Selasa, 01 September 2015

perkembangan historiografi abad 19 dan 20

1. Perkembangan Historiografi Eropa abad ke 19 dan 20 Sampai abad ke 19 banyak sekali pemikiran-pemikiran yang berkembang, karena padea masa sebelum abad ke 19 pemikiran masih kabur. Sehingga sangat sulit untuk mendeteksi sejauh mana kekuatan kebenaran hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan. Karena mengalami berbagai hambatan, yaitu (a) kemerosotan teori-teori tentang eksplanasi kausalitas sejarah dan pandangan filsafat sejarah abad pertengahan karena munculnya kelompok rasionalis yang mengurangi arti penting penyelidikan sejarah; (b) ketiadaan koleksi sumber asli, sehingga pengujian fakta sejarah terbentur kepada sumbernya; (c) lemahnya metode kritik sejarah dalam mengolah bahan; (d) kegagalan penulis sejarah dalam mengembangkan pengajaran sejarah secara sistematis dan kompeten sehingga tetep mengaburkan eksistensinya, serta yang terpenting adalah masalah metodenya. Hal ini lah yang menyebabkan pada abad ke 19 menjadi klimaks kesadaran dan pemikiran sejarah. Namun terjadi simpang siur, karena pada abad ke 19 melahirkan kebudayaan yang pluralistis (beragam), muncul berbagai aliran Materialistis-naturalisme yang bersandar pada filsafat ilmu alam, maka hidup kembali idealisme romantik sebagai pengaruh rasionalisme. Orang yang beraliran isme bukanlah orang yang profesional membahas bidang penelitian sejarah tetapi sangat berpengaruh terhadap perkembangan historiografi modern abad ke 19. Pada masa sebelum Renaisans Bangsa Eropa memang agak tertinggal dibandingkan Bangsa Asia atau Timur tengah. Namun demikian, setelah Renaisans dan Humanisme peradaban Eropa mengalami penyimpangan dari pola umum, yaitu berkembang dengan pesat. Pada abad 19-20, Bangsa Eropa mampu menunjukan superioritasnya dibanding bangsa lain. Faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan dari pola umum itu adalah sebagai berikut: • Rasionalisme, yaitu suatu alian pemikiran yang menganggap bahwa rasio merupakan kekuatan utama, mendasar atau sumber dari peradaban manusia. Rasionalisme timbul akibat kemajuan ilmu pengetahuan alam yang didasarkan atas daya pikir manusia. • Reformasi, yaitu suatu gerakan religious (Kristen) yang dahsyat dan didorong oleh perkembangan rasionalisme dan humanisme. Karena pada masa abad pertengahan, menurut Gereja, Injil tidak bisa dibaca oleh semua orang karena Injil hak monopoli kaum Rohaniawan. Namun pihak rasionalisme mengatakan bahwa semua orang dibekali rasio, sehingga bila menghendaki dan dengan cara belajar juga memiliki kemampuan membaca Injil. Banyak tokoh yang memprotes monopoli Gereja, diantaranya M. Luther King, Awingli, Calvin dan lain sebagainya. Mereka berpendapat dan berjuang bahwa setiap individu boleh membaca dan menerjemahkan kitab suci (Injil). Disinilah Nampak penonjolan individu yang dinilai tinggi, sehingga dalam perkembangan selanjutnya memunculkan faham Induvidualisme. • Nasionalisme, yaitu gerakan reformasi dari Lethur dan kawan-kawan menentang Gereja di Roma dengan mempropagandakan penerjamahan Injil kedalam berbagai bahasa agar dapat dibaca dan dipahami oleh semua orang. Hasilnya terjadi gerakan penerjemahan Injil kedalam berbagai bahasa dan ini menyebabkan timbulnya rasa nasionalsme. • Ekspansi, yaitu perluasan baik dalam bidang ekonomi, politik, geografis dan kebudayaan. Hal ini didorong akibat banyak petualang yang berhasil menemukan tempat-tempat baru dan memiliki peradaban yang luar biasa yang tidak kalah maju dengan benua Eropa. Perkembangan Histiriografi pada abad ke 20 sangat berkembang pesat karena perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan metodelogi sejarah memperkaya Histiriografi. Pada abad ini sejarah lebih membuat penulis baru dan memunculkan bidang kajian garapan sejarah tematis karena sejarah dikaji secara khusus yang berorientasi kepada rakyat kecil, atau penulisan sejarah lokal maupun sejarah tematis lainya. Sehingga memunculkan aneka ragam histiriografi modern sehingga penulisan sejarah beraneka ragam tetapi tidak lepas dari metodelogi penelitian. 2. Ciri historiografi abad ke 19 dan 20 a. Ciri-ciri historiografi abad ke 19 • Penghargaan kembali pada zaman pertengahan • Munculnya filsafat sejarah • Munculnya teori orang besar • Timbulnya nasionalisme • Munculnya liberalism. b. Ciri-ciri historiografi abad 20 • Muncul ketika dikenalkannya pendekatan-pendekatan baru dalam sejarah ekonomi dan sejarah intelektual. • Menaruh perhatian terhadap studi sejarah sebagai past politics (politik masa lalu). • Penulisan sejarah sudah mulai dilakukan secara mikro. • Histiriografi sejarah sudah mulai dilakukan secara lokal, mulai mempedulikan sejarah lisan. • Penulisan sejarah tidak hanya fokus pada orang-orang yang berkuasa saja tetapi juga orang-orang atau rakyat kecil. • Sudah bayak dilakukan penulisan sejarah ekonomi, intelektual. • Penulisan sejarah berorientasi pada pokok persoalan penelitian tertentu. • Menggunakan ilmu – ilmu sosial lain sebagai konsep dan teoritis. 3. Aliran yang muncul pada abad ke 19 dan 20  Aliran pada abad ke 19 a) Aliran Rasionalisme Dalam penjelasan mengenai Rasionalisme akan mengambil mengenai penjelasan dari tokoh Rasionalisme yaitu Voltaire, rasionalisme menolak visi tradisional yang bersumberkan kitab suci, dan memperjuangkan rasio sebagai interpretasi sejarah secara teologis. Voltaire juga berpendapat Tuhan telah menarik diri dari dalam pengaturan sejarah, mungkin Tuhan masih mengaturnya, namun tidak ikut campur dalam proses sejarah. Menurut voltaire, tujuan dari sejarah itu ditentukan oleh akal manusia, akal berperan menentukan jalan sejarah. Perkembangan proses sejarah manusia dalam mencapai kebahagiaan itu ditentukan oleh akal manusia. b) Aliran Positivisme Pada saat itu juga berkembang positivisme yang dipelopori oleh Agustus Comte. Positivisme merupakan aliran pemikiran (kejiwaan) yang mengajarkan bahwa ilmu harus dapat membuat hukum-hukumnya. Dengan demikian, hanya ilmu yang dilengkapi dengan hukum-hukumlah yang berhak diakui sebagai ilmu pengetahuan. c) Aliran Romantisme Aliran romantisme muncul karena reaksi terhadap aliran positivisme dan juga karena didorong gerakan nasionalisme. Dalam sejarah penulisan sejarah atau Historiografi, istilah romantik lebih berkaitan dengan sudut pandang politik. Romantik, yaitu visi yang konservatif mengenai negara dan masyarakat. Penulisan sejarah romantik adalah produk dan produsen dari historisme. Sedangkan romantik adalah berkaitan dengan kesadaran historis dan spirit untuk mempelajari dan menulis masa lampau miliknya sendiri (daerah, negerinya, sukunya atau bangsanya sendiri). Memang belum bisa ditemukan definisi Historiografi romantik secara pasti, namun karena bentuk dari ketidaksepakatan dengan aliran positivisme dan rasionalime, aliran romantik menyatakan tidak benar jika rasio itu merupakan prinsip yang menentukan segalanya, karena ada faktor yang terlupakan oleh rasionalisme yaitu sentimen, emosi atau perasaan. d) Metode Sejarah Kritis Metode Sejarah kritis muncul karena adanya kecenderungan untuk mengkritisi aliran sebelumnya terutama romantisme dimana penulisan sejarah dengan romantisme membuat sejarah itu akan terasa subjektif. Metode Sejarah kritis dipelopori oleh Leopold Von Ranken (1795-1886), dia memberikan kritikan terhadap sejarawan lama yang beraliran romntis. Ranken beranggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi lebih menarik dari pada peristiwa yang diromantisir. Oleh karena itu dia menolak segala hal yang berbau khayalan dalam penulisan sejarah dan memilih berpegang teguh kepada fakta-fakta. Ranken berkata, "sejarah baru mulai apabila dokumen dapat dipahami, lagi pula, cukup banyak dokumen yang dapat dipercaya". Adanya metode kritis ini, maka sejarah sah sebagai ilmu sejarah. Menjelang akhir abad ke-19 kebenaran yang dikemukakan oleh Ranken mulai diragukan, sebab menulis sejarah sebagaimana yang terjadi dinilai bertentangan dengan psikologi. Sadar atau tidak, setiap orang yang menulis pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Fakta sejarah bukanlah batu bata yang tinggal dipasang saja, melainkan fakta yang dipilih dengan sengaja oleh sejarawan. Seperti dikemukakan oleh Carl L. Becker (1873-1945), pemujaan terhadap fakta hanyalah ilusi. Sementara itu James Harvey Robinson (1863-1936) mengatakan bahwa sejarah kritis kita hanya dapat menangkap permukaan, tidak dapat menangkap realitas dibawah dan tidak dapat memahami perilaku manusia. Atas dasar pemikiran itu maka muncul gagasan barutentang perlunya sejarah baru atau 'new perpective on historical writing'. Berbeda dengan historiografi modern yang dipelopori Ranken yang menekankan kritik, maka sejarah baru menekankan perlunya penggunaan ilmu-ilmu sosial, sekaligus mendekatkan kembali ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial, sehingga seringkali sejarah baru itu disebut sebagai sejarah sosial.  Aliran abad ke 20 Pada abad ke 20 lahirlah 2 teori, yaitu The New History dan Annales. Aliran New History berasal dari sekelompok sejarawan Amerika James H. Robinson, Fredick jackson Turner, Charles Beard dan Vernon L. Parrington. Yang menyatakan bahwa sejarah tidak lagi hanya berkenaan dengan kegiatan pilitik, tetapi sejarah mencakup semua bekas dan peninggalannya yang pernah difikirkan dan dilukiskan manusia sejak ia dilahirkan ke bumi, serta mencakup seluruh rekonstruksi tentang seluruh aspek kegiatan manusia, terutamaperluasan cakupan sejarah sosial seperti kebiasaan, emosi, mentalitet dari orang yang tidak di kenal sekalipun. Aliran ini merupakan sumbangan terpenting dalam penulisan sejarah kritis abad ke-19, karena selain mengandalkan data dokumen, tetapi juga memperhatikan fakta-fakta sosial dan ekonomi melalui statistik dan data lapangan seperti yang dikerjakan oleh ilmuwan sosial pada umumnya, serta lebih menekankan kepada sejarah tematis. Kedua, Aliran Annales di Perancis yang di pelopori oleh Marc Bloch dan Lucien le Febvre melalui jurnal ilmiahnya dengan nama Annales. Pada penulisannya lebih menekankan kepada rangkaian unit-unit yang homogen dengan menguji koherasi dan ketepatan analisis jangka panjang dengan perhitungan data statistik. Aliran ini telah memberikan sumbangan yang berarti untuk histiriografi abad 20 yang modern dalam artian sesungguhnya khusus dala bidang kajian ekonomi dan sosial. Aliran annales lebih bertolak kepada implikasi metodelogis yang membuat sejarawan lebih bersungguh-sungguh dalam penelitiannya, penelitian sejarah itu adalah manusia dan waktu yang dikenal dengan istilah “ History is a science of men in time “ Annales berhasil berhasi mengembangkan studi sejarah sosial yang menghasilkan cabang-cabang studi sejarah yag dikenal sejarah tematis. Sumbangan terbesar dari Annales ini adalah kepeloporan dalam mengabunggkan berbagai pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam studi sejarah, sehingga melahirkan konsep-konsep teoritis, sehingga menghasil garapan tersendiri yang dikenal dengan “ No Theory, no History” fernand Braundel menegaskan bahwa sudah saatnya sejarawan harus melengkapi dirinya dengan konsep-konsep teoritis untuk menggarap bahan studinya. 