. Mereka manyaksikan invasi Indonesia dan diyakini mereka di bunuh oleh tentara Indonesia.
Pemerintah mengizinkan pengungsi memasuki Australia dna meminta Indonesia mengizinkan kepada masyarakat Timor Timur memiliki keluarga di Australia untuk berimigrasi. Pada bulan Agustus 1976, setelah integrasi Timor Timur, Perdana Menteri dari Partai Liberal, Malcolm Fraser, membuat pernyataan tentang kepemimpinan Indonesia yang tidak efektif. Hal itu membuat gusar pemerintah Indonesia. Australia menyadari bahwa kerusakan telah terjadi, dan ia bergerak untuk mengunjungi Indonesia guna unutk memperbaiki hubungan keduanya, ia memutuskan untuk mengunjungi Jakarta. Sebelum diadakannya kunjungan, pemerintah Australia menutup radio di pengasingan Fretilin di Darwin dan menghubungkannya kepada PMI unutk Timor Timur. Pengakuan secara de jure atas tambahan wilayah Timor Timur bagi Indonesia tahun 1978, supaya pembicaraan bisa dimulai mengenai celah Timor di perbatasan bawah laut, namun Jakarta menolak hal itu sebelum kedaulatannya diakui.
Pada tahun 1977, mantan konsul Australia di Timor Timur, James Dunn, yang memberi kesaksian nyata atas kekejaman Indonesia Di Timor Timur di depan senat Amerika, dan Indonesia protes dengan pernyataan ini. Hal ini penyebab rusaknya hubungan Jakarta-Canberra. Awal tahun 1980-an, Canberra menerima dan mengakui integrasi Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia. Tetapi, pada tahun 1984, Jakarta marah kepada Canberra atas kunjungan Perdana Menteri Fretilin ke Auatralia, dan menganggap pemberian visa kepada Jose Ramos Horta adalah tindakan permusuhan. Keadaan semakin memburuk ketika Menteri Luar Negeri Australia, Bill Hayden, berkomentar bahwa Australia akan tetap mengkritik Indonesia selama kegiatan “pasukan kematian (death squad) terus berlangsung di Timor Timur.
Awal tahun 1986, dua wartawan Australia yang bekerja pada media Amerika Serikat dilarang meliput kunjungan Presiden reagen ke Indonesia akibat dari “peristiwa Dawid Jenkins”. Editor The Sydney Morning Herald, menulis dua artikel bersambung 10 April 1986 yang isinya menangkap jaringan usaha keluarga Soeharto. Dalam pengantarnya, Jekins membandingkan Soeharto dengan Marcos (Filipina). Kejadian ini membuat pemerintah Indonesia sangat marah dan melarang seluruh wartawan Australia memasuki Indonesia untuk meliput kedatangan Reagen.
Munculnya artikel tersebut, Dr. B.J. habibie, menteri riset dan teknologi, membatalkan kunjungannya yang sudah di jadwalkan ke Australia, serta program kerja sama pertahanan antara Jakarta dan Canberra di batalkan. Hal ini terjadi pada bulan September 1986. Sikap keras Jakarta dikaitkan dengan Departemen Pertahanan sebagai suatu bentuk protes buku Robison. Menjelang akhir bulan Oktober, Menteri Industri Utama Austalia, Jonh Kerin, mengunjungi Indonesia dan melakukan pembicaraan dengan presiden Soeharto, hal ini adalah indikasi dari perbaikan hubungan antara dua negara. Laporan dari Paul Dibb dan White Paper dari Departemen Pertahanan Australia, yang mengusulkan agar pertahanan Australia memperhitungkan ancaman potensial, yang salah satunya datang dari Indonesia. White Paper mengusulkan agar Australia mempertahankan bagian utara wilayahnya dengan mendirikan unit-unit kapal laut yang mampu beroperasi jarak jauh. Hal ini menyebabkan kembali menegangnya hubungan antara Jakarta-Canberra. Setelah Ali Alatas menjadi Menteri Luar Negeri (maret 1988) hubungan Jakarta-Canberra semakin membaik, karena hubungan pribadi yang baik antara Alatas dengan beberapa pemimpin Australia, terutama Menteri Luar Negeri Gareth Evans. Para Menteri Australia mulai berkunjung ke Indonesia, dan pada akhirnya, Kepala Staf Australia diundang ke Jakarta dna dibalas denga kunjungan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Indonesia ke Australia.
Terobosan penting dalam hubungan antara Jakarta dan Camberra terjadi ketika Menteri Luar Negeri dari dua negara menandatangani Perjanjian Celah Timor pada bulan Desember 1989. Persetujuan ini memberi izin kepada kedua negara untuk melakukan eksploerasi dan menggali Celah Timor, yang kaya akan minyak, dan menangguhkan suatu penyelesaian atas masalah perbatasan yang tumpang tindih.
Isu Timor Timur muncul kembali ketika pembantaian terhadap masyarakat Timor Timur yang terjadi pada bulan November 1991. Aksi unjuk rasa berlangsung didepan Kedutaan Indonesia di Canberra. Para pengunjuk rasa membakar bendera Indonesia, sehingga menimbulkan ketegangan anatara Jakarta-Canberra. Evants dikirimkan ke Indonesia unutk menunjuk keprihatinan Australia, namun ia gagal bertemu Presiden Soeharto, menteri pertahanan, Benny Moerdani dan Kepala Staf Angkatan Darat, Try Sutrisno.
Peristiwa Dilli membuat hubungan kedua negara menjadi tegang. Perdana Menteri baru, Paul Keating, berkeinginan memperbaiki hubungan Indonesia dengan Australia. Tanggal 21-24 April 1992, Keating akan mengunjungi Indonesia unutk membicarakan pembentukan “suatu dasar yang kuat bagi hubungan jangka panjang diantara dua negara”. Ketika Duta Besar baru, Letnan Jendral Herman Mantiri, yang membuat pernyataan yang kontroversial setelah peristiwa Dilli, akan dikirim ke Canberra, ada oposisi yang kuat di Australia. Namun, Keating menolak memveto penunjukan tersebut, meskipun disyaratkan bahwa akan sulit bagi duta yang baru menjalankan tugasnya dalam keadaan yang seperti itu.
Keating percaya bahwa ada kaitan alamiah dari kepentingan Indonesia, Vietnam, dan Australia. Unsur kuat Politik Luar Negeri Indonesia dan Vietnam adalah untuk membentuk “suatu blok kepentingan ekonomi non-Cina” yang meliputi Indonesia, Vietnam, dan Australia, karena Australia tidak ingin masuk orbit Cina.
Dari segi politik, Australia dan Indonesia bekerja sama secara erat dalam menyelesaikan masalah Kamboja. Hubungan ekonomi yang masih lemah di upayakan untuk ditingkatkan melalui hubungan antara pengusaha Australia dan Indonesia serta Ministerial Forum yang secara bergantian diadakan di Indonesia dan Australia, dari segi sosial budayanya, dibentuk Australia-Indonesia Institute dan beasisiwa untuk mahasiswa Indonesia belajar ke Australia. Hubungan bilateral ini semakin kuat bukan saja dari segi ekonomi, politik, sosial budaya, tetapi dari segi keamanan. Di penghujung tahun 1995, Australia dan Indonesia mengikat diri dalam satu perjanjian keamanan yang formal.
Pada tanggal 18 Desember 1995, Australia menandatangani suatu perjanjian keamanan dengan Indonesia, dan sepakat bahwa kedua negara akan berkonsultasi secara teratur mengenai masalah keamanan bersama dan untuk mendorong kerja sama keamanan. Perjanjian ini juga menegaskan “menghormati keamanan mereka terhadap kedaulatan, kemerdekaan politik dan keutuuhan wilayah dari seluruh negara”. Bagi Soeharto ini lah perjanjian pertama yang di setujui dengan negara barat, yang berarti hubungan Cenberra dan jakarta membaik, dan pengakuan Soeharto bahwa Indonesia memiliki kepentingan keamanan bersama dengan Australia.
Dari Australia, perjanjian ini berarti hadiah natal dan tahun baru dari negara terdekat yang selama ini sangat di takutinya. Pemerintah Buruh Australia di bawah Paul John Keating dapat mempertanggungjawabkan kepada rakyatnya, bahwa ia telah mampu membangun pilar terakhir dalam hubungan Australia-Indonesia, yaitu pilar pertahanan/keamanan.
Dalam kurun waktu 1988-1995, sejak naiknya Menlu Gareth Evans menggantikan Bill Hayden, pemerintah Buruh Australia berupaya membangun empat pilar utama dalam hubungan Jakarta-Canberra, yaitu:
• Pilar politik. Australia menginginkan adanya “special inter-personal relationship” (hubungan antar pribadi yang bersifat khusus) antara pemerintah Australia dan Indonesia.
• Pilar ekonomi. Kedua negara berupaya meningkatkan kerjasama ekonomi baik pada tingkat bilateral maupun dalam kerangka multilateral (APEC).
• Pilar sosial budaya. Pemerintah Australia membentuk Australia – Indonesia Institute pada 1989 untuk mempererat hubungan kebudayaan kedua negara.
• Pilar pertahanan/keamanan. Australia menginginkan adanya suatu perjanjian yang mengikat kedua negara dalam bentuk Joint Declaration of Principles, seperti antara Australia dengan Papua Nugini. Perjanjian seperti ini mencakup berbagai aspek, yakni ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan, dan bisa menjadi payung bagi kerja sama bilateral Australia-Indonesia.
Keinginan Australia untuk memiliki perjanjian keamanan yang begitu luas dengan Indonesia pada 1986 tersebut didasari oleh dua hal, yaitu pentingnya Indonesia sebagai negara penyangga yang kuat di Asia Tenggara atas serangan dari negara-negara asing dan masih adanya anggapan bahwa “Indonesia adalah negara dari dan melalui mana serangan terhadap Australia bisa dilakukan”.