4. Sejarawan dan karyanya  Pada abad ke 19 • Leopold von Ranke Leopold von Ranke lahirkan pada 21 Desember 1795, di daerah Wieche, Saxon yaitu wilayah yang terletak di Jerman Timur, dia adalah anak seorang pengacara dan keturunan keluarga teologi. Setelah selesai studi sekolah menengah Schulforta, ia masuk ke Universitas Leipsic, mengambil bidang Teologi dan ilmu-ilmu dari dunia klasik (Yunani-Romawi) dengan mengambil konsentrasi ilmu bahasa (Filologi), penterjemahan dan penguraian teks-teks lama. Kemudian, setelah selesai kuliah, ia bekerja sebagai guru di Gymnasium Friedrichs di Frankfurt an der Oder, selama tujuh tahun yaitu dari tahun 1818-1825 M. Minatnya dalam bidang sejarah, itu semakin mendalam, setelah ia menjadi guru di Frankfurt. Sebenarnya pada masa itulah, ia membuat keputusan untuk menumpukkan usaha pengkajian sejarah dan meninggalkan bidang-bidang yang telah dipelajarinya di Universitas dulu. Leopold von Ranke meninggal di Berlin pada tanggal 23 Mei 1886 dalam usia 91 tahun. Dengan perubahan minat itu, ia menghasilkan karya sejarahnya yang pertama dengan judul Sejarah Bangsa-Bangsa Latin dan Tantonik: 1494-1514 ( Geschichte de romanischen und germanischen Volker 1494 bis 1514 ) yang telah diterbitkan pada tahun 1824.Dengan penerbitan ini, ia dikukuhkan menjadi Professor Ekstraordinarius di Universitas Berlin dalam bidang Sejarah. Pada waktu berusia 82 tahun, Ranke mulai menulis apa saja yang dianggap sebagai “Sejarah Dunia”, yaitu menceritakan sejarah perkembangan peradaban Eropa dari zaman Yunani-Romawi kuno sampai akhir zaman pertengahan. Buku karyanya yang pertama berjudul Sejarah Bangsa-Bangsa Latin dan Tentonic ini telah melambangkan sikap kritisnya terhadap sebuah karya sejarah. Pada hakekatnya, buku pertama ini merupakan sejarah politik dan hubungan diplomatik yang biasa saja. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah pandangan-pandangan yang dimuatnya dalam lampiran yang berjudul “Kritik Terhadap Sejarawan Modern”(Zur Kritik Neuever Geschichtsscheiber) yang secara keseluruhan merupakan analisis terhadap sumber-sumber sejarah dikajinya. Analisis itu menunjukkan bahwa sumber-sumber sejarah, seperti teks-teks lama harus dikaji dengan kritik sumber sebelum di terima dan di gunakan sebagai sumber sejarah. Kebanyakan karya-karya Ranke, lebih ditekankan pada bidang sejarah politik dan kegiatan-kegiatan hubungan diplomatik. Ini bukan berarti bahwa peristiwa-peristiwa lain yang “bukan politik”, sebagai bukan peristiwa sejarah. Semua peristiwa tersebut adalah peristiwa sejarah tetapi merupakan bagian dari politik dan kegiatan berpolitik. Konsep sejarahnya yang seperti itu, telah menyebabkan berlakunya pembentukan konsep sejarah yang dikenal sebagai sejarah yang saintifik. Sejarah yang saintifik sama artinya dengan sejarah itu seratus persen objektif, bahwa kebenaran boleh dibuktikan secara saintifik dan objektif. Konstribusi lainnya dari Ranke ialah memperkenalkan Seminar dan Quelllinkritik ( kajian yang kritis terhadap sumber-sumber sejarah), sebagai kaidah dalam penelitian sejarah. Seminar dan Quellinkritik, ini merupakan bagian dari pada proses penelitian yang diharapkan dapat menghasilkan karya sejarah yang mengandung peristiwa-peristiwa Wei Es Eigentlich Gewesen (seperti sebenarnya berlaku ). • Hegel Hegel dilahirkan di Stuttgart pada 27 Agustus 1770. Di Masa kecilnya, besarbesaran lahap Membaca literatur, surat kabar, esai Filsafat, Tentang Tulisan-Tulisan dan berbagai topik Lainnya. Masa Kanak-kanaknya Yang Rajin Membaca sebagian disebabkan Dibuat ibunya Yang Luar Biasa Progresif Yang Aktif mengasuh perkembangan intelektual anak-anaknya. Keluarga Hegel adalah sebuah kelas menengah Keluarga Yang Mapan di Stuttgart. Ayahnya seorang Pegawai Negeri KESAWAN Administrasi pemerintahan di Württemberg. Hegel adalah seorang anak sakit-sakitan Yang dan hampir Dunia karena sarana meninggal mencapai Usia Enam tahun. Hegel dikenal sebagai filsuf Yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel hal doa adalah Lalu didamaikan dipertentangkan yang, Biasa dikenal atau Artikel Baru tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan Kontradiksi). Pengiyaan Harus Berupa pengertian Konsep Yang indrawi empris. Pengertian terkandung di dalamnya Yang berasal Dari kata-kata sehari-hari, spontan, Bukan reflektif, sehingga terkesan abstrak, Umum, statis, dan konseptual. Pengertian tersebut diterangkan KESAWAN Secara Radikal agar-agar proses pemikirannya kehilangan ketegasan dan mencair. Pengingkaran adalah Konsep Pertama dilawanartikan (pengiyaan) pengertian, sehingga muncul pengertian Konsep Yang kedua kosong, formal, tak tentu, dan tak Terbatas. Menurut Hegel, Konsep KESAWAN kedua sesungguhnya Tersimpan pengertian Dari Konsep Pertama yang. Konsep pemikiran kedua Suami Juga diterangkan Secara Radikal agar-agar kehilangan ketegasan dan mencair. Kontradiksi merupakan motor dialektika (jalan kebenaran Menuju) Maka Kontradiksi Harus Mampu Membuat Konsep Yang bertahan dan saling mengevaluasi. Kesatuan Kontradiksi menjadi alat untuk melengkapi pengertian doa Konsep Yang saling berlawanan agar-agar Tercipta Konsep Baru Yang lebih ideal. Dalam The Philosophy of Right, Hegel menguraikan filsafat sosial dan politik yang melihat kehidupan sosial modern berlangsung dalam tiga jagat (atau lembaga) utama; keluarga, masyarakat sipil dan Negara. Kehidupan keluarga, di tandai dengan hubungan cinta dan kewajiban, sangat berlawanan dengan kehidupan di masyarakat sipil jagat hubungan pertukaran ekonomi yang perburuan kepentingan diri murninya memungkinkata perwujudan atas apa yang di sebut Hegel sebagai “subjective particulary” (Individualitas, via prduksi dan konsumsi) yang jelas-jelas menghianati karakter sosial mendalam (via pembagian tenaga kerja, spesialisasi dan sistem kebutuhan) yang menjadi ciri kehidupan ekonomi modern (kapitalis). Hidup dalam keluarga dan hidup dalam masyarakat sipil ini di mungkinkan dan di bawahi dalam konteks hukum dan peraturan lebih luas melalui “Negara Administratif” (apa yang biasa kita sebut sebagai “pemerintahan”). Namun demikian, konsep tentang “state power” sebagai komunitas etis mencakup ketiga jagat hidup itu (keluarga, masyarakat sipil, dan administrasi negara). Hal itu sangat bisa di lihat sebagai struktur abstrak, yang menandakan suatu cara saling berkaitan yang memungkinkan berbagai bentuk kehidupan yang terkandung di dalamnya (praktik-praktik sosial dan industri dari keluarga, masyarakat sipil, dan “pemerintah”). Klaim tentang ethicality Negara sebagai struktur abstrak dilandaskan, sebagaimana di jelaskan The Philosophy of Right, dalam reasionalitas soial itulah yang di pandang sebagai ekspresi tertinggi. Klaim bahwa dukungan kuat Hegel terhadap Negara (sebagai struktur abstrak atau cara berhubungan) di terjemahkan langsung sebagai pertahanan empiris atas “keadaan yang sebenarnya ada”. Hal itu dipandang merupakan suatu titik lemah, sehingga terbuka bagi pengkajian kritis tentang apakah, dan dalam kondisi apa, imajiner global alternatif mungkin itu di persyaratkan. Hal ini kontrak dengan penolakan kritis tentang problem Negara, mengajukan kembali pertanyaan tentang Negara (dalam istilah Hegel) pada zaman kita. • Aguste Comte Auguste Comte (1798), lahir di Montpellier, Perancis, adalah pendiri positivisme. Dia menganalogikan masyarakat layaknya organ tubuh manusia. Tidak heran, karena filsafatnya masih terpengaruh oleh aliran biologis/naturalisme. Dia terkenal dengan hukum tiga tahap perkembangan masyarakat: teologis, metafisik, positif. Hukum ini ia sebutkan dalam karyanya “Course of Positive Philosophy” yang ia buat sebanyak 6 jilid dari tahun 1830 sampai dengan 1842. Konsepsinya dalam buku ini didasari akan kekhawatirannya akan kacaunya masyarakat sehingga mereka membutuhkan suatu metode untuk mencapai keteraturan sosial. Comte menemukan itu ada dalam gejala-gejala ilmu pengetahuan dan kaitan antara semua ilmu tersebut. Buku ini pun menjadi dasar bagi aliran positivisme. Karya monumentalnya yang berikutnya adalah “System of Positive Politics” yang menjelaskan tentang agama humanitas. Latar belakang pembuatan karya besar keduanya itu dipengaruhi oleh pujaan hatinya Clothilde de Vaux yang sangat membekas dalam jiwanya. Menariknya kedua karyanya tersebut seperti sebuah seri dari pemikiran Comte. Dalam Course, Comte mengatakan sains bertransformasi menjadi filsafat; sedangkan dalam System, filsafat bertransformasi menjadi agama. Buku dengan judul asli Cours de Philosophie Positive (Pelajaran Filsafat Positif) adalah garapan dari karyanya sebelumnya yaitu Systeme de philosophie positive (1824) (Sistem filsafat positif). Course memuat dua tujuan, yaitu fondasi untuk sosiologi (yang ia sebut fisika sosial) dan koordinasi semua ilmu positif. Dalam tiga volume awal, ia menjelaskan lima ilmu sains yang fundamental (matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi) dan tiga volume berikutnya adalah ilmu sosial. Ilmu-ilmu alam telah ada pada waktu itu dan Comte hanya meringkas poin-poin dari doktrin dan metodologi utama mereka dengan membangunnya lewat analisa objektif dan historis. Awal mula positivisme yang dikembangkan Comte adalah kesadarannya akan Revolusi Perancis yang menurutnya adalah krisis yang cenderung ke arah reorganisasi masyarakat secara besar-besaran. Ia menyatakan bahwa reorganisasi itu hanya berhasil, masyarakat yang adil akan tercipta, jika orang mengembangkan metode berpikir yang baru tentang masyarakat. Comte melihatnya dalam sains dan mencoba mensistematisasikan metode itu. Lahirlah metode positif yang sesuai hukum-hukum ilmu alam: diarahkan pada fakta-fakta, pada hal yang berguna, ke arah kepastian, dan kecermatan. Sarana bantu bagi sains seperti observasi, eksperimen, dan perbandingan ditambah dengan metode historis yang ditujukan untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkembangan gagasan-gagasan di masyarakat. Comte memberikan analisis komprehensif tentang kesatuan filosofis dan metodologis yang jadi dasar ilmu alam dan sosial dalam Course. Dalam bukunya itu, Comte memperlihatkan bahwa evolusi filosofis yang dialami matematika, geometri, astronomi, fisika, kimia, biologi dan fisika sosial (sosiologi) adalah melewati tahapan perkembangan yang sistematis. Ia menjelaskan urutan gejala-gejala (statika) dan kaitan organis gejala-gejala (dinamika) ilmu-ilmu tersebut. Dalam ilmu alam, aspek statis dan dinamis yang berkaitan dengan objek yang mati dinamakan tetap dan gerak, sedangkan yang berkaitan dengan objek yang hidup dinamakan anatomi dan fisiologi. Dalam ilmu sosial yang mengambil objek gejala-gejala masyarakat, aspek-aspek tadi berhubungan dengan tata (keteraturan) dan kemajuan. Tata merupakan dasar dan hasil kemajuan, dan kemajuan hanyalah mungkin atas dasar tata. Jadi hukum-hukum yang harus ditemukan dengan pertolongan metode positif dapat dibagi dalam dua kelas, yaitu hukum-hukum mengenai urutan gejala-gejala sosial dan hukum-hukum mengenai kaitan gejala-gejala itu. Comte menjelaskan urutan gejala-gejala sosial dinyatakan dalam tiga tahap. Tahapan yang dibuat menunjukkan cara berpikir masyarakat pada saat itu. Titik awalnya adalah tahapan teologis dimana pikiran manusia saat itu dalam pencarian akan asal dan sebab akhir segala sesuatu, manusia mencari hal-hal itu dalam kekuatan-kekuatan alam dan benda-benda angkasa yang ia anggap punya kekuatan. Pada tahapan berikutnya, tahap metafisik, keterkaitan dengan sesuatu yang supranatural digantikan dengan entitas yang abstrak. Manusia mengalihkan perhatiannya pada kecintaan akan tanah air, pembelaan terhadap bangsa atau nasionalisme, dan sebagainya. Tahap ini adalah tahap kritis pemikiran teologis dan persiapan menuju stadium positif. Pada tahap positif yang mana akal manusia telah mencapai puncak ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, orang tidak lagi mencari pengetahuan absolut tentang sebab-sebab akhir tapi menanyakan kaitan statis dan dinamis gejala-gejala. Dalam kaitan antara gejala-gejala sosial, Comte menyebutkan meskipun cara pandang zaman prapositif lebih rendah daripada di zaman positif, namun cara berpikir di zaman terdahulu ini memberi sumbangan bernilai berupa konsensus atas seperangkat pandangan dan kepercayaan bersama yang penting bagi keteraturan sosial. Tahap positif tidak mungkin ada tanpa adanya tahap teologis yang mendahuluinya dan tahap metafisik yang menjembataninya. Benih-benih menuju tahapan berikutnya selalu ada, seperti pada masa fetisisme timbul pemikiran untuk beralih dari cara hidup yang berpindah-pindah menjadi menetap sebagai hasil usaha menjelaskan gejala dengan takhayul primitif. Masa itu digantikan dengan masa politeistik dimana manusia mulai menganggap adanya suatu kekuatan di luar dirinya dan menjadi monoteistik saat manusia mulai mengenal tuhan. Tapi sistem kepercayaan seperti itu mendorong manusia untuk mudah memisahkan kehidupan rohani dan duniawi sehingga kehidupannya diarahkan pada kekuatan lain yang sifatnya abstrak. Saat ilmu pengetahuan berkembang sebagai hasil kesempurnaan akal manusia, teknologi diciptakan dan manusia menuju tahap dimana kekuatan itu diarahkan pada benda-benda atau materi. Industri menjadi tipe organisasi sosial di era positif. Sedangkan tipe keteraturan sosial di tahap teologis mencerminkan tipe organisasi sosial yang militer. Di tahap metafisik, dominan dengan hukum karena masyarakat saat itu didominasi oleh mereka yang berusaha menarik doktrin sosial politik dari pemahaman tentang hukum alam. Pandangannya ini sempat dipuja oleh John Stuart Mill di Inggris. Bahkan ia terang-terangan menyatakan diri sebagai pengikutnya dan menjadi penyebar paham positivisme yang giat. Tapi kekecewaan mendalam harus ditelannya begitu Comte mengeluarkan buku fenomenalnya yang kedua, System of Positive Politics. Banyak yang menganggap Comte sudah gila karena cinta karena dalam bukunya tersebut, ia menyatakan pentingnya suatu agama di zaman positif (yang seharusnya ada dalam tahap teologis). Comte menyebutnya dengan “agama humanitas”. Ini adalah perubahan mendasar dalam karya Comte, ia berbalik dari seorang positivis menjadi seorang yang humanis. Kritik yang dilontarkan padanya pun berdatangan dari kaum positivis, termasuk dari Mill yang menganggap Comte dengan Course-nya adalah “Comte yang baik”, sedangkan Comte dengan System-nya adalah “Comte yang buruk”. Dalam bukunya ini, akal yang semula diagungkannya seakan dimerosotkan di bawah apa yang kita sebut cinta. Memang pada waktu menulis System, ia sedang dimabuk cinta atau bahkan bisa disebut mengalami cinta sejati sepanjang hidupnya. Ia mempersembahkan buku ini untuk mengenang istri yang tidak pernah digaulinya, yaitu Clothilde de Vaux. Kekuatan emosi begitu kentara dalam karyanya yang satu ini. Comte seakan lebih mengagungkan perasaan daripada akal budi dalam mempertahankan tata keteraturan sosial yang ia kemukakan dahulu. Bagi Comte, karyanya ini adalah realisasi dari metode positif yang ditujukan untuk keteraturan sosial dalam bukunya yang pertama. Jika kita ingat metode positif yang juga memakai metode historis untuk mengamati masyarakat, Comte melihat bahwa agama telah menjadi tonggak keteraturan sosial yang utama di masa lampau. Agama merupakan dasar untuk konsensus universal dalam masyarakat dan juga mendorong identifikasi emosional individu dan meningkatkan altruisme. Namun bukan agama tradisional seperti yang dipahami pada masa teologis yang dimaksud Comte. Ia menciptakan suatu agama baru yang mencakup hukum-hukum universal yang memungkinkan keteraturan sosial itu eksis, yaitu agama humanitas. Sumber utama agama humanitas adalah moralitas dan cinta yang sesuai dengan standar-standar intelektual dan persyaratan positivisme. Runtuhnya tatanan sosial tradisional yang mengarah pada anarki akibat Revolusi Perancis, menyebabkan Comte melihat moral sebagai sesuatu yang harus menundukkan ilmu sehingga reorganisasi masyarakat menjadi sempurna. Bertolak dari gagasan pikiran adalah hamba bagi hati, Comte melihat dalam biologi tabel otak manusia terdiri dari 18 fungsi internal, yaitu 10 kekuatan afektif, 5 fungsi intelektual, dan 3 sifat praktis. Dari sini tampak dominannya hati dalam meningkatkan energi dan menurunkan harga diri. Bagi Comte yang positivis, ini bukan psikologi, tapi semata-mata biologi. Moral menjadi suatu kekuatan yang dominan dan Comte melihatnya dalam agama. Agama memiliki 2 fungsi: fungsi moral, agama seharusnya mengatur setiap individu; dan fungsi politik, agama seharusnya menyatukan semua individu. Agama juga memiliki tiga komponen, sesuai dengan pembagian tabel otak, yaitu doktrin, ibadah, dan hukum moral (disiplin). “Cinta datang dan membawa kita pada iman, sepanjang pertumbuhan itu bersifat spontan; tapi begitu tersistematisasi, keyakinanlah yang membangun tindakan cinta”, kata Comte. Karyanya ini kurang diterima secara luas. Dalam Course, kita akan menemukan dasar-dasar dari positivisme yang berkembang hingga sekarang. Course sangat meninggikan akal sebagai tahapan akhir perkembangan manusia. Perkembangan masyarakat dari semenjak ketergantungannya akan supranatural, alam metafisik, dan berlanjut kepada alam pikiran positif dijelaskan dalam Course sebagai suatu fase yang pasti. Namun, gagasan Comte yang optimistis ini seakan ditafsirkan kembali dalam System bahwa yang diinginkan adalah reorganisasi masyarakat atas dasar humanitas. Comte, terlepas dari perkembangan jiwanya setelah ditinggal mati Clothilde, telah mengubah pandangannya menjadi moralistik dan penuh gairah cinta. Baginya, reorganisasi masyarakat baru sempurna jika dibangun atas cinta dan moralitas dalam agama yang ia sebut agama humanitas. Setinggi apapun akal manusia, tetap tidak akan bisa mengalahkan moralitas yang menyatukan mereka. Comte melihat ini lewat sejarah agama zaman dahulu. Dengan menyingkirkan sifat tradisionalnya dan fokus pada faktor-faktor dari agama yang menyatukan masyarakat, Comte tetap menghendaki positivisme sebagai wujud akhir masyarakat yang teratur. • Karl Marx Karl Marx (lahir di Trier, Jerman, 5 Mei 1818 meninggal di London, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia. Karl Marx adalah seseorang yang lahir dari keluarga progresif Yahudi. Marx menjalani sekolah di rumah sampai ia berumur 13 tahun.Setelah lulus dari Gymnasium Trier, Marx melanjutkan pendidikan nya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835. Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme yang berasal dari kaum terpelajar dan politikus. Marx memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme. Karya dari Marc adalah Akhir dari Kapitalisme Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. Komunisme bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis.Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini.Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini. Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi.Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Pada abad 20 • Lucien Febvre Lucien Febvre seorang sejarawan perancis yang hidup pada masa kekacauan dunia akibat perang dunia 1 dan ke 2. Lucien Febvre ( 1878 – 1956 ) lahir dari seorang guru bahasa yang ahli dalam filologi. Febvre lahir di Nancy, bagian timur laut Perancis dan menghabiskan masa kecilnya di Lorraine . Oleh ayahnya, Febvre kecil dikenalkan dan diajari mengenai teks – teks kuno dan tata bahasa yang kelak akan sangat berpengaruh dengan cara berpikirnya. Masa kecil Febvre dihabiskan dengan belajar di Lycee louis – le – Grand dan ketika sudah menanjak remaja, pada umur 20 tahun dia pindah ke paris untuk masuk di Ecole Normale Supreiure. Ketika di sana, Febvre memfokuskan diri belajar mengenai sejarah dan geografi. Febvre telah menelorkan pandangan modernisme yang itu di luar pandangan sejarah yang kolot dan kuno. Dia tidak menyukai penggabungan – penggabungan dan rekonstruksi sejarah hanya berdasarkan pada peletakan fakta – fakta yang sistematis dan monoton. Lucien Febvre lebih menyelaraskan rekonstruksi fakta – fakta sejarah dengan dibumbui oleh teori – teori sosial seperti antropologi, sosiologi, ekonomi, geografi, filologi dan lainnya. Ini terlihat pada karya tesisnya yang berjudul Philip the Second’ dan ‘France-Comte’ yang diterbitkan tahun 1911 . Tesis ini menggambarkan apa yang Febvre katakan sebagai pendekatan sosial dalam penulisan sejarah. Febvre merekonstruksi kehidupan penduduk desa dan kota dalam sebuah provinsi tradisional kecil di Prancis dengan cara menyelaraskan fakta-fakta dengan keadaan geografi dan lingkungan dalam masa itu. Pemikiran yang mempengaruhi Febvre pada saat kemudian adalah mengenai Teologi atau lebih spesifiknya mengenai protestanisme. Ada beberapa penelitian yang dilakukan Febvre untuk studi mengenai teologi ini. Dia berusaha mengungkap bagaimana agama diterjemahkan oleh para biarawan dan pendeta – pendeta yang kemudian disampaikan ke masyarakat umum. Febvre sendiri menolak anggapan bahwa ada kekuatan – kekuatan di luar manusia. Dia sangat tidak setuju dengan terkekangnya manusia dengan agama dan cara berpikir kuno. Hal ini akan sangat berbahaya jika diterapkan pada kondisi masyarakat modern. Pemikiran ini hampir sama dengan seperti apa yang telah dikatakan oleh Marx bahwa “ agama adalah candu rakyat “ . Manusia akan teralienasi dengan dirinya sendiri jika agama ada dalam kehidupannya. Dengan agama, manusia akan semakin asing dengan dirinya sendiri dan akan kehilangan jati dirinya sendiri sebagai manusia. Karir sejarawan Febvre sedikit terhenti ketika perang dunia berkecamuk di daratan dunia. Dibantu oleh Henri Berr, pendiri jurnal Revue de Synthese Historique, Febvre sebenarnya berencana menulis sebuah kajian yang lebih umum mengenai hubungan antara sejarah dan geografi, namun rencana tersebut terganggu oleh pecahnya Perang Dunia 1 . Dia harus ikut berjuang membela negaranya pada perang ini. Ketika mulai ikut perang dia berpangkat sersan, dan ketika berhenti berperang dia sudah menjabat sebagai kapten. Salah satu karya Febvre yang fenomenal adalah Philippe II et la France-Comte’ : Etude d’histoire politique, religious et sociale. Karya ini berbicara mengenai wilayah France Comte’ ketika berada ddalam genggaman Philippe II dari Spanyol abad XVI. Yang menarik adalah Febvre tidak berbicara banyak tentang Philippe II. Tetapi lebih menelaah wilayah France-Comte’ yang unik. Buku ini menggambarkan dengan total analisis Febvre tentang konsep “kehidupan interior provinsi”. Ia juga melukiskan secara kompleks keadaan sosio-geografis masyarakat France-Comte’. Febvre semakin tergila-gila dengan hubungan antara sejarah dengan geografi. Terbitlah buku La Terre et l’evolution humaine. Buku ini berpijak pada pandangan Friedrich Ratzel bahwa lingkungan fisik menjadi fondasi tetap dari perasaan dan aspirasi manusia yang berubah-ubah dan juga menentukan nasib orang-orang dengan sangat kejam ( A geographical Introduction of History). Febvre menyampaikan 2 keberatan terhadap pandangan Ratzelian. Pertama, Febvre menekankan keberagaman respons yang diberikan terhadap lingkungan tertentu. Kedua, pengaruh lingkungan terhadap manusia selalu dimediasi ole hide-ide dan struktur-struktur masyarakat. Terbitlah buku A New Kind Of History. Dalam buku ini Febvre mengkritisi bahwa munculnya borjuasi menghubungkan 2 periode. Mengenai keterlibatan borjuasi pun sebenarnya telah dikritisi oleh Alexis De Torcqueville. Febvre semakin terjebak dalam periode abad renaisans dan reformasi. Lalu muncullah biografi mengenai Martin Luther. Buku ini berjudul Martin Luther : A Destiny. Luther dikenal sebagai tokoh reformasi agama Kristen dari dikotomi religiusitas. Pendukungnya memang banyak tetapi musunya juga banyak. Nietzsche pun sebagai kritikus moralitas terkejam mengakui bahwa karya-karya Luther merupakan karya-karya pedoman sekaligus karya sastra terbaik. Orang-orang berpendapat bahwa karya terbaik Febvre sekaligus terkontroversial adalah The Problem of Unbelief in The Sixteenth Century yang mencermati bahwa tuduhan Abel Lefrance terhadap Gargantua dan Pantagruel karya Francois Rebelais sebagai serangan terhadap Kristen adalah tak berdasar. Dia menunjukkan bahwa tuduhan yang ditunjukkan kepada Rebelais adalah ambigu setelah menjelaskan ide-ide para penerbit kecil, teolog, kontroversialis dan penyair. “Ateis” dijelaskan