Perjanjian keamanan Indonesia-Australia merupakan bagian dari langkah-langkah membangun keamanan dan kepercayaan di antara negara-negara di Asia Pasifik (Asia Pacific Confidence and Security Building Measures – CSBM). Artinya, perjanjian ini merupakan perjanjian bilateral yang bersifat formal antara kedua negara untuk mencegah atau menyelesaikan ketidaktentuan antar negara, termasuk hal politik dan militer.
BAB III
KESIMPULAN
Hubungan Luar Negeri Australia dengan Indonesia telah dipengaruhi oleh sikap Indonesia atas keamanan dan pengaruhnya di wilayah bagian selatan. Militer Indonesia trelibat intens dalam perumusan Politik Luar Negeri. Hal inin terlihat pada pendekatan Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan selalu bersebrangan. Buktinya adalah pada awalnya, militer Indonesia berkuasa. Tetapi, secara bertahap, Departemen Luar Negeri Indonesia yang didukung oleh Presiden, mampu menuntut lebih banyak pengaruh. Hubungan tampak erat ketika Paul Keating menjadi Perdana Menteri, karena strateginya, ia melihat Indonesia dan Vietnam sebagai mitra ekonomi dan politik alamiah Australia. Namun demikian, perbedaan budaya dari negara-negara tersebut, demokrasi barat dan otoriterianisme Asia masih menjadi sumber konflik utama antara Indonesia dan Australia dimasa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Suryadinata, Leo. 1998. Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Soeharto. Jakarta: PT
Pustaka LP3ES Indonesia.
Critchley, Susan. 1995. Hubungan Australia dengan Indonesia: Faktor Geografis, Politik
dan Strategi Keamanan. Jakarta: Universitas Indonesia PRESS (UIP).
Siboro, J. 1989. Sejarah Australia Jakarta: Proyek Pengembangan Tenaga Kependidikan.
Siboro Julius. 2012 . Sejarah Australia. Yogyakarta: Ombak.
dampak dampak tanam paska
DAMPAK-DAMPAK TANAM PAKSA
Tanam paksa yang direncanakan Bosch pada dasarnya sudah baik rumusannya, tetapi dalam pelaksanaannya hal tersebut tidak dapat dilakukan sesuai harapan. Karena permasalahannya terdapak oknum yang bertugas melaksanakan tugas tersebut. Tetapi karena di cita-citakan dan dorongan yang mereka dapatkan sehingga pelaksanaannya tidak sesuai dengan harapan. Ditambah dengan budaya korupsi yang belum hilang dari masa sebelumnya. Hal ini yang membuat gagalnya sistem yang telah dirancang oleh Bosch. Mungkin apabila penangnannya bagus maka sisitem ini akan berjalan sesuai dengan mestinya. Dan karena tidak berjalan dengan semestinya timbul banyak dampak yang membertakan bagi penduduk. Maka adanya dampak-dampak yang dirasakan oleh rakyat dan tidak dapat dihindari lagi.
Dari pelaksanaan sisitem tanam paksa yang tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan sehingga pelaksanaannya melenceng dari apa yang diharapakan. Karena masalah-masalah dari pelaksanaan tersebut timbullah akibat-akibat tanam paksa, diantaranya adalah:
1. Karena untuk memenuhi kebutuhan pokok perdagangan yaitu tanaman eksport, petani lebih fokus untuk menenami tanaman eksport yang tanahnya diambil dari sawah-sawah yang mereka miliki, sehingga tanah untuk menanam padi berkurang. Sedangkan petani juga perlu menanam padi unutk kebutuhan mereka.
2. Setelah adanya sisitem tanam paksa yang memberatkan rakyat ternyata pemerintahy koloni dan kepala rakyat menambah pekerjaan lagi dengan pekerjaan rodi. Pekerjaan rodi yang meliputi pembangunan dan pemeliharaan umum, seperti: jalan-jalan, waduk, dll. Hal ini sungguh memberatkan rakyat dengan pekerjaan yang makin bertambah.
3. Pekerjaan rosi untuk pembangunan dan memlihara benteng-benteng untuk kolonial. Untuk pekerjaan ini diambil penduduk setempat dari tempat yang jauh. Karena pekerjaan rodi yang berat perawatan kesehatan sangat kurang, sehingga banyak penduduk yang meninggal akibat penyakit, kekurangan maklanan, dll.
4. Peningkatan produksi sehingga penanaman silih berganti antara Jawa, panen nti ditanah yang sama dan perbaikan irigasi. Tetepi, hal ini hanya terjadi di jawa timur, sedangkan didaerah lain karena pemerintah koloni lebih memfokuskan pada penanaman eksport sehingga tidak melihat kelemahan yang ditimbulkannya yang terjadi di Cirebon. Cirebon yang dipaksa membayar pajak dengan beras padahal daerah mereka paling sedikit menghasilkan beras. Tahun 1843 di pantai utara jawa, panen padi gagal, sehingga rakyat cirebon kelaparan. Banyak penduduk yang menungsi dan ada sebagian penduduk yang lemah meninggal dipinggir jalan.
5. Tragedi serupa terjadi di Demak tahun 1849 dan di Grebongan tahun 1850. Akibat kegagalan panen dan wabah kelaparan, banyak penduduk yang mengungsi.
6. Disamping bekerja sesuai debgan tuntutan tanam paksa, maka rakyat juga melakukan rodi untuk kepala-kepala daerah mereka, sehinnga tak ada waktu unutk kpentingan diri sendiri. Hal-hal tersebut diatas menyebabkan timbulnya kelaparan dimana-mana seperti di Cirebon (1844), Demak (1848), dan Grobogan (1849-1850).
7. Pajak disewakan kepada pemerintah kepada orang Cina (pajak potongan pasar, keadi dll). Terlalu tinggi dibandingkan dengan kesanggupan rakyat.
8. Setelah penanaman jati, juga menjadi tanaman paksa (Cirebon daerah percontohan), Maka rakyat daerah ini mekin menderita ketika terjadi bahaya kelaparan, beribu-ribu orang meninggal.
Tetapi dengan banyaknya dampak dari tanam paksa yang terjadi di Indonesia, Belnada justru tidak tau-menau tentang penderitaan yang dihadapi rekyat tersebut. Bagi akibat dari tanam paksa ini meningkatkan tingkat kemakmuran Belanda. Dengan dampak yang timbul Belanda mencoba mengurangi dan meringankan pekerjaan rakyat dengan sistem tanam paksa ini, tetapi hal tersebut tidak berhasil dicapai sehingga Belanda membuat sistem baru.sisitem ini sungguh menolak sisitem tanam paksa yang menurutnya memberatkan rakyat. Sisitem ini adalah liberal yaitu pengurangan pearn pemerintah dalam perekonomian negara jajahan secara drastis, pembebasan dari pembatas-pembatas atas perusahaan swasta di Jawa, serta akhirnya kerja paksa dan penindasan terhadap orang-orang sunda dan jawa.
DAFTAR PUSTAKA
Pusponogoro, Marwati Djoened dan Nugroho Noto Susanto. 1984. Sejarah Nasional
Indonesia IV. Jakarta: Balai Puastaka.
Dekker, Nyoma. 1975. Sejarah Indonesia Dalam Abad XIX 1800-1900. Malang:
Lembaga Pemerintah ALMAMATER.
perkembangan awal kehidupan masyarakat dalam berbagai daerah di Amerika Utara
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Dimana dengan adanya kita mempelajari tentang perkembangan awal kehidupan masyarakat dalam berbagai daerah di amerika utara kita dapat mengetahui bagai mana kehidupan orang-orang amerika pada waktu itu, siapa penemu dan penghuni pertama benua amerika.
.
2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Penduduk asli orang amerika
a. Kedatangan orang indian
b. Kebudayaan maya, incha-aztec
2. Penemuan benua amerika
a. Latar Belakang Kedatangan Orang Eropa Dan Daerah Yang Ditemukannya
b. Penjelajahannya : Spanyol, Portugis, Perancis, dan Inggris
BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN AWAL KEHIDUPAN MASYARAKAT DALAM BERBAGAI DAERAH DI AMERIKA UTARA
1. PENDUDUK ASLI AMERIKA
a. Kedatangan Orang Indian
Pada puncak zaman es antara tahun 34.000 sampai dengan 30.000 SM sebagian besar air bumi tertahan dalam lembaran-lembaran es yang maha luas akibatnya laut bering berada lebih rendah dari permukaannya sekarang dan sebuah daratan yang dikenal sebagai beringnia muncul antara asia dan amerika utara. Tundra lembah tanpa pepohonan yang diselimuti rumput dan perdu menarik minat hewan-hewan besar yang diburu manusia zaman itu untuk makanan mereka. Orang-orang pertama yang mencapai amerika utara hampir pasti melakuakannya tanpa menyadari bahwa mereka telah menyeberang kebenua baru. Mereka pada saat itu mengikuti binatang buruan. Mereka menyusuri pantai siberia dan kemudian melintasi daerah penyeberabangan. Orang menduga bahwa penduduk asli orang indian telah berimigrasi dari asia utara ke alaska dan dari sana keselatan kedaerah-daerah yang lebih panas. Bentuk badan orang-orang indian dengan rambutnya yang hitam, warna kulit tembaga, dan tulang pipi yang tinggi menimbulkan dugaan bahwa mereka berasal dari asia.
Orang-orang kulit putih yang pertama kali menyaksikan pantai amerika adalah orang-orang nor dari skandavia yang dengan pakal-kapal dagangnya yang bulat, bertiang satu dengan berani mengarungi laut es utara dan tiba di greendland kira-kira pada tahun 985 M. Dari pulau yang luas ini kapal-kapal mereka mengarungi lautan lebih jauh lagi kearah barat, dan ada bukti bahwa pada tahun 1000. Leif Ericson dan yang lain-lain lagi benar-benar telah mendarat di yang sekarang dinamakan Amerika Serikat.