hanya sebagai rasa ngawur untuk menibulkan pelbagai kontroversi seputar itu. Febvre menolak alasan bahwa krya itu adalah karya seorang ateis. Menurutnya karya itu merupakan karya seseorang yang dipengaruhi oleh tradisi umum abad pertengahan memparodikan yang sakral. Akibat tanggapannya ini Febvre mendapat kritik tajam sekaligus membangun diskusi lebih lanjut mengenai masalah ini. Ada satu karya Febvre yang tidak dibahas oleh Marnie Hughes Warrington yaitu The Coming Of the Books. Buku ini dibuat berdua dengan Henri Jean Martin. Buku ini menarik karena membahas tentang perkembangan peredaran buku yang menjadi awal mula kapitalisme cetak berkuasa di dunia. Ada yang membuat buku-buku meledak dalam kurun waktu 1500-1600. Ini disebabkan pada saat itu Eropa sedang berada dalam ledakan kesejahteraan. Sehingga usaha percetakan menjadi alat komoditas para borjuis untuk mengendalikan kapitalisasi. Penulis terlaris dalam kurun waktu 1500-1550 adalah Martin Luther. Di antara selutuh buku berbahasa Jerman yang terjual antara tahun 1518-1525 buku Luther mencapai sepertiganya. Anderson mengungkapkan 3 fakta menarik tentang bahasa cetak. (1) mereka menciptakan ajang pertukaran dan komunikasi terunifikasi di bawah bahasa Latin dan di atas bahasa ibu-ibu lisan (2) Kapitalisme cetak memberikan kepastian baru kepada bahasa, membentuk membangun bangsa (3) Kapitelisme cetak menciptakan bahasa kekuasaan yang jenisnya berlainan dengan bahasa ibu yang dipakai dalam urusan administratif. Tidak dapat dipungkiri bahwa Febvre memberikan sumbangsih yang besar dalam perkembangan substansial sejarah. Sekilas kalau kita melihat Febvre kita menampilkan sosok Sartono Kartodirjo. Dua-duanya tidak selalu mengkultuskan seseorang dan selalu terlibat dalam substansi politik. Terakhir, Kant menjelaskan bahwa melihat sejarah perlu memenuhi 2 persyaratan, sebagai filsuf : memahami apa yang penting dalam kehidupan manusia, sebagai sejarawan : dapat menggabungkan sejarah dari semua zaman dan semua manusia dalam arti keseluruhan. • Marc Bloch March Bloch lahir di Perancis pada tahun 1886. Dia adalah putra dari Gustave Bloch, seorang Profesor bidang sejarah kuno keturunan Yahudi. Walaupun seorang sejarawan, Bloch juga memberikan kontribusinya pada Prancis ketika Perang Dunia II sebagai tentara berpangkat Sersa. Ketika belajar di Ecole Normale, Bloch menyelenggarakan debat antara sejarawan Belgia dan Prancis tentang hakikat dan natur sejarah. Ketika dia memformulasikan pandangan-pandangannya sendiri tentang sejarah, Bloch mulainya dengan membandingkan antara sejarah (ilmu sosial) dengan sains (ilmu alam). Menurutnya, sejarah dan sains memiliki perbedaan dalam menyelesaikan suatu fenomena. Dia berpendapat bahwa sains hanya mempersepsi fenomena yang ada hanya dengan kesadarannya, sedangkan sejarah mempersepsi fenomena yang terjadi dengan kesadarannya maupun kesadaran para agen sejarah. Ini berarti bahwa menurutnya, keragaman interpretasi terhadap kejadian atau fenomena yang telah terjadi dimungkinkan. Melalui penelitian terhadap catatan milik gereja di Paris, Bloch mencoba menghasilkan laporan sistematis tentang aspek sosial, legal, dan ekonomi dari seseorang yang terbebas terhadap jerat feodalisme di daerah tertentu. Selama setahun dia membuat peta yang menggambarkan lenyapnya perbudakan di Ile-de-France dan mengamati hakikat dan natur perbudakan di sana. Setelah itu, karya-karya Bloch semakin banyak diantaranya adalah: ladang-ladang terbuka dan tertutup di pedesaan Prancis, pembukaan tanah di sekitar Paris abad XI dan XII, peran pendeta dalam masyarakat dan ekonomi, kaitan antara monarki dan kaum tani, bentuk-bentuk peradilan feodal, dll. Dalam artikel pertamanya Blanche de Castille et les serfs du chaptire de Paris, dia mengemukakan bahwa ordonansi kerajaan tahunn 1251-1252 yang membebaskan beberapa petani, adalah merupakan tindakan monarki yang lemah. Dalam artikel-artikel yang dibuatnya, Bloch memberikan bukti-bukti yang mengagumkan hasil dari studi kritisnya. Dalm karyanya yang berjudul Les forms de la rupture de l’hommage dans l’ncien droit feiodal, dia memberikan sudut pandang yang berbeda dalam menyajikan masalah dalam sejarah. Melalui karyanya tersebut, Bloch berpendapat bahwa beragamnya tata cara masyarakat menentang jerat feodal menjadikan bukti bahwa peraturan dan praktek feodal tidak sama antara satu daerah dengan daerah lainya. dia juga menulis karya yang berjudul Les rois thaumaturges. Dalam karyanya ini, Bloch menilik dari kedokteran, psikologi, ikonografi, dan antropologi. Dia menganalisis asal usul, perkembangan, dan lenyapnya kepercayaan di Inggris dan Prancis pada kekuatan mukjizat kerajaan dalam mengobati penyakit radang kelenjar (Scrofula, seperti TBC). Menurut Bloch, sekitar tahun 1000-an Raja Prancis Robert memakai kekuatan ini untuk mengukuhkan legitimasi dan hak turun temurun keluarganya. Selanjutnya, Raja Henry I dan II mengadopsi praktek ini untuk mengendalikan kekuasaannya terhadap kaum pendeta. Menurut Bloch, klaim kekuasaan mereka bergabung dengan cita-cita Kristen tentang pemimpin yang terpusat, menghasilkan nuansa dan warna kerajaan. Oleh sebab itu, kekuasaan kerajaan di Prancis dan Inggris tidak saja dalam bentuk militer , legal, dan kelembagaan tapi juga dalam bentuk-bentuk mukjizat. Bloch juga menulis tentang peran perbandingan dalam sejarah. Meskipun dia bukan pencetus metode perbandingan, Dalam Pour une histoirie compareie des societies europeienes, bahwa masa depan sejarah tergantung pada pemakain metode perbandingan. Dalam karyanya ini terdapat 2 cara perbandingan. Pertama, mereka bisa mencari fenomena universal dalam budaya-budaya yang jauh masa ruangnya. Kedua, mereka bisa melakukan studi paralel terhadap masyarakat-masyarakat yang semasa. Bloch lebih memilih cara yang kedua, karena menurutnya itu lebih memberikan hasil yang lebih banyak dan lebih jelas. • Oswald Spengler Pemikiran sejarah visioner dari filusuf sejarah Oswald Spengler (1880-1836) tertuang dalam karya monumental yaitu Decline of the West (keruntuhan dunia Barat). Karya yang diterbitkan pada 1918. Dalam karyanya, Spengler meyakini adanya kesamaan dasar dalam sejarah kebudayaan besar dunia, sehingga memungkinkan ia dapat memprediksi secara umum tentang jalannya sejarah masa depan (the course of future history). Predeksi Spengler terutama menyatakan bahwa kebudayaan Barat telah menemui ajalnya (doom), setelah ia melihat awal dan berakhirnya kebudayaan Barat (the beginning of the end). Ia percaya bahwa setiap kebudayaan berlangsung melalui sebuah siklus mirip dengan siklus kehidupan organisme. Kebudayaan dilahirkan, tumbuh kuat (grow strong), melemah (weaken), dan akhirnya mati (die). Oswald Spengler yang dilahirkan di Blankenburg, Jerman Tengah berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan. Proses perputaran itu memakan waktu sekitar seribu tahun. Dalam karya monumentalnya Spengler meramalkan keruntuhan Eropa. Ramalan itu didasarkan atas keyakinan bahwa gerak sejarah ditentukan oleh hukum alam (fatum), yang dalam bahasa Jerman disebut schiecksal. Dalil Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segalanya sama dengan kehidupan tumbuhan, hewan, manusia dan alam semesta. Persamaan itu berdasarkan kehidupan yang dikuasai oleh hukum siklus sebagai wujud dari fatum. Fatum adalah hukum alam yang menjadi dasar segala hukum kosmos, setiap kejadian, setiap peristiwa akan terjadi lagi dan terulang lagi. Tiap-tiap masa pasti datang menurut waktunya, Itulah keharusan alam yang mesti terjadi. Seperti halnya historical materialism, paham Spengler tentang kebudayaan pasti runtuh apabila sudah melewati puncak kebesarannya. Oleh sebab itu keruntuhan suatu kebudayaan dapat diramalkan terlebih dahulu menurut perhitungan. Suatu kebudayaan mendekati keruntuhan apabila kultur sudah menjadi civilization (kebudayaan yang sudah tidak dapat tumbuh lagi). Apabila kultur sudah kehilangan jiwanya, maka daya cipta dan gerak sejarah akan membeku. Lebih lanjut Spengler membedakan dua pengertian yakni kultur dan zivilisation. Istilah pertama adalah kebudayaan yang masih hidup, sedangkan yang kedua adalah peradaban, atau kebudayaan yang telah mati. Dalam Decline of the West terangkum filsafat Spengler yang terangkum dalam tiga konsep yaitu relativisme, pesimisme dan determinisme. Pesimisme berati perkembangan masyarakat ditentukan oleh fatum, bukan manusia sehingga manusia hidup dalam sikap pesimis. Tidak mampu merubah keadaan. Dalam dunia Islam termasuk kelompok Jabariyah. Selanjutnya, determinisme berarti manusia tidak bisa menentukan jalannya sejarah. Perjalanan sejarah ditentukan oleh faktor dari luar diri manusia. Dan yang terakhir adalah relativisme. pandangan ini berarti merupakan konsekuensi bahwa sejarah tidak memiliki patokan yang jelas dan masing-masing kebudayaan memiliki isinya sendiri-sendiri. Dengan demikian suatu kebudayaan tidak pernah bisa dimengerti oleh kebudayaan lain. • Arnold Toynbee (1881-1975) Karya utama dari filusuf Inggris, Arnold Toybe adalah A Study of History. Tulisan ini banyak menimbulkan perdebatan panjang sejak zaman Hegel (1770-1831). Karya ini terdiri dari 12 jilid. Tiga jilid pertama terbit tahun 1934, tiga jilid kedua terbit tahun 1939, selanjutnya jilid tujuh sampai sepuluh terbit 15 tahun kemudian. Dasar karya besarnya tersebut adalah saat dimulainya Perang Dunia I. Toynbee sadar akan adanya kesamaan antara sejarah Yunani dan Romawi kuno dengan masa itu. Dengan demikian dia beranggapan mungkin ada kesamaan pola dimanapun dalam sejarah umat manusia, seperti halnya yang tercantum dalam Decline of the West karya Oswald Spengler. Prediksi Spengler terutama menyatakan bahwa kebudayaan Barat telah menemui ajalnya (doom) setelah dia melihat awal dari berakhirnya kebudayaan Barat. Spengler menggambarkan sikap pesimitis peran manusia dalam mempertahankan kehidupannya. Arnold Toynbee tidak puas dengan teori Spengler. Alasannya karena Spengler hanya mempelajari di peradaban yang sangat tidak memadahi dan pesimitis. Sehingga dalam karyanya A Study of History Toynbe menyatakan pemikiran visionernya untuk menjawab persoalan timbul-tenggelamnya peradaban dengan teorinya Challenge and Response (tantangan dan jawaban). Ia memberi contoh tentang kelahiran peradaban Mesir yang menurut pendapatnya merupakan sebuah respon terhadap tantangan kegersangan lingkungan alam sekitarnya yang mengancamnya, yaitu Padang Pasir Sahara. Dihadapkan pada tantangan ini, Mesir Kuno mengeringkan rawa-rawa di wilayah Sungai Nil bagian selatan dan diterusan dengan segala respons positif sehingga melahirkan peradaban besar dalam sejarah. Toynbe lebih menekankan peran manusia yang memiliki kekuatan untuk mengubah perjalanan masa depan dan tetap menjaga peradapan dari kehancuran. Ini tentu berbeda dengan Spengler yang beranggapan bahwa kehidupan kebudayaan manusia sama dengan kehidupan mahluk lainnya. Menurut Toynbe, unit yang tepat dalam studi sejarah bukanlah negara-negara bangsa (nation-states) atau periode, tetapi masyarakat secara keseluruhan. Dia meneliti sedikitnya 21 kebudayaan di dunia. Hasil dari temuannya itu menunjukkan bahwa timbul dan tenggelamnya kebudayaan disebabkan adanya Challenge and Response. Peradaban, menurut Toynbe, tumbuh karena adanya respon terhadap rangkaian tantangan-tantangan yang menjadikan sebuah spirit, seperti halnya di Mesir. Manusia merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dengan kekuatannya, manusia mampu menjawab tantangan yang ada. Itulah yang menyebabkan mengapa peradaban masa lampau mencapai panggung kemajuan yang tinggi. Arnold Toynbe adalah seorang filusuf sejarah yang berpandangan bahwa pola sejarah adalah siklis. Artinya sejarah itu berulang polanya. Adapun tujuan akhir sejarah menurut Toynbe adalah terciptanya masyarakat yang humanis kultural.

Gerakan perempuan

GERAKAN PEREMPUAN Sejarah pergerakan perempuan Indonesia merupakan suatu gerakan yang mempunyai proses panjang dan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk karena adanya peristiwa-peristiwa masa lalu dalam masyarakat seperti ada perasaan cemas dan keinginan individu yang menginginkan perubahan yang kemudian menyatakan dalam suatu tindakan bersama. Di Indonesia proses itu sudah terlihat sejak abad ke-19 dalam bentuk perlawanan. Perlawanan ini terjadi di berbagai wilayah yang dipimpin oleh para raja atau tokoh-tokoh adat, misalnya di Banten, Yogyakarta, Rembang, Maluku, Palembang, Aceh dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Gerakan yang terjadi merupakan suatu tindakan protes kepada keadaan, khususnya protes kepada semakin berkuasanya bangsa asing (Belanda), yang bermakna bahwa kebudayaan Barat semakin berkembang terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Perubahan yang terjadi adalah pergantian hirarki kekuasaan dan kepemimpinan yang dilakukan oleh penguasa asing dengan birokrasi secara Barat. Selain itu terjadi perubahan dalam bidang hukum dan ekonomi seperti dalam hak tanah, pemberian gaji buruh dan pembayaran sewa. Peraturan-peraturan yang dibuat oleh penguasa asing yang tidak dapat diterima oleh rakyat, karena peraturan yang dibuat dianggap bertentangan dengan nilai-nilai tradisional bahkan merupakan pelanggaran kepada keadilan, sehingga menimbulkan rasa cemas. Dan munculnya golongan elit baru yang memperoleh pendidikan dari pemerintahan Belanda. Timbulnya elit baru ini merupakan hasil perubahan yang terjadi dalam politik penjajahan Belanda yang dikenal sebagai Ethische Politik. Hal ini dilakukan karena Belanda telah memperoleh keuntungan yang melimpah-ruah dari sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang telah dilakukan sejak tahun 1830, sementara rakyat pribumi menderita kemiskinan. Dengan munculnya elit baru yang berpendidikan Barat, menyebabkan elit lama disisihkan oleh penjajah Belanda. Namun elit baru yang memperoleh pendidikan tidak langsung dapat meninggalkan unsur-unsur yang terdapat dalam kebudayaan asli, khususnya mengenai sikap hidup dan kesusilaan yang mempunyai kepentingan utama dalam kebudayaan Indonesia. Unsur-unsur ini tetap dipelihara dan dipertahankan. Nilai-nilai kebudayaan yang masih dipertahankan dapat diketahui dari para pemimpin yang telah memperoleh pendidikan Barat. Selain itu kumpulan surat-surat Kartini memberi gambaran tentang cara menjunjung tinggi kebudayaan asli. Dalam surat-surat itu dapat dilihat apa yang dirasakan oleh Kartini sebagai hal yang seharusnya menjadi perhatian bahkan menjadi penyokong bagi meningkatkan derajat rakyat terutamanya kaum perempuan. Perumusan nilai-nilai utama Kartini ditulis oleh Sukanti Suryochondro dalam bukunya yang bertajuk Potret Perkembangan Perempuan di antaranya berisikan: • rasa perikemanusiaan yang nampak dalam perhatiannya dan kasih sayangnya terhadap orang banyak. Karena kasih sayang itu Kartini bersedia berkorban dan mengesampingkan kepentingannya sendiri. • keagamaan yang menghubungkan segala pengalamannya dengan perintah Tuhan, dan pandangan agama yang sempit ditentangnya • rasa keadilan yang menentang bermacam-macam kepincangan dalam masyarakat kolonial; begitu pula ditentangnya hambatan-hambatan yang ada bagi kaum perempuan dalam masyarakat tradisional seperti peraturan-peraturan dan adat istiadat mengenai perkawinan dan lapangan pekerjaan • cita-cita demokrasi yang menjauhkan diskriminasi yang ditimbulkan oleh feodalisme; sikap yang membanggakan keturunan ningrat dikecamnya Nasionalisme yang menentang perbuatan-perbuatan penjajah yang menyebabkan penderitaan orang banyak; di samping itu ada rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri meskipun dihargainya pula hasil kebudayaan dan buah pemikiran bangsa-bangsa lain. Nilai-nilai yang ada dalam tulisan Kartini yang kemudiannya menjadi sebagai asas utama bagi pergerakan perempuan Indonesia bahkan bagi pergerakan nasional Indonesia secara menyeluruh. Nilai-nilai seperti perikemanusiaan, ketuhanan, keadilan, demokrasi dan nasionalisme kemudiannya dijadikan sebagai dasar falsafah negara Republik Indonesia yang lebih dikenal dengan Pancasila. Adanya tujuan baru yang ditandai dengan nilai-nilai pembaharuan yang menyebabkan kaum perempuan menginginkan perubahan-perubahan dalam tata kehidupan, karena banyak hal seharian tidak lagi sesuai dengan apa yang dirasa baik atau adil, maka timbullah gerakan untuk menghilangkan ketidakadilan yang dilakukan bersamaan dengan munculnya gerakan perempuan. Ketika masa prakemerdekaan, gerakan perempuan di Indonesia ditandai dengan munculnya beberapa tokoh perempuan yang rata-rata berasal dari kalangan atas, seperti: Kartini, Dewi Sartika, Cut Nya’ Dien dan lain-lain. Mereka berjuang mereaksi kondisi perempuan di lingkungannya. Model gerakan Dewi Sartika dan Kartini lebih ke pendidikan dan itu pun baru upaya melek huruf dan mempersiapkan perempuan sebagai calon ibu yang terampil, karena baru sebatas itulah yang memungkinkan untuk dilakukan di masa itu. Sementara Cut Nya’ Dien yang hidup di lingkungan yang tidak sepatriarkhi Jawa, telah menunjukkan kesetaraan dalam perjuangan fisik tanpa batasan gender. Apapun, mereka adalah peletak dasar perjuangan perempuan kini. Gerakan perempuan di tanah air sudah dimulai sejak 1910. Saat itu telah ada organisasi perempuan yang merupakan bagian dari Budi Utomo. Tapi sebagai organisasi yang berdiri sendiri, organisasi perempuan di Indonesia pertama kali berdiri pada tahun 1912, yang diberi nama Putri Mahardika. Perkumpulan ini bertujuan untuk memajukan pengajaran terhadap anak-anak perempuan dengan memberikan penerangan dan bantuan dana, mempertinggi sikap yang merdeka dan tegak serta melenyapkan tindakan malu-malu yang melampaui batas. Perkumpulan Kautamaan Istri didirikan pada tahun 1913 di Tasikmalaya, lalu pada tahun 1916 di Sumedang, 1916 di Cianjur, 1917 di Ciamis dan tahun 1918 di Cicurug. Pengajar yang terkemuka dari perkumpulan Kautamaan Istri di tanah pasundan adalah Raden Dewi Sartika. Sekolah Kartini juga didiriakan di Jakarta pada tahun 1913, lalu berturut-turut di Madiun tahun 1917, di Indramayu, Surabaya, dan Rembang tahun 1918. Perkumpulan Kaum Ibu didirikan untuk memajukan kecakapan kaum wanita yang bersifat khusus seperti memasak, menjahit, merenda, memelihara anak-anak dan sebagainya. Di Yogyakarta pada tahun 1912 didirikan perkumpulan wanita yang bersifat agama Islam dengan nama Sopa Tresna yang kemudian pada tahun 1914 menjadi bagian wanita dari Muhamadiyah dengan nama Aisyah. Di Minangkabau berdiri perkumpulan Keutamaan Istri Minangkabau dan Kerajinan Amal Setia yang berusaha memajukan persekolahan bagi anak-anak perempuan. Masa itu pergerakan perempuan Indonesia segera berperanan penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan memperbaiki kedudukan perempuan Indonesia. Pada 22 Disember 1928 diadakan kongres perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta. Kongres ini diikuti oleh 30 organisasi perempuan dari seluruh Indonesia. Pesertanya terdiri dari berbagai perhimpunan di antaranya perhimpunan pelajar, keagamaan, sosial, dan organisasi politik. Pada kongres tersebut di bentuklah gabungan badan-badan perhimpunan (federasi) diberi nama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI), merupakan gabungan dari tujuh organisasi perempuan yaitu Wanito Utomo (Perempuan Utama), Perempuan Taman Siswa, Putri Indonesia, Aisyiyah, Jong Islamieten Bond Bagian Perempuan, Perempuan Katolik dan Jong Jawa Bagian Perempuan. Pada awal penubuhannya PPPI pada 28 Oktober 1928 yang diketuai oleh R.AY.Sukanto dari organisasi Wanito Utomo, bertujuan mendirikan studifonds bagi membantu anak-anak perempuan yang tidak berkemampuan untuk bersekolah, dan memajukan pendidikan pramuka perempuan. Selain itu mencegah perkawinan anak-anak di bawah umur. Pada tahun 1929 PPPI namanya bertukar menjadi Perikatan Perkoempulan Isteri Indonesia (PPII). Pada tahun 1935 namanya berubah lagi menjadi Kongres Perempuan Indonesia (KWI). Sebelum berubah menjadi KWI perhimpunan itu lebih memfokuskan kepada masalah peranan domestik perempuan dan anak-anak saja, tetapi setelah menjadi kongres, barulah kemudiannya muncul organisasi-organisasi perempuan yang menyuarakan masalah perceraian sepihak yang dilakukan oleh laki-laki, dan KWI tidak bersedia bekerja sama dengan pihak kolonial. Beberapa organisasi perempuan mulai menunjukkan wacana politik dalam kegiatannya, dan pada tahun 1930 muncul organisasi Isteri Sedar di Bandung dipimpin oleh Sudinah, yang bertujuan mengajak kaum perempuan untuk bekerjasama dengan kaum laki-laki dalam memperjuangkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia dari cengkaman Belanda. Meskipun Isteri Sedar merupakan organisasi yang bercorak politik namun kegiatannya terkait erat dengan kepentingan perempuan, terutama meningkatkan keadaan kaum buruh perempuan. Pada tahun 1938 Kongres Perempuan Indonesia menyerukan semboyan baru yaitu “Pergerakan perempuan Indonesia sebahagian dari pergerakan kebangsaan Indonesia”. Gerakan yang dilakukan masa itu tidak hanya menghubungkan hak perempuan dengan nasionalisme, tetapi juga menggunakan pendapat nasionalisme untuk menuntut hak perempuan dan kesetaraan. Timbulnya pergerakan perempuan Indonesia dilihat dari perkembangan sejarahnya, gerakan yang terjadi bermotifkan semangat untuk memajukan bangsa, dan ini menentukan arah bagi perkembangan selanjutnya. Bahkan dalam pengertian gerakan perempuan Indonesia di dalamnya terdapat organisasi-organisasi perempuan yang berhaluan nasional. Dalam masa penjajahan Belanda sudah terbentuk organisasi-organisasi perempuan yang bertujuan meningkatkan derajat kaum perempuan, seperti perkumpulan untuk dapat ikut pemilihan umum dan perkumpulan perempuan rumah tangga. Namun perkumpulan ini tidak dianggap sebagai bahagian dari pergerakan perempuan Indonesia, dan mereka juga tidak tergabung dalam Kongres Perempuan Indonesia (Kowani). Manakala dalam keputusan Kowani bahwa pergerakan perempuan Indonesia adalah sebahagian dari pergerakan kebangsaan Indonesia, yang bermakna kaum perempuan juga mempunyai tanggungjawab dalam menentukan masa depan Indonesia. Oleh sebab itu diharapkan kepada perempuan masa itu harus berdaya upaya memperbaiki kedudukannya. Dalam pergerakan kebangsaan, kaum perempuan mengambil bahagian pekerjaan yang sesuai dengan tujuan dan sifat perempuan untuk menjunjung derajat Indonesia. Kongres Perempuan tahun 1935, bahwa pergerakan perempuan tidak hanya menginginkan kemajuan perempuan dan menghilangkan segala diskriminasi, akan tetapi harus ikut serta bertanggung jawab terhadap nasib bangsa. Ini merupakan suatu konsep yang menunjukkan kepada cita-cita yang sangat tinggi yang telah dicetuskan oleh pemimpin-pemimpin perempuan masa itu. Pada masa pendudukan Jepang, organisasi perempuan cenderung tidak berfungsi, karena masa itu yang boleh melakukan kegiatan hanyalah perhimpunan yang secara jelas menyatakan ikut membantu kepada usaha pembentukan “Asia Timur Raya”. Sebahagian dari mereka (Kowani) yang pernah