Apapun yang telah di capai orang-orang nor, mereka tidak sanggup untuk mempertahankan tempat kediaman di dunia baru atau untuk meninggalkan bukit-bukit yang tertulis atau yang dapat di percayai tentang perjalanan mereka. Yang telah datang melihat, menerangkan dan membantu mengkolonialisasi hindia barat di dalam tahun 1490-1500 harus diberikan kehormatan dan membuka amerika.
b. Kebudayaan Maya, Incha-Aztec
a. Kebudayaan maya
Suku Maya mendiami daerah Meksiko Selatan dan bagian-bagian Amerika Tengah lainnya. Pusat kebudayaannya terdapat di Semenanjung Yukatan. Kota paling awal berdirinya diperkirakan pada abad ke-3 di hutan Guatemala yang lebat dan yang terakhir diperkirakan dibangun pada abad ke-10 dan abad ke-11 pada sebuah dataran di Yukatan bagian Utara. Kota-kota ini merupakan peninggalan orang-orang Maya yang memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi dengan catatan arsitektur paling beraneka ragam dan paling maju. Kebudayaan suku Maya ini berkembang dari abad ke-1 S M sampai mulainya penggalan Masehi.
Kebudayaan Maya berpusat pada kehidupan agraris. Mereka menanam jagung, merica dan buah-buahan. Mereka memelihara kalkun dan anjing serta menangkap ikan di sepanjang pantai. Mereka juga memintal kapas dan menjualnya ke tempat lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orang-orang Maya melakukan kegiatan perdagangan selain bertani. Mereka membawa barang dagangannya langsung pada pembeli yang jaraknya sangat jauh di Amerika Tengah.
Bangsa Maya kuno membangun sebuah monumen dan mendirikan kota batu megah untuk para dewa. Sedikitnya ada 80 situs penting peninggalan orang-orang Maya bertebaran di Amerika Tengah. Beberapa situs kuil bertinggi lebih dari 60 meter.
Kebudayaan Maya berkembang dengan subur terutama di Guatemala dan Yukatan. Walau demikian, kebudayaan itu dipengaruhi kuatnya kebudayaan Teotihuakan dari Meksiko bagian tengah. Sebagai salah satu kota terbesar di dunia, kota Teotihuakan pada masa puncaknya dihuni oleh sekitar 100.000 penduduk yang tinggal di dalam Adobe atau rumah-rumah dari bata mentah dan memuja dewa di piramid besar dari batu yang sampai kini masih banyak ditemukan di dekat kota Meksiko. Dari abad ke-4 sampai abad ke-8 pengaruhnya menyebar di Amerika Tengah. Para arsitek serta tukang mencontoh pola bangunan dan pola hiasannya. Bahkan setelah Toetihuakan jatuh ke tangan orang-orang yang belum beradab pada tahun 700, wibawanya masih tetap hidup.
Sebagian besar bangunan yang berjumlah lebih dari 200 di Kaminaluyu sebagai tempat peninggalan purbakala suku bangsa Maya di pinggir batar daya kota Guatemala yang dibangun pada masa itu. Yang terbesar di antaranya adalah batu berbentuk piramid yang tingginya lebih dari 26 meter dengan dua ruang makam di dalamnya. Tubuh raja diletakkan di atas panggung kayu di pusat salah satu ruang makam. Mayat ini dikitari tubuh-tubuh lain yang diduga jenazah orang-orang yang dikurbankan untuk mengawal rajanya menempuh perjalanan ke dunia lain. Di dalam ruangan ini juga ditemukan hiasan dari batu-batu berharga, tulang dan kulit kerang, serta berang pecah belah yang menunjukan kekayaan kebudayaan tersebut.
Reruntuhan Uaxactun adalah peninggalan di daerah Maya bagian tengah yang umurnya lebih muda. Salah satu bangunan yang berupa pelataran bekas kaki kuil berbentuk piramid bertangga terpancang dengan tampak muka berhias. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 250 Masehi. Peninggalan semacam ini ditemukan ini juga di daerah Maya bagian utara.
Pada jaman Klasik, tahun 300-500, kebudayaan suku bangsa Maya di daerah tengah mengalami puncak kejayaan. Arsitekturnya berkembang dengan adanya peningkatan mutu bangunan. Salah satu cirinya adalah dikembangkannya bangunan batu yang sebagian besar merupakan bangunan suci seperti kuil atau biara. Kuil di Tikal yang tingginya mencapai sekitar 888 meter adalah kuil tertinggi. Biara dalam kebudayaan Maya kadang-kadang mencakup area yang sangat luas sehingga menyerupai kota, lebih cocok disebut tempat pusat upacara keagamaan dilangsungkan. Namun antara tahun 800 sampai 950, pusat kegamaan tersebut satu-persatu dilupakan dan ditinggalkan orang. Bangsa Maya mengalami keruntuhan karena penaklukan pasukan Hernando Cortez pada tahun 1521.
b. Kebudayaan incha-aztec
Inca merupakan sebuah kelompok klan yang mula-mula mendiami daerah Peru. Menurut legenda, asal-usul suku bangsa Inca berawal dari sekelompok anak dewa matahari, yang berasal dari sebuah gua di sebelah tenggara kota Cuzco. Bangsa Inca telah mendiami daerah Cuzco sejak kira-kira tahun 1200. tetapi sejak penaklukan oleh kekuasaan Panchacuti dalam tahun 1438, bangsa Inca mulai memperluas wilayahnya dengan menaklukan daerah-daerah sekitarnya. Akhirnya mereka membentuk suatu wilayah kekuasaan besar dan luas yang membentang dari Quito di Utara sampai Chile bagian tengah. Bahasa Inca menyebut wilayah kekuasaannya Tabuantisuyu, artinya daerah yang meliputi empat wilayah. Nama itu menunjukan bahwa seluruh wilayah kekuasaan bangsa Inca terbagi menjadi menjadi empat geografis, yang dibagi menjadi lebih dari 80 propinsi. Penguasa tertinggi berada di tangan seorang pemimpin yang dianggap sebagai wakil dewa matahari.
Kebudayaan Inca berkembang di sepanjang belahan barat Amerika Serikat terutama Peru. Bukti-bukti arkeologis mengenai keberadaan kebudayaan Inca, yang berasal dari fase Killke (1200-1380), ditemukan di daerah sekitar Cuzco di dataran tinggi Peru bagian selatan. Berdasarkan hasil evakuasi terhadap sistus-situs di daerah tersebut diperoleh gambaran bahwa Inca ketika itu hanyalah merupakan suatu wilayah yang kecil saja.
Seperti halnya suku bangsa lainnya Amerika, bangsa Inca memiliki watak militer sehingga perluasan wilayah Imperium dilakukan dengan cara peperangan. Sejak kekuasaan dipegang oleh Pachacuti yang memerintah tahun 1438 1471, Inca memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukan daerah-daerah sekitarnya. Selama pemerintahan Topa Inca sebagai pengganti Pachacuti, wilayah kekuasaan Inca diperluas dengan manklukan daerah-daerah Pantai Peru bagian selatan, Bolivia Selatan., Argebtina barat laut, dan Chile. Pengganti Topa Inca adalah Huayna Capac yang memerintah dari tahun 1493 sampai tahun 1525 M. setelah meniggalnya Huayna Capac, terjadi perebutan kekuasaan antara Huascar dan Attahualpa.
Bangsa Inca memiliki mata pencaharian dari kehidupan agraris atau pertanian. Sejak tahun 6001000 Masehi, bangsa Inca telah berkembang dalam bidang pertanian. Mereka membuat sistem terasering untuk menahan banjir. Untuk mengolah tanah, mereka menggunakan bajak yang terbuat dari perunggu. Tanaman yang bayak ditanam oleh masyarakat Inca adalah kacang-kacangan, jagung, merica, tomat, dan kentang. Hasil pertanian ini digunakan untuk mmenuhi konsumsi petani, juga untuk makan tentara dalam jumlah besar, golongan birokrasi dan ribuan buruh pabrik. Minuman khas dari bangsa Inca adalah Chica yaitu semacam bir yang terbuat dari jagung.
Bangsa Inca adalah bangsa yang bersifat nasional. Penggunaan bahasa nasional dipaksanakan oleh raja kepada penduduknya. Pada masa Topa Inca, bahasa Quechua ditetapkan sebagai lingua franca di seluruh wilayah Tahuanntinsuyu.
Bangsa Inca memiliki organisasi masyarakat yang teratur. Sebagai unit dasar atau paling bawah dari organisasi masyarakat Inca adalah ayllu, yaitu keluarga yang bersifat endogama berdasar garis keturunan laki-laki. Kelompok ayllu yang bersal dari satu wilayah kemudian membentuk kelompok lebih besar yang disebut saya. Tiap-tiap wilayah (propinsi) biasanya terdiri atas dua atau tiga wilayah administratif (waman). Kekuasaan tertinggi pemerintah Inca terdiri ada ditangan seorang kaisar yang menyatakan dirinya sebagai keturunan dewa matahari Inti. Oleh karena itu gelar yang dipakai penguasai Inca dalah Intip Cori (yang bererti Putra Dewa Matahari). Di bawahnya adalah pejabat yang disebut apo sebagai penguasa tiap-tiap wilayah bagian (4 wilayah). Di bawah apo ada tokrikoq yang menjadi penguasa tiap propinsi.
Bangsa Inca memiliki ilmu pengetahuan yang maju dan berkembang. Walaupun ilmu pengetahuan yang berkembang di Inca tidak dapat mengungguli perkembangan ilmu pengatahuan di Aztec dan Maya. Dalam bidang Matematika dan Astronomi bangsa Inca tidak dapat mengungguli kemajuan di Aztec dan Maya.
Bangsa Inca memiliki perkembangan yang pesat dalam bidang kesenian, terutama seni bangun. Seperti dalam pembuatan tekstil dan keramik, pembangunan benteng-benteng pertahanan, dan jalan-jalan raya yang lebar. Kemajuan bidang seni ini tidak dapat dipisahkan dari kemmapuan pemerintah mengatur masyarakat.
Dalam bidang sosial, raja sangat menarruh perhatian dalam hal perkawinan. Laki-laki atau perempuan yang sudah dewasa dan belum memiliki pasangan diplilihkan orang lain lain sebagai pendampingnya. Kemudian mereka dikawinkan dalam upacara umum.
Dalam bidang religi, bangsa Inca mempercayai dewa matahari. Raja-raja mereka dipercaya memiliki hubungan genealogis atau asal-usul keturunan dengan dewa matahari. Dewa matahari ternyata sangat besar pengaruhnya dalam masyarakat Inca dan bahkan pada masyarakat Inca terdapat suatu kepercayaan bahwa dewa Matahari itulah yang menurunkan keluarga raja Inca. Oleh karena itu, setiap raja yang sedang memerintah dipandang sama dengan dewa matahari. Tidak diketahui dengan pasti, apakah bangsa Inca juga melakukan upacara pengorbanan manusia seperti bangsa Aztec.
Di samping memuja dewa matahari, masyarakat Inca juga melakukan pemujaan terhadap roh para leluhurnya. Pemujaan itu dilakukan dengan suatu upacara yang luar biasa besarnya. Di Kuzko mereka menyimpan mummi dalam bungkusan kain, konon mummi itu adalah para Raja yang memerintah pada zaman Manko Kapak (Inca yang pertama). Mummi tersebut ditempatkan pada sebuah rumah yang megah, seperti istana, sekakan-akan mereka masih hidup secara bergantian dikeluarkan untuk menyaksikan upacara. Anggota keluarga raja yang kurang penting, para bangsawan tinggi dan rakyat yang mampu mengawetkan jenazah keluarganya.
Kepercayaan terhadap dewa di Inca tidak memainkan peranan yang meliputi seluruh kehidupan namun kerajaan Inca mempunyai lembaga agama yang mantap sebagai bagian dari pemerintah dan berada di bawah pemerintahan.
Perkembangan kebudayaan Inca yang begitu tinggi ini akhirnya mengalami kehancuran. Bangsa Inca mengalami keruntuhan karena penaklukan pasukan Francisco Pizzaro tahun 1533.
Suku bangsa Nahua, yang terakhir tiba di tanah tinggi Meksiko, mewarisi rumpun budaya yang luas di daerah tersebut. Salah satu diantara suku itu adalah Mexica-Aztec atau Aztec. Pada mulanya bangsa Aztec merupakan suku yang pertama kali berjuang di daerah pinggiran wilayah tersebut. Selama pengembaraan mereka sebagai kelompok luar-garis, bangsa Aztec kadang-kadang mengalami kemerosotan sampai berpakaian dedaunan dan makan serangga. Pada sekitar tahun 1325 Masehi bangsa Aztec sampai ditempat yang sekarang menjadi kota Meksiko. Waktu itu tempat tersebut merupakan gususan danau paya dan pulau kecil.
Di sebuah pulau di danau Tecoco, bangsa Aztec memperoleh semacam wangsit karena telah meihat seekor elang dengan seekor ular dimulutnya, yang sedang bertengger pada pada sebatang kaktus. Karena menganggap hal tersebut sbeagi pertanda gaib, para pendeta mengikrarkan bahwa pulau tersebut telah dipilih untuk bangsa Aztec oleh dewa-dewa mereka. Distulah mereka membangun kota Tenochtitlan. Mereka memperluas kota tersebut dengan membuat rakit-rakit yang terbuat dari anyaman ranting dan rotan yang uruk tanah dan tanaman. Di daerah danau ini mereka mengembangkan pertanian yang bersifat primitif. Kota Tenocthitlan yang didirikan oleh bangsa Aztec kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan ritual. Bangunan pemujaan berbentuk piramid banyak didirikan.
Bangsa Aztec adalah bangsa yang gemar berperang, bagi mereka perang merupakan bagian dari budaya sendiri dan bagian dari sistem kepercayaan. Bangsa Aztec menyembah banyak dewa atau politheisme. Mereka menyembah dewa matahari yaitu Huitzilochti. Mereka mempercayai bahwa matahari adalah sumber kehidupan dan harus terus dipelihara, agar terus beredar pada orbitnya dan berputar terbit dan tenggelam. Untuk itu diperlukan pelumas yang murni yaitu darah manusia. Mereka meyakini bahwa pengorbanan manusia merupakan tugas suci dan wajib dilakukan agar dewa matahari tetap memberikan kemakmuran bagi manusia. Upacara pengorbanan dilakukan diatas altar dipuncak piramid dengan cara mengambil jantung korban untuk pendeta. Upacara pengorbanan manusia juga dilakukan secara masal dengan cara membunuh banyak orang.
Pada puncak kejayaan kekuasaan Aztec, Tenochittlan merupakan pusat upacara berdarah yang semakin menjadi-menjadi. Berbagai jamuan sakramental dan ritus-ritus lainnya, menciptakan suatu kehidupan yang dibayang-bayangi oleh lambang kematian. Bagi bangsa Aztec, darah manusia merupakan bagian upacara untuk mencegah kehancuran dunia, yang menurut mereka ditandai oleh lenyapnya matahari. Upacara kurban bagi bangsa Aztec bukanlah hal yang mengerikan, begitu pula bagi calon korban. Menurut kepercayaan mereka, kematian ditangan para pendeta merupakan suatu kehormatan. Korban itu dipersembahkan kepada dewa-dewa dengan cara membelah dada dan mengambil hatinya, agar tidak marah dan lapar dan mendatangkan bencana alam. Kepercayaan ini mempengaruhi pendangan orang Aztec. Sejak masa kanak-kanak mereka telah dilatih untuk siap dijadikan kurban ritual bila mereka tertewan dalam peperangan. Mati sebagai kurban upacara bagi mereka berarti ikut menyumbangkan hati dan darah untuk dipersembahkan kepada dewa matahari, dan dengan demikian ikut memperkuat matahari dalam peperangan sehari-hari melawan gelap (malam) sehingga mereka menjadi bagian penting dari matahari.
Bangsa Aztec memiliki seni bangun atau arsitektur yang amat tinggi. Ketika bangsa Spanyol datang ke kota Tenocl (Mexico City) mereka menyaksikan kemajuan bangsa ini. Di sini terdapat bangunan-bangunan seperti aquadec atau bangunan lain, tempat jalan raya menuju kota, jalan-jalan lebar, serta kanal yang melewati kota serta jembatan diatasnya. Bangunan-bangunan tersebut menggunakan teknologi tinggi menurut jamannya. Di pusat kota dibangun kuil-kuil besar sebagai persembahan kepada dewa matahari. Tinggi bangunan tersebut 30 meter, terdiri atas tiga tingkat, yang masing-masing tingkat memiliki 120 anak tangga. Di bangunnya jalan-jalan dan kanal-kanal yang lebar adalah untuk memudahkan lalu lintas orang dan barang dagangan. Dalam kegitan perdagangan tersebut mereka memperjualbelikan bebek, ayam, kalkun, kelinci, dan rusa.
Arsitektur bangsa Aztec tergolong sederhana, lebih mementingkan fungsi daripada keindahan lahiriah. Di pegunungan, rumah orang Aztec terbuat dari batu bata yang dijemur, mirip batako yang kita kenal di Indonesia. Di dataran rendah, rumah mereka berdinding ranting-ranting atau batang padi yang diplester dengan tanah liat dan beratapkan alang-alang. Sebagi tambahan pada tempat tinggal utama, umumnya mereka mempunyai bangunan lain seperti tempat penyimpanan dan tempat seluruh keluarga mandi uap. Orang Aztec yang kaya memiliki rumah dari batako atau batu yang dibangun mengelilingi suatu Patio, yaitu ruang luas yang terbuka di tengah rumah.
Kuil Aztec dan bangunan lain dengan dekorasi patung merupkan salah satu karya terindah di Amerika. Tetapi hanya sedikit peninggalan karya arsitektur Aztec yang masih dapat ditemukan. Orang Spanyol, yang beragama kristen, telah memusnahkan kuil-kuil dan segala peninggalan keagamaan orang Aztec. Mereka bahkan telah menghancurkan kota lama Tenochitlan.
Hasil pertanian yang diolah di ladang-ladang pertanian adalah alpukat, kacang merah dan jagung, mereka juga membuat kerajinan dari emas dan perak untuk perhiasan. Dari kegiatan dagang dan jenis barang dagangannya yang diperjualbelikan dan sarana penunjang yang dibangunnya para ahli menyimpulkan bahawa bangsa Aztec memiliki tingkat kebudayaan dan peradaban yang tinggi. Peradaban ini runtuh karena penaklukan oleh bangsa Spanyol di bawah pimpinan Hernando Cortez pada tahun 1521.
2. PENEMUAN BENUA AMERIKA
a. Latar Belakang Kedatangan Orang Eropa Dan Daerah Yang Ditemukannya
Orang-orang eropa yang pertama yang tiba di amerika utara setidaknya yang pertama bisa dibuktikan kehadirannya adalah kaum norse ( orang norwegia ). Mereka berlayar kebarat dari greenland, dimana si merah erik mendirikan sebuah pemukiman sekitar tahun 985. Pada tahun 1001 putranya leif diperkirakan menjelajah kepantai timur laut di kawasan yang sekarang menjadi kanada dan tinggal sekurangnya 1 musim dingin disana.
Pada tahun 1497 hanya lima tahun setelah christopher colombus mendarata di karambia dalam upaya pencarian jalan keasia lewat barat. Seorang pelaut penesia bernama john cabot tiba di newfoundland dengan mengembangkan tugas dari raja inggris. Kendati nyaris dilupakan pelayaran cabot kemudian dijadikan alasan inggris untuk mengklaim amerika utara. Pelayaran ini juga membuka jalan kekawasan penangkapan ikan dimana para nelayan dari eropa terutama orang portugis berdatangan secara teratur.