aktif dalam pergerakan perempuan tidak mau bekerja sama dengan tentara Jepang yang telah memunculkan Fuzinkai (perkumpulan perempuan). Namun secara diam-diam mereka berusaha melawan masuknya budaya Jepang yang memandang rendah kepada perempuan. Setelah Proklamasi Kemerdekan Indonesia, organisasi perempuan yang masa pendudukan Jepang tidak melakukan kegiatan, mereka mulai bergerak kembali membantu mempertahankan kemerdekaan. Di bawah naungan republik yang baru perjuangan perempuan mengarah kepada reformasi undang-undang perkawinan untuk melindungi perempuan. Hal ini merupakan fokus utama untuk dibincangkan. Namun adanya perbedaan pandangan antara kelompok perempuan yang berlandaskan kepada agama dengan kelompok perempuan yang berpandangan sekuler, reformasi mengenai undang-undang perkawinan tidak lagi menjadi perhatian utama sejak 1948 terutama mengenai masalah berpoligami. Pada tahun 1952 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.19 yang membenarkan poligami, Namun Persatuan Perempuan Republik Indonesia (Perwari) yang dibentuk pada 17 Desember 1945 menolak PP No. 19 tersebut. Perwari merupakan gabungan antara Perwani (Persatuan Perempuan Indonesia) dengan Wani (Perempuan Negara Indonesia) beserta organisasi-organisasi perempuan yang mempunyai asas dan tujuan yang sama, yaitu yang mempunyai kegiatan dalam bidang sosial dan budaya. Peleburan yang berlaku bukan saja karena pertimbangan efesiensi kerja dan tenaga, melainkan juga dorongan rasa persatuan. Kemudian mereka mendesak supaya pemerintah segera mengeluarkan undang-undang perkawinan dan menghapus PP No.19. Pada 17 Desember 1953 secara serentak seluruh perwakilan Perwari yang berada di seluruh Indonesia mengadakan usul yang sama kepada pemerintah. Pada Maret 1958 Partai Nasional Indonesia (PNI) mengusulkan kembali Rencana Undang-Undang Perkawinan lebih radikal diajukan ke parlemen, yaitu menuntut monogami bagi seluruh bangsa Indonesia dan menjamin hak yang sama dalam perceraian bagi kaum perempuan, namun ide ini tidak memperoleh sokongan dari kalangan orang Islam. Walau bagaimanapun kemudian dicapai kesepakatan melalui buah pikiran Bhayangkari (organisasi isteri polisi), bahwa poligami dibenarkan bagi yang beragama Islam, tetapi undang-undang perkawinan tetap menganut asas monogami. Maka diluluskan undang-undang perkawinan pada tahun 1984, yang berlandaskan kepada Undang-Undang Perkawinan No.1/1974. Contoh kasus gerakan perempuan: Inong Bale: Salah Satu Bentuk Gerakan Perempuan Aceh Salah satu bentuk perlawanan perempuan Aceh atas derita yang dihadapinya melalui Inong Bale. Inong Bale menurut bahasa Aceh, sebenarnya bukanlah tentara perempuan. Melainkan perempuan yang telah ditinggal suaminya atau janda. Suaminya itu meninggal dunia, bisa karena ditembak atau mendapat perlakuan keras dari pihak militer atau kepolisian Indonesia. Hal ini yang menyebabkan mereka akhirnya menjanda. Fenomena Inong Bale ini muncul sekitar tahun 1989, saat "Operasi Jaring Merah" atau OJM diberlakukan di Daerah Istimewa Aceh, sebelum otonomi khusus diberikan kepada Aceh Operasi ini digelar karena adanya penyerangan-penyerangan secara sporadis terhadap pos-pos polisi atau tentara di beberapa wilayah Aceh. Dari penyerangan itu, bukan cuma senjata api yang hilang. Nyawa aparat keamanan juga banyak yang ikut melayang. Pelakunya tentu saja aktifis bersenjata yang menginginkan kemerdekaan dan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). OJM lebih banyak difokuskan kepada kegiatan intelijen. Penangkapan, kekerasan sampai pembunuhan dilakukan. Dampaknya, tentu saja memunculkan rasa tak simpatik di kalangan masyarakat Aceh. Karena rasa itu, kaum muda dan tua bergabung dengan GAM. Para janda yang suaminya hilang atau meninggal dunia akibat perlakuan aparat, akhirnya ikut pula bergabung. Dendam kesumatlah yang memotivasi mereka. OJM justru malah memperbesar jumlah mereka. Aksi penyerangan dan sabotase terhadap fasilitas militer dan kepolisian, justru makin intensif. Dinilai kurang cocok, akhirnya OJM dihentikan. Namun, operasi ala militer itu cuma berhenti tak lama. Era orde baru pun berganti menjadi era reformasi. Pada 1999, di Aceh lagi-lagi diberlakukan operasi militer dan mendapat cap baru menjadi Daerah Operasi Militer (DOM). DOM ternyata setali tiga uang. Tak jauh berbeda dengan OJM. Aksi kekerasan yang terjadi pun tak kalah serunya. Di sana-sani meninggalkan kekerasan dan menghilangkan nyawa. Di sana-sini pula menimbulkan dendam. Sebutan Inong Bale yang tadinya untuk janda, kini beralih. Kaum perempuan muda Aceh yang simpatik terhadap penderitaan rakyatnya sendiri, akhirnya ikut bergabung. Mereka memberikan segala kekuatan untuk mendukung perjuangan yang mereka yakini itu. Tak jarang, bergabung karena pelecehan atau diperkosa aparat. Julukan Inong Bale sebagai tentara perempuan itu diberikan Panglima GAM Tengku Abdullah Syafei. Tetapi nama itu sempat diganti menjadi Laskariyah dengan arti yang sama sebagai tentara wanita GAM. Nama itu diberikan Panglima GAM Wilayah Jeunib yakni Tengku Darwis Jeunib. Sebutan itu berubah dan kembali ke julukan seperti sebelumnya. Dari Inong Bale menjadi Laskariyah dan kembali jadi Inong Bale. Jumlah mereka tak ada yang pasti. Mediang Tengku Abdullah Syafei sempat mengklaim jumlah Inong Bale sekitar 2.000 orang. Klaim itu tak jauh berbeda dengan yang dikatakan juru bicara GAM Tengku Sofyan Daud. Namun, sumber Satgas Intelijen Komando Operasi (Koops) TNI di Lhokseumawe, Aceh Utara, menyebutnya sekitar 200-300 orang. Keberadaan mereka tersebar seantero Tanah Rencong. Keberadaan mereka memang tak perlu diragukan. Dalam penyergapan yang menewaskan tujuh anggota marinir di perbukitan daerah Matang Kumbang, Jeumpa, Bireuen, ditemukan mayat perempuan. Senapan laras panjang juga ditemukan di dekat dirinya. Baik pihak Koops TNI dan GAM, sama-sama mengklaim mayat wanita itu adalah tentara wanita GAM. Sumber: Suwondo, Nani, S.H. 1968. Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat. Jakarta: Timun Mas. R.A. Kartini. 1987, Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta: Balai Pustaka. Anshoriy, Nasruddin. 2008. Bangsa Gagal : Mencari Kebangsaan. Yogyakarta: LKiS. Setiawan, Hersri. 2003. Kamus Gestok. Yogyakarta: Gudang Press.

Tambo Alam Kerinci

Tambo Alam Kerinci (Versi 1) Menurut TAMBO, seorang tokoh yang bernama Iskandar Zulkarnain (Sultan Syamsun Sekendak) mempunyai istri yang bernama Zailun, menegakkan gedung di atas Bukit Qaf dan mempunyai 3 orang anak, yang merupakan asal dari Rajo nan Tigo Silo, yaitu: 1. Maharajo Alif (Sultan Muhammad Alif), memerintah di negeri RUM (Romawi) 2. Maharajo Dipang (Sultan Muhammad Dipang/ Depan/ Jipang) memerintah di negeri China/Jepang 3. Maharajo Dirajo (Sultan Muhammad Bungsu) memerintah di Minangkabau/ Pagaruyung Tersebutlah bahwa Sultan Maha Raja Bungsu (Maharajo Dirajo) mempunyai 8 (delapan) orang anak : a) Sultan Sri Maharaja, menunggu negeri Tiku-Pariaman. Melompat ke Natal lalu ke Sajak, itu sebabnya Raja Natal mendapat besar ialah dari Raja Tiku-Pariaman. b) Sultan Maharaja Besar Bergombang Putih, menunggu negeri Sungai Tarok. Melompat ke Bandar Sepuluh Pusat Jalo Kembang Lakitan, itu sebabnya Raja Bandar Sepuluh mendapat besar ialah dari Raja Sungai Tarok. c) Sultan Sri Pangkat, menunggu negeri Aceh. Melompat ke Tapak Han Batu Baru/ patah alon ombilin batubaro, itu sebabnya Raja Tapak Han Batu Baru mendapat besar ialah dari Raja Negeri Aceh. d) Sultan Sri Kali, menunggu negeri Indragiri. Melompat ke Kuantan lalu ke Pangkalan/ Pagar Alam, itu sebabnya raja Kuantan mendapat besar ialah dari Raja Indragiri. e) Sultan Makyin Batu, menunggu negeri Banten Betawi. Melompat ke Jawa Gersik, itu sebabnya Raja Jawa Gersik mendapat besar ialah dari Raja Banten Betawi. f) Sultan Muhammad Syah, menunggu negeri Indrapura. Melompat ke Muko-muko Teluk Air Hitam, ambil sakila Air Bangis, lapeh ke Lubuk Tumaouo, lapeh kasulak durian runtuh, lamo 60, lalu ke Lubuk Pisau-pisau di bawah kayu meradang merinai daun, lalu masuk ke Luak Enam Puluh, itu sebabnya Raja Muko-Muko mendapat besar ialah dari Raja Indrapura. g) Sultan Indah Rahim, menunggu negeri Palembang. Melompat ke Bugis/ Lapeh Kabigih lalu ke Musi lalu ke Ugam Kelam Mata lalu ke Serintik Hujan Panas, itu sebabnya Raja Bugis mendapat besar dari Raja Palembang. h) Sultan Bagindo Tuah/ Bagindo Tuo, menunggu negeri Jambi. Melompat ke Batang Hari muko di mudik Teluk Air Dingin, di kanan Rangas Bajalu di kiri Tanjung Simalindu, lepas ke Surampeh-Sungai Tenang lalu ke Kerinci Rendah Kerinci Tinggi, itu sebabnya Raja Batanghari mendapat besar ialah dari Raja Jambi. Tersebutlah seorang yang bernama Indarjati beristrikan Indi Jelatah melahirkan 2 orang anak, yaitu : a. Perpatih nan Sebatang Tinggal di Pariangan Padang Panjang b. Indarbayo ikut ke luhak Alam Kerinci. Indarjati dan anaknya Indarbayo merantau ke Alam Kerinci sedangkan Perpatih nan Sebatang tidak ikut serta. Kemudian di persiapkan alat untuk berangkat, yaitu : payung nan sekaki, tombak nan sebuah, keris nan satu, dan kambing nan seekor. Dalam perjalanan menuju Luhak Alam Kerinci, medan tempuh sangat sulit, setelah bermunajat kepada TUHAN, Allah menurunkan petunjuk dengan menerbangkan daun sintuh dengan berlabuh di Gunung Jelatang (Hiang Tinggi) sekarang. Tahun berlalu musim berganti, Indarjati dan istrinya mendapatkan keturunan 3 orang lagi, yaitu : Indar tunggal atau Indar Bersusu Tunggal, inilah yang biasa disebut “ Nenek Bersusu Tunggal " di Gunung Jelatang Pariangan Tinggi. Indar nan Beterawang Lidah tinggal di Gunung Jelatang Pariangan Tinggi Indi Maryam merantau ke Negeri Sembilan Malaysia. Indar Bersusu Tunggal menikah dengan dengan Samiah. Dari pernikahan ini ia memperoleh anak : a. Puti Dayang Indah tinggal di gunung Jelatang Pariangan Tinggi, Koto Jelatang Hiang Tinggi b. Puti Dayang Ramayah tinggal di Kemantan c. Puti (putri) Dayang Rawani di Talang Jeddah Jambi Kemudian Puti Dayang Indah melahirkan 5 orang anak,yang sampai saat ini disebut dengan NENEK LIMO HIANG TINGGI-HIANG KARYA, yaitu : a) Dari Indah b) Dari Setu c) Indi Cincin d) Mipin e) Mas jamain Puti Dayang Ramayah melahirkan anak satu orang , yaitu : Si Bungo Alam Puti dayang Rawani menikah dengan seorang laki-laki asal Jawa Mataram yaitu Diwan Abdul Rahman, melahirkan keturunan bertempat tinggal di jambi, yaitu : a) Karban b) Kartan c) Kalipan Lalu Puti dayang Rawani dan suaminya pergi ke Jawa Mataram dan melahirkan 3 orang anak yaitu : • Nahkudo Belang • Nahkudo Kumbang • Gajah Mada (Tertulis di aur Kuning berbahasa Jawa Kuno yang masih disimpan di rumah gedang nenek limo Hiang Tinggi- Hiang Karya) Dari Indah melahirkan pula : • Incik Permato Mendiami Koto Pandan Sungai Penuh • Intan Permato Mendiami Pulau Sangkar • Lilo Permato Mendiami Muara Kerinci Sandaran Agung (Sanggaran Agung) Dari Setu melahirkan keturunan tiga orang, Yaitu : • Pajinak mendiami latih Koto Limau Sering • Ungguk Mendiami Koto Beringin Rawang • Mangku Agung Mendiami Tebat Tinggi/ Sungai Tutung Indi Cincin melahirkan keturunan : • Si Jaburiyah (Ambai) • Si Jaburino (Betung Kuning) Mipin melahirkan satu orang yaitu Siti Padan (Koto Baru Hiang) Mas Jamain beruami dengan Sutan Maalim Hidayah asal Pagaruyung melahirkan keturunan • Serujan Angin (Temiai) • Tiang Bungkuk (Hulubalang Temiai) Dituturkan pula bahwa Indarjati yang gaib tiada kembali dalam persemediannya. Indar Bersusu Tunggal bergelar Depati Batu Hampar. Setelah melihat kehilir kemudik air laut telah surut, maka dipecahlah dan dibagilah pembagian wilayah untuk menunggu negeri, yang dibagi masing-masing : Incik Permato menunggu Latih Koto Pandan, Pondok Tinggi Pajinak menunggu Koto Limau Sering Sungai Penuh Ungguk menunggu Latih Koto Beringin Rawang Mangku Agung menunggu Tebat tinggi, Sungai Tutung Si Bungo Alam Menunggu Talang Banio Kemantan Puti Dayang Ramayah menunggu Kemantan Darat Dari pembagian inilah yang disebut Latih Yang Enam Luhak Alam Kerinci. Sementara itu di sebelah hilir, Serujan Angin menunggu Temiai yang mewarisinya Depati Muaro Langkap Lilo Permato menunggu Pulau Sangkar yang mewarisinya Depati Rencong Telang Intan Permato menunggu Sanggaran Agung dan Pengasi yang mewarisinya Depati Biang Sari. Kemudian Indar bersusu Tunggal diangkat pula Sultan Maalim Hidayah menjadi Depati Atur Bumi. Ini disebut Depati 4 Alam Kerinci, yaitu : • Depati Atur Bumi di Hiang/Depati Batu Hampar • Depati Biang sari di Pengasi • Depati Rencong Telang Di pulau sangkar • Depati Muaro Langkap di Temiai Ini disebut 4 diateh (Kerinci Tinggi) ,kemudian didirikan pula Kerinci Rendah (3 di baruh),yaitu:  Karban mewarisi Depati Setio Rajo di Nalo Tantan, Bangko  Kartan mewarisi Depati Setio Nyato di Perentak - Sungai Manau  Kalipan mewarisi Depati Setio Betui di Limbur Tanah Tumbuh Si Bungo Alam melahirkan tiga orang anak, yaitu :  Cik Kerah (Kemantan)  Cik Kudo (Kemantan)  Si Jago-jago Hulubalang Rajo Siulak Datang pula dari Jambi Bandaro Putih sebutan Pangeran Temenggung dengan membawa kain kehormatan di berikan kepada Depati Muaro Langkap di Temiai, Depati Rencong Telang di Pulau Sangkar, Depati Biang Sari di Pengasi dan Depati Atur Bumi di Hiang. Oleh Depati Atur Bumi di bagi pula kain kebesaran olehnya dengan delapan bahagian, yaitu : o Rawang Mudik : Depati Cayo Negeri o Rawang Hilir : Depati Mudo Manggalo Batarawang Lidah o Tanah Kampung : Depati Kepalo Ino o Semurup/Siulak : Depati Kepala Sembah o Koto Tuo/Sekungkung : Depati Kuning/ Depati Tujuh o Penawar : Depati Penawar/Depati Mudo Terawang Lidah o Seleman : Depati Tarah Bumi/Depati Serah Bumi Sirahmato o Hiang : Depati Atur Bayo INI DISEBUT NEGERI DELAPAN HELAI KAIN yang berpusat di Hiang, dan Hamparan Rawang sebagai Tempat Pertemuan/ Tempat Berunding (Mendapo Rawang). Di dalam Pepatah Adat, dikenal dengan istilah : Tiga Dihilir, Empat dengan Tanah Rawang Tiga DiMudik, Empat dengan Tanah Rawang Sungai Penuh mendapatkan kain nunggal satu helai dengan gelar : PUGAWE RAJO PUGAWE JENANG, Sungai Penuh dikenal juga dengan sebutan : SULUH BINDANG (suluh terang) ALAM KERINCI/ Suluh Bidang Depati IV Delapan Helai Kain, karena menjadi pusat dakwah ISLAM ketika itu, salah seorang Kiyai/pendakwah yang dikenal adalah : SIAK LENGIS. Daerah Sungai Penuh, Pondok Tinggi, Dusun Baru dipegang oleh : Depati Nan Bertujuh Permenti Nan Sepuluh Pemangku Nan Berdua, Ngabi Teh Santio Bawo. Adapun Pusako Pugawe Rajo Pugawe Jenang ialah Tombak Belang Berjanggut Jinggi. Adapun Pusako Depati Delapan Helai Kain adalah Tanduk Kijang Berjipang Tujuh. Pusako-pusako tersebut terletak di Sanggaran Agung. Kenapa diletakkan di Sanggaran Agung ?.. sebab disitulah TANAH BADIPAN, GEDUNG YANG SATU, BALAI BERGUNJUNG DUA. Ada beberapa peninggalan pusaka, diantaranya keris SAMAPI yang kini dinyatakan hilang, sedang tombak dan gading gajah masih tersimpan. Semua Pusako ini tersimpan di rumah pusako Depati Atur Bumi yang hanya di turunkan secara sakral bila ada kenduri sko. Empat diatas (Kerinci Tinggi) meliputi daerah kerinci yang pemerintahannya diselenggarakan oleh 4 Depati (Depati 4 Alam Kerinci), yaitu : Depati Muaro Langkap di Temiai (apo sebab bergelar Muara Langkap, karena beliau yang Melengkap Kato Rajo - Kato Jenang). Depati Rencong Telang di Pulau Sangkar (apo sebab bergelar Rencong Telang, karena beliau yang Menelan Kato Rajo - Kato Jenang). Depati Biang Sari di Pengasi (apo sebab bergelar Biang Sari, karena beliau yang Menyeri Kato Rajo - Kato Jenang). Depati Depati Batu Hampar/ Depati Atur Bumi di Hiang, Wilayahnya Meliputi Tanah Sebelah Barat Laut Dan Tenggara Danau Kerinci Sampai Gunung Kerinci (apo sebab bergelar Batu Hampar, karena beliau yang Menyapo Kato Rajo - Kato Jenang) Tiga di baruh (Kerinci Rendah) Yaitu : Depati Setio Rajo di Nalo Tantan, Bangko. Depati Setio Nyato di Perentak, Sungai Manau Depati Setio Betui di Tanah Tumbuh Tambo Alam Kerinci (Versi 2) Tersebutlah turun Nenek Indar Bayang dari negeri Koto Batu Bapagaruyung, ia hendak menjalang luak Kunci (Kerinci)/ Sungai Kunci, maka didaki gunung Singgalang, lepas dari gunung itu didaki pula Gunung Berapi, lepas dari gunung itu didaki pula Gunung Saga, tetapat di Pariang Padang Panjang. Maka di tempuh Pariang Padang Panjang, maka dia ruang rimba yang dalam, dia turun di pematang panjang, tetapat di ujung Tanjung Babunga Emas, dia hendak mendaki pula Gunung Jelatang, maka di daki Gunung Jelatang, berapa lama, dua kali tujuh hari, maka sampailah di puncak Gunung Jelatang, maka bertemu bidadari, turun dari langit yang ketujuh. Maka dia bawa balik ke ujung tanjung babunga emas, maka nikah Nenek Indar Bayang dengan bidadari, maka bergelar Dayang Seti Penghulu Alam. Maka beranak empat orang :  Dayang Seti Malin Alam  Bujang Pariang  Bujang Hiang  Seteri Mato Bujang Hiang balik ke Batang Bunga, bertempat di Tanah Abang, Bujang Pariang di Hiang, Seteri Mato dan Dayang Seti Malin Alam beranak lima orang :  Malin Dima (laki2)  Sejatah (perempuan)  Dayang Ruani (perempuan)  Dayang Indah (perempuan)  Dayang Ramayang (perempuan) Dayang Ruani balik ke Rantau Maju ialah itu nenek Pangeran di Jambi. Dayang Ramayang balik ke Kuta Tebat. Dayang Indah beranak lima orang :  Depati Batu Hampar  Dayang Mendayu  Dayang Bunga Alam  Dayang Padang  Dayang Marani Dayang Mendayu balik ke Gunung Urai, itulah Nenek Depati Mendaro Langkat itu adanya. Kemudian hamillah Sejatah dengan ditakdirkan Allah ta’ala. Jadi hendak dibunuh oleh Depati Hampar. Jadi berkatalah anak Sejatah dalam kalbu ibunya: “Jangan dibunuh Sejatah”, kemudian maka lahirlah anak Sejatah itu, yang bernama Sejatah Rupa Besusutunggang, kemudian ia bergelar Depati Hiang Tunggang, ialah itu anak Nenek Indar Jati adanya. Kemudian maka turun pula Nenek Siak Raja ke Alam Kerinci, dia menurut mamak dia Nenek Indar Bayang, turun dari negeri Kuto Batu Bapagaruyung. Adapun nenek Siak Raja anak Datuk Mahatamat dengan Puti Bunga Putih adanya. Maka turun Nenek Siak Raja, dua dengan Nenek Raja Bujang, tiga dengan Nenek German Besi, empat Ki Mingin Gedang Hidung. Raja Bujang jadi hulubalang dia, German Besi dengan Kamingin Gedang Hidung jadi orang perintahan dia. Jadi maka dia tempuh pula Pariang Padang Panjang, maka di ruang rimba yang dalam, maka dia turun di Pematang Panjang, maka tetapat pula di ujung tanjung babunga emas. Maka bertemu dengan mamak dia nenek Indar Bayang dirujung tanjung babunga mas. Jadi dia hendak mendaki pula Gunung Jelatang, maka nenek Siak Raja mendaki Gunung Jelatang, maka sampai ke puncak gunung itu, maka dia dapat batang langgiang segedang gendang, maka dia bawa balik ke ujung tanjung babunga emas, maka dia jadi akan gendang, maka bergelar Kuta Jelatang. Kemudian maka nikah Nenek Siak Raja dengan Nenek Dayang Bunga Alam, kemudian maka disuruh nenek Indar Bayang dia balik ke Tanjung Banio Kemantan Penawar Tinggi. Jadi maka bersiaplah nenek Siak Raja, maka baliklah nenek Siak Raja serta dengan perempuan dia, serta dengan rakyat dia tiga orang, empat dengan dia, lima dengan perempuan dia. Kemudian maka dia mudik akan batang Sangke, dia turun pula Pematang Panjang, maka tetapat di Tanjung Banto Kemantan Penawar Tinggi itulah adanya. Kemudian maka beranak nenek Siak Raja empat orang lima dengan Raja Bujang :  Raja Bujang  Raja Genti  Patih Nyadi  Sungai Teman  Seri Bunga Padi Raja Bujang balik ke Kuta Rawang, nikah dengan nenek Salih Pingat, maka dapat anak tiga orang:  Nenek Baco  Nenek Tiku  Nenek Bulan Nenek Tiku, Nenek Bulan balik mudik Kemantan Penawar Tinggi. Nenek Baco tinggal di Kuta Rawang Kampung Dalam. Nenek Rajo Genti dengan Patih Nyadi balik ke Dusun Tinggi. Nenek Sungai Teman tunggu Dusun Tanjung Melako Kecik. Nenek Seri Bunga Padi balik ke Sungai Tutung Dusun Bertangga Manik, nikah dengan Nenek Ji. Adapun Nenek Ji itu datang dari Tamiai. Adapun Nenek Raja Genti beranak tiga orang:  Nenek Madang  Nenek Pingat  Nenek Depati Kemulo Rajo Adapun Nenek Depati Raja Palimo Nenek Depati Talu Bumi. Adapun nenek Patih Nyadi beranak empat orang: Pertama Nenek Cempu, dua Nenek Santi, tiga Nenek Senang, empat Nenek Simat. Nenek Simat balik ke Tebat Ijuk itulah adanya. Tersebutlah turun Nenek Salih Kuning Indah Nyato dua beranak dengan Rio Lamenang turun datang negeri Kuto Batu Bapagaruyung. Dia hendak menghadapkan tombak nenek Siak Raja. Lah tinggal di negeri dia turun ke Alam Kerinci. Nenek Salih Kuning Indah Nyato berapa dia serempak turun; pertama Rio Lamenang, dua berinduk dengan Salih Kuning Indah Nyato, tiga dengan Intan Pemato, empat Lintang Permato, lima Mangkudun Sati. Rio Lamenang membawa tombak turun datang negeri Kuto Batu Bapagaruyung, maka dia tempuh Pariang Padang Panjang, diruan rimba yang dalam, dia turun Pematang Panjang, maka tetepat Kuto Jelatang, maka dia tanyo akan pada nenek Indar Bayang, apa kata nenek Salih Kuning Indah Nyato, di mana dia nusanak aku nama Siak Raja, aku hendak mengadapkan akan tombak kepada dia. Apa kata nenek Indar Bayang, Siak Raja lah pulang ke Tanjung Banio, Rio Lamenang balik ke Pangkalan Jambu. Intan Permato balik ke Koto Pandan, ialah Nenek Siak Langis. Lintang Permato balik ke Koto Baringin, Mangkudun Sati balik ke Kuto Limau Sering itulah adanya. Kemudian maka turun pula nenek Datuk Temenggungan dengan nenek Perpatih Sebatang datang negeri Kuto Batu Bapagaruyung ke Alam Kerinci. Maka dia tempuh Pariang Padang Panjang, maka diruan rimba yang dalam, maka diturun pematang panjang, maka tetapat Batang Sangke, maka dijejak Batang Sangke dengan masgul, maka bernamalah Batang Hiang. Jadi Pariang Padang Panjang negeri yang diturun ke Alam Kerinci. Maka dia hendak menghukumkan menga-adatkan Alam Kerinci. Manalah hukum dia nenek Perpatih Sebatang. Salah pauk dipampas, salah bunuh dibangun, babini ngulak dengan jantan bayar sako mahar, kok ngulak dengan perempuan tertulak purbakala. Undang2 balik ke Minangkabau, teliti balik ke Jambi. Apalah tinggal hendak depati empat, emas yang seemas tinggal hendak depati empat. Adapun jadi pake emas yang se-emas, kusut2 diusainya, silang2 bapatut, keruh2 bejernih, sarang2 bebagih, rangkang2 besusun, lapuk2 dibarui, kuman disesah. Kok lah terjun dipernaik, jikalau salah baliat, jikalau benar bajingok. Itulah yang dikatakan emas yang se-emas. Kemudian maka hilir nenek Perpatih Sebatang pake Jambi hendak menyancar pantak, maka bertemulah dengan Pangeran