Colombus tentu saja tidak pernah melihat bumi amerika serikat, namun penjelajahan pertama kebenua amerika dilakukan dari koloni-koloni spanyol yang ikut ia dirikan. Ekspedisi pertama yang dilakukan pada tahun 1513 oleh sekelompok lelaki dibawah pimpinan juan ponce de leon mendarat di pantai florida.
Dengan penaklukan mexiko pada tahun 1522 spanyol semakin mengukuhkan posisinya di belahan bumi barat, penemuan-penemuan berikutnya semakin menambah pengetahuan eropa tentang benua yang kini dinamai amerika- berdasarkan nama AMERIGO VESPUCCI, orang itali yang menulis laporan yang sangat terkenal dari pelayarannya kedunia baru. Pada tahun 1529 peta yang bisa diandalkan mengenai garis pantai atlantik dari labradon ke Tierra Del Fuego telah selesai digambar, kendati baru lebih dari satu abad kemudian harapan untuk menemukan jalan tembus barat menuju asia sepenuhnya diabaikan.
b. Penjelajahannya : Spanyol, Portugis, Perancis, dan Inggris
Diantara tokoh-tokoh yang terpenting diawal penjelajahan bangsa spanyol adalah Hernando De Soto, seorang conquistador (penakluk) kawakan yang bermitra dengan Francisco Pizzaro selama penaklukan peru. Setelah meninggalkan Havana pada tahun 1539, ekspedisi De Soto mendarat di florida dan menjelajah ke Amerika Serikat tenggara sampai sejauh sungai Mississippi dalam pencaharian harta karun.
Orang spanyol lainnya, Francisco Coronado, memulai dari mexico pada tahun 1540 untuk mencari tujuh kota Cibola yang menurut mitos berlimpah emas. Penjelajahan coronado membawanya sampai ke Grand Canyon dan Kansas, namun gagal menemukan emas atau harta karun yang didambakan anak buahnya.
Orang spanyol merangsek maju dari arah selatan, kawasan sebelah utara yang sekarang menjadi Amerika Serikat lambat-laun mulai terbuka lewat perjalanan-perjalanan yang dilakukan para penjelajah seperti Giovannida Verrazano. Lelaki asal Florentina ini berlayar untuk kepentingan Prancis, ia mendarat di North Carolina pada tahun 1524, lantas melanjutkan pelayaran keutara di sepanjang Pantai Atlantik hingga ketempat yang sekarang menjadi pelabuhan New York.
Sepuluh tahun kemudian, pelaut prancis, Jacquees Cartier, berlayar dengan harapan besar – sama seperti orang-orang Eropa sebelumnya – untuk menemukan jalan tembus ke Asia. Ekspedisi Cartier di sepanjang Sungai St. Lawrence meletakkan dasar untuk klaim Prancis di Amerika Utara, yang berlangsung sampai tahun 1763.
Setelah keruntuhan koloni pertama mereka, Quebec, pada tahun 1540-an, kaum Huhuenot (beragama Protestan) dari Prancis mencoba untuk bermukim di pantai utara Florida dua dekade kemudian. Pihak Spanyol memandang Prancis sebagai sebuah ancaman terhadap jalur perdagangan mereka di sepanjang Sungai Teluk (Great Stream) sehingga mereka menghancurkan koloni itu pada tahun 1565. Pemimpin pasukan Spanyol Pedro Menendez segera membangun kota baru yang dinamai St. Agustine yang tidak terlalu jauh dari tempat itu. Inilah hunian tetap Eropa pertama di tempat yang kelak menjadi Amerika Serikat.
Dalam tempo singkat, negara-negara bahari baru termasuk Inggris muncul dan mulai ambil bagian di dunia baru. Salah satu penyebabnya adalah keberhasilan Francis Drake merampas kapal-kapal pembawa harta Spanyol.
Pada tahun 1578, Humpherey Gilbert, penulis risalah tentang pencarian Terusan Barat-Laut, mendapatkan hak paten dari Ratu Elizabeth untuk menjajah “tanah yang masih dihuni bangsa barbar dan biadab” didunia baru yang belum dikuasai negeri Eropa lainya. Ketika ia hilang dilaut, saudara tirinya, Walter Raleigh, mengambil alih misi tersebut.
Pada tahun 1585, Releigh mendirikan koloni inggris yang pertama di Amerika Utara, di pulau Roanoke di lepas pantai North Carolina. Tempat itu kemudian terbengkalai dan upaya kedua dua tahun berikutnya juga mengalami kegagalan. Butuh waktu 20 tahun sebelum Inggris mencobanya lagi. Kali ini adalah Jamestown pada tahun 1607. Koloni yang dibangun ini sukses dan Amerika Utara pun mulai memasuki era baru.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Orang asli amerika telah berimigrasi dari Asia Utara ke alaska dan keselatan daerah-daerah hitam.kira-kira 20.000 tahun di zaman es yang terakhir , Amerika utara di hubungkan dengan asia di selat bering. Dan orang-orang kulit putih yang pertama kali menyaksikan pantai amerika adalah orang-orang nor yang berasal dari skandavia.
2. SARAN
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca untuk mengetahui perkembangan awal kehidupan masyarakat dalam berbagai daerah di amerika utara.
reading Report Sejarah Amerika. Bangsa Yang Makmur: Kemakmuran Ekonomi dan Watak Amerika
READING REPORT
Judul Buku : Bangsa yang Makmur : Kemakmuran Ekonomi dan Watak Amerika
Pengarang : David M. Potter
Penerjemah : Drs. W. J. Hendrowarsito
Editor : Drs. P. Surano Hargeosewoyo
Penerbit : Gajah Mada University Press
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 1990
Tebal Buku : 213 Halaman
Jumlah Bab : 9 Bab yang terdiri dari 2 bagi8an
DAFTAR ISI
Bagian I : Penelitian Tentang Watak Nasional
Bab I : Pakar-pakar Sejarah dan Watak Nasional
Bab II : Pakar-pakar Perilaku dan Watak Nasioanal
Bagian II : Kemakmuran dan Pembentukan Watak Amerika
Bab III : Sifat Kemakmuran Amerika
Bab IV : Kemakmuran, Mobilitas, dan Status
Bab V : Demokrasi Dan Kemakmuran
Bab VI : Kemakmuran dan Misi Amerika
Bab VII : Kemakmuran dan Hipotesis Perbatasan
Bab VIII : Lembaga Kemakmuran: Periklanan
Bab IX : Kemakmuran dan Pembentukan Watak
BAGIAN I
PENELITIAN TENTANG WATAK AMERIKA
BAB I : Pakar-pakar Sejarah dan Watak nasional
Adapun pakar-pakar sejarah yang meneliti tentang watak nasional yaitu :
1. Hippocrates
Melakukan penelitian tentang rakyat Asia yang cenderung kurang bernafsu untuk berperang dan lebih lemah lembut dibandingkan dengan rakyat Eropa. Hal itu disebabkan karen adanya keseragaman musim dan tidak memperlihatkan gejolak yang dahsyat sehingga rakyat Asia tidak memiliki kejutan mental.
2. Herodotus
Meneliti tentang watak rakyat Athena yang patuh terhadap penguasa mutlak. Setelah lepas dari penguasa tersebut mereka menjadi lebih kuat. Ternyata penyebab perubahan watak tersebut adalah adanya penindasan pengkastaan dan kekuatan otoriter.
Ahli-ahli diatas menyimpulkan bahwa sifat berubah dengan berubahnya keadaan, seperti perubahan kekuasaan. Jika berbicara tentang sejarah Amerika, ada beberapa sejarawan Amerika yang menyimpulkan watak nasional bangsa Amerika. Sejarawan tersebut antara lain:
a. Henry Steel Commager
Mengatakan bahwa watak Amerika lahir melalui proses perpaduan antara warisan, lingkungan, dan pengalaman.
b. Arthur M.Schlesinger
Dalam menjawab pertanyaan Crevecoeur yang menganggap bahwa manusia Amerika sebagai bangsa yang baru dengan membuat daftar tentang sifat-sifat nasional.
c. Samuel E.Marison
Dengan menyumpurnakan tulisan James Truslow Adams tentang perbedaan antara orang Amerika sesungguhnya atau sekedar menurut hukum menambahakan arti perbatasan didalam sejarah Amerika.
Dari uraian diatas dapat dilihat bebrapa kelemahan para pakar sejarah dalam memahami konsep watak nasional, yaitu
1. Gagasan watak nasional dicampur adukkan dengan doktrin-doktrin kebangsaan.
2. Para pakar sejarah mempunyai pandangan yang berbeda mengenai watak nasional, ada yang menganggap watak nasional itu mengandung suatu sifat yang mutlak (tidak berubah dari generasi ke generasi) dan ada pula yang menganggap watak nasional merupakan kecendrungan statistik bagi pribadi di suatu Negara.
Contoh dicampur adukkannya konsep watak nasional dengan doktrin-doktrin kebangsaan seperti yang telah disimpulkan oleh Carlton J.H Hayes dari pendapat Charles R.Bukton yang menyatakan beberapa karakteristik bangsa didunia, yaitu:
- Inggris, menonjolkan pengertian akan kebebasan politik,
- Prancis, menonjolkan kejujuran intelektual dan sifat terbuka,
- Italia, sifat estetis,
- Jerman, sifat rajin dan disiplin,
- Finlandia, demokrasi yang maju,
- Polandia, musik dan seni,
- Bohema, kebebasan beragama,
- Bangsa serbia, perangai yang ceria dan puitis,
- Yunani, kerinduan akan masa lampau,
- Bulgaria, daya tahan yang kuat dan energi yang tenang,
- Amerika, minat akan pelajaran dan kemajuan.
Pendapat Buxton pada dasarnya hanya mengamati beberapa bagian dari watak itu sendiri, banyak bagian dari penyesuaian watak dengan sistem sukarela ataupun paksaan antar manusia yang tidak hanya dalam kehidupan politik tetapi juga rumah tangga, ekonomi, lingkup berpikir, dan lain-lain.
Berbeda dengan pendapat Buxton, Hamilton Fyre dalam bukunya yang berjudul The Illusion Of National Character atau khayalan tentang watak nasional mengatakan bahwa tidak ada jenis watak nasional, tidak pernah ada orang yang khas Inggris atau Amerika, Prancis ataupun Jerman.
Banyakknya pendapat mengenai ada tidaknya watak nasional sebagi suatu pemikiran psikologis menempatkan para pakar sejarah pada posisi yang paradoksal, walaupun mereka gagal dalam mempertahankan konsep namun ada juga yang menerima dari segi pragmatis secara umum.
Karena bersifat paradox, semakin jelas bahwa sejarah tidak menemukan titik terang konsep watak nasional. Sejarah menolak “kesukuan” sebagai dasar watak nasional, tapi tidak mampu menciptakan gantinya, sehingga semakin banyak sejarawan yang menolak gagasan watak nasional.
BAB II : Pakar-pakar Perilaku dan Watak Nasional
Studi mengenai watak nasional adalah suatu cabang studi tentang watak kelompok dan kepribadian. Beberapa ilmu yang terkait dalam pemahaman mengenai konsep watak nasional antara lain :
1. Psikologi, mengembangkan konsep menyeluruh mengenai kepribadian yang berbeda dalam masyarakat yang diakibatkan perbedaan sosialisasi.
2. Antropologi, mengembangkan konsep tentang budaya sebagai sarana yang mengecam keadaan luar menjadi penentu kepribadian.
Kedua ilmu tersebut mengakui adanya perbedaan-perbedaan watak kelompok dengan mudah akan membentuk watak nasional.
Bebrapa pakar perilaku yang mencoba mengkaji konsep watak nasional antara lain:
a) Ruth Benedict dan Margaret Mead
Memantau pola-pola tingkah laku yang dominan dalam suatu budaya untuk , menafsirkan rakyat budaya selaras dengan unsur pokok watak nasional.
b) Abraham Kardiner dan Ralph Linton
Teori Karamer yang sangat terkenal adalah Kperibadian Dasar. Menurut Kardiner, ada sistem proyeksi yang bekerja dalam semua pribadi masyarakat tertentu yang diakibatkan penggabungan dari pengalaman, hubungan lembaga atau adat istiadat yang dilakukan oleh setiap anggota masyarakat akan memperlihatkan kebutuhan khusus masyarakat yang bersangkutan, Kardiner juga mengemukakan disiplin pada anak-anak merupakan dasar bagi sistem proyektif. Kelompok unsur yang terputuskan dalam individu dimaksudkan sebagai pola susun pribadi dasar yang kemudian dikenal sebagai watak nasional.
Ralph Linton menerima kebenaran konsep watak nasional. Munculnya berbagai pendapat mengenai watak nasional tetap mengalami kelemahan, yaitu :
1) Konsep itu gagal dalam membedakan watak sebagai satu keseluruhan atau sebagian perorangan,
2) Konsep itu bisa melihat kekacauan kelompom sosial,
3) Konsep itu tidak bisa menentukan batas-batas geografis sebagai wahana watak nasional.
Konsep watak nasional yang muncul dari analisi budaya dan pribadi mempunyai nilai lebih karena mampu menjelaskan faktor penentunya yaitu budaya, yang mempengaruhi dan membentuk kepribadian. Konsep tentang budaya berjasa banyak untuk menyusun suatu pengertian tentang hubungan antara pengelompokan nasioanal dan pengelompokkan yang tertumpang tindih dalam masyarakat modern.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat kontraversi pemahaman watak nasional antara pakar sejarah yang menolak adanya watak nasional dengan pakar perilaku yang mempertahankan watak nasional. Telah ada usaha untuk menggabungkan keduanya dengan mengadakan usaha terpadu atas dasar kesadaran akan adanya keterkaitan teoritis antara ilmu-ilmu mereka. Goodwin Watson berpendapat pada adasarnya ahli sejarah adanya ahli jiwa sama-sama menangani pokok bahasan yang sama yaitu motivasi pribadi, social dan kelakuan, perbedaan pokoknya terdapat pada besar kecilnya sampel yang digunakan.
BAGIAN II
KEMAKMURAN DAN PEMBENTUKAN WATAK AMERIKA
BAB III : Sifat Kemakmuran Amerika
Banyak ahli yang berpendapat mengenai kemakmuran di Amerika, yaitu :
1. Hector St. Jhon de Crevecoear
Menulis ada ruang bagi siapa saja di Amerika apakah orang itu berbakat khusus atau berketerampilan yang jika dimanfaatkan untuk mencari nafkah, ia pasti berhasil.
2. Willian Cobbet
Berpendapat mengenai kemakmuran pangan Amerika, “ Anda tidak dipaksa-paksa untuk makan atau minum akan tetapi hidangan berlimpah di sajikan didepan anda... sehingga dalam sekejap mata anda akan melahabnya”.
3. Karl W. Deutsch
Menilai kemakmuran Amerika dari segi kesejahteraan ekonomi. Deutsch berpendapat bahwa upah perjam bagi pekerja yang tidak terampil di Amerika tahun 1940, kira-kira 60 persen lebih tinggi dari upah pekerja setaraf di Negara-negara maju seperti Inggris dan Swiss serta 400 persen lebih tinggi daripada upah di sebagian besar Negara Amerika Latin.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor relatif kemakmuran merupakan kondisi dasar bagi perikehidupan Amerika. Kemakmuran itu sendiri dapat di gologkan menjadi kemakmuran yang bersifat potensial, yaitu melimpahnya sumber alam dan kemakmuran aktual yaitu melimpahnya komoditi siap pakai.
Namun, tidak relevan apabila menganggap kemakmuran bangsa Amerika hanyalah sampai pemenang undian alam. Maurice Clark dalam “Commond and Disparate Elements in National Growth and Decline (unsur-unsur umum dan khusus didalam pertumbuhan dan kemunduran nasional)” mengemukakan beberapa faktor yang dipandang mutlak dalam menentukan pertumbuhan ekonomi, yaitu:
a) Iklim dan sumber-sumber alam, bersifat relatif bagi kemampuan orang yang memanfaatkannya,
b) Mutu penduduk, dapat dilihat dari pendidikan tentang maratabat moral, kecerdasan dan keberanian untuk berusaha yang merata,
c) Perangsang, dapat bersifat perorangan,
d) Modal,
e) Kondisi dan sistem kelembagaan, aneka pertumbuhan dipengaruhi oleh aneka ragam kelembagaan.
Maka dapat diakatakan bahwa taraf hidup Amerika merupakan suatu hasil yang dicapai tidak semata-mata oleh adanya sumber-sumber alam, melainkan berkat meningkatnya produktivitas buruh, kecerdasan penemu, dorongan pengusaha pemula dan ekonomi semua orang Amerika yamg memadai, yang memacu kecanduan akan kerja keras.
BAB IV : Kemakmuran, Mobilitas dan Status
Pengaruh kemakmuran yang paling mendalam bagi Amerika adalah pengaruh yang mengacu dan memantapkan cita-cita dan kesamaan hak bangsa Amerika, dengan segala macam dampak yang diakibatkan oleh cita-cita bagi individu dipandang dari segi kesempatan untuk menempatkan diri ditengah-tengah masyarakat dan dari segi kebebasan terhadap suatu sisitem status.
Bagi orang Amerika “Kesamaan hak berarti setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkaj kesempatan yang sama untuk mencari kehidupan”. Orang Amerika mengharapkan adanya mencari kehidupan, dari yang paling miskin sampai yang paling kaya dari pengemis sampai jutawan di bumi Amerika. Secara sederhana, kesamaan sebanding dengan persaingan sebagai sarana pemacu untuk mencapai kemajuan dan tidak sebagai modal sendiri. Nilai yang potensial itu diwujudkan setelah dipacu secara sungguh-sungguh ke jenjang yang lebih tinggi maka istilah kesamaan bagi kebanyakan rakyat Amerika dapat mengarah pada istilah mobilitas ke atas bagi ilmuwan sosial.
Alexis de Tocqueville berpendapat bahwa mobilitas rakyat Amerika bisa diartikan pada kebebasan yang memerlukan sebuah benua tanpa batas dalam artian dunia tanpa batas ini digunakan untuk memenuhi janji mobilitas.
Di Amerika, proses perluasan ekonomi dari segi geografis, pengembangan industri dengan teknologi menyediakan status yang menguntungkan bagi para pendatang. Tiap gelombang pendatang, pada alirannya terpacu untuk naik tangga oelh yang menyusul. Amerika sesungguhnya sudah menikmati kesamaan dan mobilitas sisial dari berbagai segi, diantaranya:
- Mobilitas geografik (mobilitas horizontal)
Warga Amerika mencari nafkah di tempat jauh dai keluarga yang memacu arti bahwa status yang dimilikinya adalah hasil jerih payahnya sendiri bukan karena warisan.
- Mobilitas ekonomi dan kehidupan sosial (mobilitas vertikal)
Amerika merupakan negara yang diwarnai antar 3 generasi. Di Amerika, setiap jalur mobilitas tetap terbuka. Namun, status sosial tidak mampu memacu kehormatan kalau tidak dilakukan dengan kiat-kiat berpura-pura menyesuaikan kaidah kesamaan status.
Rakyat Amerika memerlukan orang yang mau menerima tantangan mobilitas. Contohnya tantangan ketika menemukan kekayaan dan kawanan baru.
Mengenai penggolongan social rakyat Amerika ditunjukkan dengan adanya konflik antara cita-cita dan kenyataan. Unsur kemakmuran yang memacu tercitanya struktur kels masyarakat Amerika karena kemakmuran secara berangsur-angsur telah mengurangi kesenjangan dan jarak yang menonjol antar golongan. Dengan mengurangi perbedaan fisik, social, ekonomi yang memisahkan golongan, kemakmuran telah melipat gandakan dampak negatif perbedaan kelas. Jika di satu pihak kemakmuran dapat mengatasi perbedaan kelas, maka dipihak laim menonjolkan pebedaan kelas.
Dengan demikian dapat disimpulkan kemakmuran merupakan suatu unsur yang sangat menentukan didalam pengendalian status dan penyesuaian mobilitas merupakan faktor yang sangat vital dalam masayarakat Amerika.
BAB V : Demokrasi dan Kemakmuran
Demokrasi yang paling cocok berkembang pada Negara-negara yang menikmati kelebihan ekonomi dan tidak cocok bagi Negara yang menderita kekurangan dibidang ekonomi. Dengan kata lain, kemakmuran ekonomi memacu Demokrasi politik dengan membandingkan apa yang diberikan oleh demokrasi kepada warga Negaranya dan apa yang diberikan oleh sistem pemerintahan lain.
Suatu demokrasi menentukan kesamaan sebagai tujuan, menjajikan kesempatan dalam bentuk sarana untuk mencapai kesamaan. Disamping tiu, demokrasi harus terus menerus mendorong individu untuk menentukan tujuan dan mengatur perjuangan untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, untuk berhasil suatu demokrasi, sebuah negara harus menikmati suatu surplus ekonomi atau harus berusaha memilikinya.
Inti Demokrasi Amerika adalah adanya hak menikmati hasil produksi masal yang sama dengan aslinya dean dalam pemikiran orang Eropa, volume kekayaan itu dinamis dan masih banyak kekeyaan terpendam yang harus digali.
BAB VI : Kemakmuran dan Misi Amerika
Mulai dari terbentuknya Republik Amerika, negara itu telah memiliki misi bagi dunia yaitu Misi Demokreatik dimana Amerika member contoh kepada seluruh dunia yang berkaitan dengan jasa-jasa lembaga demokratik dan membuat propoganda yang diterimanya demokrasi itu oleh dunia. Sebagai contoh, sejak Deklarasi Kemerdekaan, Amerika telah mengupayakan kesamaan hak dan kewajiban seluruh umat manusia. Misi Nasional sudah disamakan sejak pemerintahan Abraham Lincon. Namun selama ini, rakyat Amerika merasa kecewa karena misi Amerika tidak terpenuhi. Adanya Revolusi Perancis semakin mematahkan harapan dan cita-cita Amerika.
Meskipun Demokrasi gaya Amerika tidak pernah terasa unggul ditempat manapun, namun pada abad ke-19, ide-ide Amerika menjadi tentara laut bagi rakyat hina sekalipun didunia. Akibatnya, berjuta-juta rakyat miskin datang ke Amerika, karena Amerika melindungi orang-orang tertindas dan merekapun terihlami oleh cita-cita Amerika. Keinginan para imigran utnuk menganut Amerikanisme merupakan buktu nyata rakyat sangat mendambakan perserikatan bangsa-bangsa lain.
Kelemahan Amerika adalah belum pernah menayangkan demokrasi sebagai sistem sosial yang sanagt luwes yang memacu kekuatan dan pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan kemakmuran. Kemakmuran Amerika hanya ditayangkan sebagai aspek kehidupan Amerika yang berdiri sendiri dan dipamerkan dalam bentuk komoditi yang menimbulkan iri hati bagi orang yang membutuhkan.
Apabila demokrasi dan kekayaan dipahami oleh penduduk Negara lain, dan Amerika berusaha untuk manyebar luaskan misinya, maka akan memperkuat pengaruh Amerika dibidang Moralitas.
BAB VII : Kemakmuran dan Hipotesis Perbatasan
Kemakmuran dikaitkan dengan hipotesis daerah perbatasan yang pernah diungkapkan oleh sejarawan, Frederick Jackson Turner. Dalam hal ini yang perlu diperhatiakn adalah hubungan apakah jika memang ada antara pengeruh daerah perbatasan dalam pengaruh kemakmuran ekonomi. Dalam makalah Turner telah membicarakan tentang arti daerah perbatasan dalam sejarah Amerika yang sebenarnya menyinggung tentang pengaruh daerah perbatasan terhadap watak Amerika.
Pendapat Turner mengenai hipotesis daerah berbatasan terhadap kemakmuran ekonomi :
1) Letak daerah perbatasan Amerika yaitu pada tepi yang tinggi kawasan merdeka.
Hal yang penting adalah wilayah dalam “Kawasan garis depan” yang diangkap sebagai tempat yang paling strategis untuk menjangkau sumber-sumber kekayaan.
2) Daerah perbatasan untuk sementara membebasan individu dari pengawasan lembaga.
3) Tempat tergusurnya kerumitan Eropa oleh kesederhanaan Amerika.
4) Tempat terulangnya kembali pertumbuhan demokrasi sebagai proses dan prinsip.
Pengembangan Turner mengenai kawasan garis depan yang dianggapanya sebagai kemakmuran Amerika berpatokan pada anggapan :
- Kawasan garis depan memacu nasionalisme,
- Kawasan gairs depan memupuk demokrasi,
- Kawasan garis depan menggairahkan individualisme.
Kelemahan konsep kawasan garis depan Turner adalah :
1) Adanya pinggiran yang belum termanfaatkan sebenarnya tidak perlu dicemaskan karena rakyat Amerika dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan pinggiran,
2) Kawasan garis depan yang memberkati rakyat Amerika bertolak belakang dangan kenyataan dimana rakyat Amerika selalu menerima situasi dan kondisi baru dan mempelajari sesuatu yang baru,
3) Sebenarnya kawasan garis depan merupakan salah satu bentuk kemakmuran yang paling mudah di jangkau panca indera.
Setelah Amerika memasuki konsep kemakmuran dalam dunia bary, hipoitesis kemakmuran kawasan garis depan hanya terletak pada persediaan kekayaan tak bertuan. Dapat pula diartikan bahwa kawan garis depan yang luas telah memacu teknologi baru. Kesimpulannya, sejak abad ke-18 samapi ke-20, kawasn garis depan merupakan pusat kemakmuran fisik (tanah dan kebudayaan asli). Kemudian sang perintis menemukan individialisme dan nasionalisme yang membawa perubahan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kemampuan industri baru sehingga menggeser fokus kemakmuran garis depan. Namun pada dasarnya kemakmuran Amerika mulai dari kawasan garis depan sampai era baru industri telah mempengaruhi kehidupan Amerika selama tiga seperempat abad.\
BAB VIII : Lembaga Kemakmuran : Periklanan
Pada awalnya, Walter Prescott Webb menganggap kapitalisme Laisser Faire (kapitalisme secara bebas) sebagai lembaga kemakmuran namun sebenarnya itu merupakan modifikasi suatu kapitalisme terdahulu tidak merupakan lembaga yang baru. Jika dicari lembaga yang lahir dari kemakmuran Amerika maka yang pautu diperhatikan adalah dunia periklanan Amerika modern.
Periklanan mendominasi media, berpengaruh luas dalam menentukan standar kehidupan masyarakat dan merupakan lambaga yang mengacu pada pengendalian sosial dengan mempelajari terlebih dahulu perkembangan periklanan sejak semula.
Sejak abad yang lalu, periklanan merupakan usaha kecil dibidang ekonomi, dan melibatkan relatif sadikit dana da tidak memainkan peranan yang berarti didalam distribusi barang dan kebiasaan konsumen. Menjelang tahun 1800 eriklanan telah menjadi 3 kali lebih besar sejak perang saudara dan dianggap sebagai abad keemasan. Namun kemudian hakekat daya tarik iklan berubah menjadi pemacu pengaruh, sehingga meninggalkan bentuk pemberian informasi factual, proses dan terinci tentang komoditi yang dipasarkan.
Dampak periklanan seperti yang dirulis Neil H. Barden dalam “The Economic Effects of Advertising atau dampak ekonomi bisnis periklanan adalah melebarnya jurang pemisah antara produsen dan konsumen. Periklanan tidak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat yang ekonominya lemah, karena seluruh kebutuhan sama atau melebihi seluruh persediaan.
Bagi kaum metropolitan , menurut kakak beradik Goodman, satu-satunya lembaga yangt ada untuk memacu kebutuhan baru dan memacu individu untuk menyesuaikan diri dengan kemakmuran potensial adalah lembaga kemakmuran.
Media-media yang digunakan dalam periklanan (cetak dan elektronik) merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang merangsang perhatian sasaran sehingga masyarakat menaruh perhatian kepada pesan iklan media cetak maupun audio dan audio visual. Syarat periklanan :
- Tidak mematahkan minat sasaran iklan itu sendiri,
- Tangan mengemukakan perkara-perkara yang canggih dan controversial.
Dalam negara demokrasi, tidak seorangpun yang boleh meremehkan nilai kegiatan yang berusaha untuk meningkatkan taraf antar umum terutama yang berkaitan dengan perkara masyarakat.
Pengaruh terbesar dari lembaga periklanan bukanlah terhadap sistem distribusi, pengaruh itu berlaku dalam nilai-nilai masyarakat. Bila pengaruh ekonomi membuat masyarakat membeli pengaruh sosialnya membuat orang menyukai apa yang ia beli, dari segi kemakmuran untuk mangangungkan jasa konsumen dibidang materi.
BAB IX : Kemakmuran dan Pembentukan Watak
Bab ini berusaha membuktikan secara langsung bagaimana faktor-faktor yang bersifat umum dan objektif yang berkaitan dengan ekonomi kemakmuran yang mempengaruhi hakekat anak Amerika.
Semenjak era Freud, para ahli ilmu perilaku telah berangsur-angsur memperluas konsep tentang ruang-lingkup pengelaman lahiriah yang mengacu pembentukan kepribadian. Freud mengamati dorongan biologis dan gerak naluri yang memang sudah ada dalam pribadi-pribadi, yang tidak perlu diperhitungkan di dalam pengalaman anak dalam dunia luar. Namun, para pakar psikoanalisis, seperti Enrich Fromm dan Karen Horney mengakui bahwa banyak perwujudan yang dipandang oleh Freud sebagai bersifat umum, sesungguhnya hanya terbatas pada budaya khusus. Sementara itu, para revisionis berjuang dan berhasil mendapatkan pengakuan terhadap pengakuan terhadap prinsip bahwa budaya yang membentuk kepribadian. Mereka berkeyakinan bahwa “semakin awal kekuatan lingkungan terpacukan kepada anak akan semakin besarlah pengaruhnya terhadaop pembentukan kepribadian”. Hal ini merupakan dasar yang kuat untuk memberikan prioritas utama kepada hubungan antara orangtua-anak dan pengalaman masa kanak-kanak, dan pemberian prioritas itu dapat di benarkan. Namun, kecendrungan yang lebih menonjol yang banyak melibatkan pengaruh lingkungan budaya yangf lusa. Akibatnya, kecendrungan ini sering mengadakan studi perbandingan tentang watak rakyat Jepang dari Amami Oshima dan rakyat Jepang asli, ia menemukan perbedaan watak rakyat Jepang itu, yaitu perbedaan cara membesarkan anak yang melalui tirani kepolisian dan melalui pendidikan anak biasa.
T. W. Andorno pada tahun 1950 berkata “pengaruh-pengaruh utama terhadap perkembangan kepribadian mengacu selama anak menjadi besar di dalam lingkungan kehidupan keluarga yang di pengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan ekonomi. Setiap keluarga tidak hanya mendidik anak-anaknya sesuai dengan adat-istiadat masyarakat di bidang sosial, kesukuan, dan agama. Hal ini berarti bahwa perubahan terhadap keadaan-keadaan sosial dan lembaga-lembaga akan berpengaruh langsung terhadap jenis kepribadian yang berkembang di masyarakat”.
Kebenaran telah di buktikan oleh Hans Gerth dan C. Wright Mills (Character and Social Structure [New York: Harcourt, Brace & Co., 1953]) berkata “Kita tidak dapat... menyetujui pendapat bahwa hubungan keluarga yang di warnai ketegangan antara cinta dan wewenang awal, merupakan unsur dasar dan abadi didalam pembentukan kepribadian; dan situasi dan kondisi projektif masyarakat hanya sistem lanjutan dari pemilihan dan pembentukan kepribadian yang berkesinambungan di dalam lembaga ekonomi, agama dan politik dari bermacam-macam struktur sosial. Seorang ayah tidak merupakan penguasa nutama, melainkan tiruan hubungan kekuasaan dari masyarakat, dan kekuasaan yang lebih besar kepada isteri dan anak-anak”.
Kemakmuran telah mengacu bermacam dasar yang terus menerus mempengaruhi anak, sejak ia lahir dan yang akan membantu mengukur wataknya dengan cara yang sangat mesra dan modern. Kemakmuran telah mengubah pemberian ASI mencadi susu sapi yang di sedot dari botol. Kemakmuran memacu laju perubahan, karena susu botol menuntut peralatan pendingin, pemanas, sterilisasi, dan suhu udara yang hanya di sediakan oleh teknologi canggih dan kemakmuran ekonomi dimanapun bayi itu berada. Dan hal ini dapat menjadi salah satu faktor dasar dalam pemebentukan watak. Dan hal ini juga memacu kemandirian anak sebagai pribadi, sehingga ini merupakan suatu sikap yang terus menerus ditempa selamas kehgidupan orang Amerika umumnya.
Kenmakmuran telah menyediakan suatu gaya perumahan khusus bagi anak sehingga kemandiriannya sebagai individu semakin menonjol sebagai individu. Akan tetapi, kemakmuran menuntut perikehidupan yang lain . salah satu pengaruh kemakmuran yang menonjol adalah menyangkut pakaian; kalau orang non-Amerika menghangatkan tubuhnya dengan pakaian tebal, menghangatkan tubuhnya dengan cara memanasi yang jauh lebih mahal dan membuang-buang uang, karena memanskan ruang-ruang gedung yang di pakai. Dengan demikian ekonomi kemakmuran, telah mempengaruhi gizi anak, cara hidupnya, dan lingkungan hidupnya. Dan sudah mempeunyai pengaruh terhadap pembentukan wataknya,, kemakmuran juga berpengaruh untuk menentukan orang-orang khusus yang akan mendidik anak memasuki dunia orang dewasa dan mengacu arti manusia, kemakmuran harus di pandang sebagai salah satu yang penting dan di opandang sebgai proses pembentukan watak.
Kemakmuran memberikan orang tua yang muda untuk anak, karena rata-rata umur ayah pada saat lahirnya anak sulung adalah 25,3 tahun, dan ibu 22,6 tahun. Usia orang tua pada saat lahirnya anak sulung maupun bungsu, jauh lebih rendah di Amerika di bandingkan di Eropa. Jelas bahwa kemakmuran menyebabkan perbedaan dalam hal kelahiran anak sulung, sehingga dari segi ekonomi sebagian besar penduduk dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga pada usia yang cukup muda.
Sekarang ini, sekolah taman kanak-kanak menggantikan keluarga besar sebagai mitra pergaulan sang anak, dan hubungan sosial, dahulu hubungan itu di pusatkan kepada keluarga dan sekarang hubungan terpencar-pencar dan menggapai segala macam individu, oleh John Galsworthy digambarkan demi orang dewasa didalam tiga buah novelnya yang berjudul the Forsyteb Saga.
Kemakmuran memacu perubahan baik lingkungan fisik maupun hubungan antar manusia di sekitar bayi dan anak Amerika. Perubahan ini dapat menggarisbawahi hipotesis bahwa kemakmuran secara mendasar mempengaruhi pembentukan watak bagi anak. Keluarga adalah salah satu lembaga yang menggapai semua anggota masyarakat, dan yang menyentuh anak-anak secara langsung. Akan tetapi kemakmuran memainkan peranannya dalam mengubah situasi dan kondisi. Di kawasan garis depan Amerika, karena biaya mas kawin langja adanya, sedangkan kesempatan untuk menempuh hidup keluarga sejahtera melimopah ruah, maka masalah mas kawin merupakan hal yang tidak perlu di risaukan. Ketika kemakmuran mulai mengurangi tiugas kewajiban ibu rumah tangga, fungsi perkawinan sebgai pembegian kerja tidak lagi menonjol dan faktor romantika ndan cinta rasa semsakin penting. Anak Amerika sekarang hidup dalam suasana bebas yang sangat berbeda dengan anak di masa lalu. Perubahan itu sebgai hasil perkembangan di bidang psikologi anak, seolah-olah perubahan itu merupaka cara memahami hal-hal dengan cara yang lebih canggih daripada nenek moyang kita.
Ekonomi serba kekurangan, memberikan suatu peranan, seperti yang diamati oleh Simon N Patten, kemakmuran itu menawarkan “pekerjaan dengan cara mengundang para pekerja dengan segera”; sedangkan kemiskinan menyaksikan” pekerja dengan rendah hati mencari pekerjaan”.
Sifat yang paling berharga pada diri anak adalah kemampuan untuk mengambil keputusan secara bebas dan sikap percaya diri pada diri sendiri dlam menghadapi bermacam kesempatan yang ditawarkan kepadanyan oleh kemakmuran, ia cenderung untuk mengacu sifat ini pada anak-anaknya.
Secara konkrit orang menemukan bukti kebenaran pendapat Gerth dan Mills bahwa hubungan antara seorang anak dengan ayahnya mungkin tidak mempunyai artiu sendiri sebagai faktor utama, melainkan sebagai “pola hubungan antar kekuasaan di masyarakat”.
Jika kemakmuran telah mengendorkan kekuasaan otoriter orang tua terhadap anak-anak ditengah-tengah kesamaan demokratis didalam keluarga, maka kemakmuran pasti mengubah seluruh proses memacu tanggung jawab di bidang ekonomi pada anak, sehingga ia harus dipacu untuk memikul tanggung jawab. Di dalam ekonomi, masyarakat tidak mampu menghidupi jumlah besar anggota masyarakat yang tidk produktif. Oleh karena itu anak sudah bekerja sejak usia sangat muda.
Akan tetpai, kemakmuran ekonomi mampu menopang kehidupn sebagian besar penduduk yang tidak produktif lewat jasa anggota keluarga yang lebih tua maupun yang lebih muda, walaupun jasa itu mereka berikan secara terpaksa. Situasi dan kondisi ini memperpanjang kurun waktu pendidikan anak dan menganhgguhkan waktu seorang individu memikul tanggung jawab utnuk waktu yang lama dan bahkan memacu undang-undang, yang menetapkan usia minimal untuk boleh meninggalkan sekolah, untuk bekerja, unutk bercumbu dengan suami-istri atau untuk menikah. Dari segi fisik, misalnya anak dari golongn rendah sudah memasuki masa remaja satu atau dua tahun lebih awal dari anak sebayanya akibat peningkatamn standar kesehatan dan gizi. Dari segi kebudayaan, anak sudah merasakan daya tarik seks pada usia relatif muda, karena perkenalannya dengan film, televisi dan majalah-majalah remaja.
Dalam bab ini usaha yang dilakukan utnuk merentangkan jembatan untuk memadukan kekuatan kemakmjuran ekonomi pada umumnya di pandang dari segi sejarah dan pola kehidupan rakyat Amerika secara khusus dipandang dari segi ilmu perilaku.
Pengaruh kemakmuran ekonomi merupakan suatu untsur yang kehadirannya dan kekuatannya dapat dipantau secara nyata dan cermat didalam tahap-tahap perkembangan kepribadian anak. Namun, kehadiran dan kekuatana faktor itu dapat dipantau dengan jelas disepanjang cakrawala pengalaman Amerika, yaitu cita-cita dan lembaga-lembaga Ameriksa. Kedua-duanya kemakmuran telah memacu pengaruh yang mendalam dan menyeluruh sehubungan dengan pembentukan watak Amerika.
Langganan:
Postingan (Atom)