Temenggung, maka nenek Perpatih Sebatang menyancar pantak, maka dia bawalah pantak yang selapan belas, didilir sejak ditepat Pulau Tiung, dimudik sejak di Gading Terentak Gunung Berapi. Maka naiklah Pangeran Temenggung hendak mengukur akan gabung tanah. Maka dia bawa tali empat belas tukal, muwa kain panjang selapan. Didilir jak tetepat Pulau Tiung, dimudik jak Gunung Berapi Gading Terentak. Dapatlah tanah empat belas gabung di Alam Kerinci, bernama Depati Empat Delapan Helai Kain. Tersebutlah Nenek Seteri Mato hendak menurut Bujang Hiang ke Batang Bungo, maka dilepaslah kancil, hai kancil, pergi tengok Bujang Hiang di Batang Bungo. Maka berjalanlah kancil. Tiba di Batang Bungo, Bujang Hiang lagi menarah, maka duduk kancil dari belakang. Jadi terpancung beliung. Maka dilihat di Bujang Hiang, kancil sudah mati. Jadi diambillah tanduk kancil itu, maka ditaruh. Kemudian tiba pula Seteri Mato menurut kancil, didapatlah kancil sudah mati. Maka disuruh Bujang Hiang balik ke Kerinci, dia tidak mau. Maka baliklah Seteri Mato, maka dia bawa tanduk kancil. Maka baliklah Seteri Mato tiba di Bukit jalan ke Tebo. Maka bertemu dengan Depati Tujuh, jadi dia mau tanduk kancil, jadi dapat dibawa Patih Tujuh. Seteri Mato tinggal Pendung. Tanduk kancil dibawa Depati Tujuh. Kemudian maka adalah nenek Sungai Tenang tahu, jadi dia ambil tanduk kancil adanya. Inilah fasal menyatakan perjalanan nenek Sungai Tenang. Dia hendak menghadap ke tanah Jambi. Dia membawa tanduk kancil melalui jalan Serampeh Sungai Tenang, maka bermalam di Sungai Tenang. Maka dilibelah tanduk kancil dengan Tanduk Kijang Berjipang Tujuh. Tanduk Kancil tinggal di Sungai Tenang, Tanduk Kijang Berjipang Tujuh dibawa berjalan ke Jambi. Maka didaki bukit Kanujo, turun di bukit Kanujo tetepat di Batang Surulangun. Maka dia buatlah cerapung, sudah cerapung, maka dia ilirkan Batang Surulangun, maka tetepat di Batang Hari. Diilirkan pula Batang Hari, maka tetepat Ketepian Rajo, maka bertemu dengan orang tuo seorang dari tepian rajo itu. Maka berkata nenek Sungai Tenang, apalah kata dia. Hai orang tuo, mintak tanyo akan kepada Rajo, ada orang Kerinci seorang, hendak numpang bermalam ke rumah Rajo, adakah boleh atau tidak, jikalau boleh katakan boleh, jikalau tidak katakan tidak. Maka berjalanlah orang tua itu, maka sampailah ke rumah Rajo itu, maka berkatalah orang tua itu, apalah kata dia. Hai Rajo, ada orang Kerinci seorang di tepian. Dia hendak numpang bermalam ke rumah Rajo, adakah boleh dia bermalam, adakah tidak?. Maka berkatalah Raja itu kepada orang tua itu, apalah kata Rajo, Di mana boleh orang Kerinci hendak bermalam, tidak boleh, tidak pernah sejak dahulukala orang Kerinci turun ke Jambi, melainkan orang Jambi yang naik ke Alam Kerinci. Tidak boleh orang Kerinci hendak bermalam. Maka berbalik pula orang tua itu ke tepian. Maka berkata pula orang tua itu kepada nenek Sungai Tenang, hai orang Kerinci, tidak boleh kata Rajo. Maka tepekur dia dari tepian raja itu, dia menanti waktu magrib, dapat waktu magrib maka banglah (azanlah) nenek Sungai Tenang. Bunyi2 satu kali merato di bumi, satu kali di awang2, satu kali sampai ke langit yang ketujuh, dia bang di tepian. Maka berkata Rajo itu kepada si orang tua, siapa yang bang itu, bunyi dari tepian? Kata orang tua ialah itu orang Kerinci. Apalah kata rajo kepada orang tua, hai orang tua kata rajo, pergi jeput orang Kerinci iatu dan bawa ke rumah. Maka berjalanlah orang tua menemui orang Kerinci. Apalah kata orang tua, hai orang Kerinci, kata orang tua, hamba disuruh Rajo membawa orang Kerinci naik ke rumah Rajo. Maka berjalanlah orang Kerinci ber-sama2 dengan orang tua naik ke rumah Rajo itu. Maka ditepat rumah Rajo itu, maka terpekurlah di rumah Rajo, maka berkatalah Rajo kepada orang Kerinci. Apa kata Rajo, Apa sebab orang Kerinci tidak pernah sejak dahulu kala turun ke Jambi ?. Maka berkatalah nenek Sungai Tenang kepada Rajo, sebab hamba turun ke Jambi hamba hendak mengadu pusaka, hendaklah berhimpun Raja Yang Betigo: Pertama Pangeran Pendek, kedua Pangeran Buwih Sawi, ketiga Pangeran Gadis. Pangeran Pendek ngadakan Kelambu, Payung Satu Kaki. Pangeran Buwih Sawi ngadakan Lapik Utan, Pangeran Gadis ngadakan Piagam. Yaitu maka bergelar nenek Sungai Tenang dengan gelar Depati Sangkar Bulan Nyalo Bumi, Tanduk Kijang berjipang Tujuh tinggal di Jambi, Jadi Akan Tando Pangeran naik ke Alam Kerinci. Jikalau tidak dibawa Tanduk Kijang Berjipang Tujuh apabila Pangeran hendak naik ke Alam Kerinci, berarti bukanlah Pangeran. Maka pulanglah nenek Depati Sangkar Bulan Nyalo Bumi, naik ke Kerinci menjadi Rajo Mudo dengan Depati Sangkar Bulan orang bedua jadi seorang. Fasal daripada nenek Depati Sangkar Bulan nikah dengan nenek Dayang Ramayah di kuta Tebat, maka beranak tiga orang, pertama Dayang Padang, kedua nenek……………tiga Patih Agung Semung. Dayang Padang balik ke Kuto Padang, nenek Rio ialah nenek Depati Setuwung. Nenek Depati Semum balik mudik. Setelah Nenek Dayang Ramayah meninggal, maka baliklah Nenek Depati Sangkar Bulan ke dusun Tanjung. Kemudian nikah nenek Depati Sangkar Bulan dengan Dayang Payang Malila Alam orang Kuto Kepayang, maka dia bawa balik ke dusun Tanjung, maka beranak orang lima. Pertama Mit Dingin, dua Salih Kuning Lipat Kain, tiga Salih Kuning Nyato Alam, empat Salih Kuning Kunci Alam, lima Salih Kuning Bunga Padi. Mit Dingin balik ke dusun Sekandung nikah dengan Mayang. Salih Kuning Nyato Alam nikah dengan Pati Muda Kunci. Salih Kuning Kunci Alam nikah dengan nenek Malin Kiwai. Salih Kuning Lipat Kain nikah dengan Depati Agung Semum. Inilah fasal pada menyatakan Patih Agung Semum Panjang Rambut, yaitu tiga beradik, pertama Bujang Bentang, dua Ampar Besi, tiga Penghulu Bisa. Nenek Penghulu Bisa jadi Nenek Penghulu Bisa jadi imo putih. Adapun Bujang Bentang berempat di Pengasi, di atas lubuk kenung. Nenek Hampar Besi ialah itu nenek Pati Agung Semum Panjang Rambut. Tatkala masa itu nenek Sipati Setuweo dia didenda raja, sebab dia mengatakan tengkurak pandai berkata dalam kubur, jadi tedenda beliau itu dengan mas selesung pesuk, selengan baju panjang, seruas telang rimbo sekuning lembio. Nempuhlah nenek Hampar Besi, maka dia bawa orang ke dalam negeri, maka dia suruh menalak kerbau jantan, maka dia pehit akan tanduknya, maknya baradu, maka dia sekekeslah kerbau itu, jadi kelikinya gelang emas, jadi talinya candek, awaknya dipalut dengan lembenak, ekornya dikembang dengan suto, muka diberi berami-rami dengan gento bergiring jadi gentinya baju, tuak bakebuk, manis babuluh, nasi baambung, gulai babakung, pinang batanduk, sirih badagang, kalapa beratali, ketutu tigo gayo, ketitir panjang ranto, puyuh panjang dengung, ayam sibar ekor, maka diiritlah kerbau itu serta bunyi2-an maka diperhadapkan persembah kepada Pangeran. Tatkala masa itu maka bergelar Patih Agung Semum, balipuh di bawah daguk raja. Tatkala masa itu bergelar Depati Setuwu, sebab tauwo matanya menangis. Maka Patih Agung Semum balik mudik, Patih Setuwu tinggal di Kuto Tebat. Patih Agung Semum balik dusun Tanjung Melako Kecik, maka nikah dengan nenek Salih Kuning anak Nenek Depati Sangkar Bulan Nyalo Bumi. Nenek Salih Nyato Alam nikah dengan nenek Patih Mudo Kunci. Nenek Salih Kunci Alam nikah dengan Nenek Malin Kiwi. Adapun Nenek Depati Agung Semum beranak dua orang, pertama Nenek Agung Semum Awal Malilo, dua Patih Basemun Panjang Rambut. Adapun Patih Agung Semum Awal Malilo balik keluak Batu Asah. Patih Basemun Panjang Rambut bertempat di tengah negeri Dusun Tanjung Melako Kecik itulah adanya. Fasal ini pada menyatakan Nenek Mayang Pangkal dia datang dari Pulau Tengah, balik Kemantan Penawar Tinggi. Tiba Kemantan nikah dengan Mat Dingin, maka dia bawa balik dusun Sekandung, kemudian nenek Mayang hendak menjalang utang tanah, maka berjejak dari dusun Sekandung, datang dari dusun Sekandung lalu ke Medang Burung. Lepas di Medang Burung lalu ke Balam Pendek, lepas di Balam Pendek lalu pula ke Titin Teras, lepas di Titin Teras lalu pula ke Sungai Tutung. Maka dimudikkan pula itu, lalu pula ke Kuto Jelmu Salang ketapan belantak besi, lepas di salang ketapan belantak besi dikelembahkan pula itu impah ke Sungai Paku, maro air burung terung mati. Lepas di Sungai Paku lalu pula ke tanah Lekuk Darat Kubang. Lepas di tanah Lekuk, lalu pula ke Bintung begunting di ilir Tebat Ijuk, maka bertemu dengan Awal Malilo di Bintung Gunting, itulah akan jadi pantak dengan Awal Malilo. Lepas di Bintung Begunting dimudikkan pula Batang Marao, bertemu pula dengan Rio Caya Kakasigi, antara Kuto Majidin dengan Kuto Baru Semurup. Maka dikedaratkan pula itu, lalu pula ke bukit tapis, tiba dia di bukit tapis dia ilirkan pula itu ke Sungai Deras. Maka bertemu pula dengan nenek Siak Rajo di Sungai Deras. Maka dia usung utang tanah, maka dia sukat bagi yang berempat, hingga Sungai Deras Mudik, itulah bagi yang berempat. Lepas dari itu tetap Patih Adil Bicara dua dengan Menang Bumi tiga dengan Patih Basemun itulah adanya. Nenek Mayang dinikah oleh nenek Siak Rajo dengan Mat Dingin anak Nenek Depati Sangkar Bulan. Maka dia bawa balik ke Dusun Sekandung. Kemudian maka mudik nenek Dayang datang dari Pulau Tengah dia hendak menurut anak dia nenek Mayang, lah dahulu ke Kemantan, didapat alah sudah nikah, alah berutang betanah di Kemantan, alah beranak pula dia di situ di Kemantan. Anak dia maka bergelar Dara Mantan, maka nikah pula Dara Mantan dengan Awal Malilo, maka beranak lima orang; pertama Makimpang, dua Temenggung gelar Menti Agung, tiga Lilo Mangin, empat Seri Malin Bilal. Datuk Makimpang balik ke Kemantan, nikah dengan anak Patih Adil Bicara, maka jadi Nenek Hitam. Kemudian maka mufakat nenek Siak Rajo dengan nenek mayang fasal daripada utang tanah. Maka disukatlah bagi yang berempat, sejak di Sungai Deras mudik, itulah bagi yang berempat: Pertama Menti Agung, dua Datuk Orang Kayo Tengah, tiga Rio Pengagung, empat Rio Bigo, ialah itu dikatakan orang yang berempat, itulah baginya. Lepas dari itu tanah Patih Adil Rio Menang Bumi Ajo Lamayang, tiga Patih Agung semun. Fasal utang tanah jikalau di bangku orang, maka bedapati di Sungai Deras, maka bertemu dengan Patih Adil Bicara, dua Rio Menang Bumi, tigo Rajo Namiang dan menentukan pertemu utang tanah. Maka berkacaulah karang setianya. Dan jika dibelah dibangkung orang yang di dilir Rio Menang Bumi menukung penukung pantak. Patih Adil Bicara teleka dukung, jikalau siring yang di darat dibangkung orang Patih Adil Bicara menukung pantak. Rio Menang Bumi dengan Raja Nama yang teleka dukung sama-sama bersirih sama-sama bepinang, itulah buatan Siak Rajo sama-sama dengan nenek Mayang, tidak boleh diubahkan sebablah sudah dengan karang setianya.

Minangkabau masa Pendudukan Jepang

PENDAHULUAN Sumatera Barat, khusunya Minangkabau merupakan daerah yang strategis dari segi geografis dan politik hal ini terlihat bahwa pada masa pemerintahan Belanda, yang mendirikan Dewan Minangkabau (Minangkabau Raad) di Sumatera Barat yang di ketuai langsung oleh Residen Belanda dan Roesad Dt. Perpatih Baringek sebagai sekretaris. Seluruh anggotanya berjumlah 45 orang, 38 diantaranya orang Indonesia yang dipilih di bawah kontrol ketat pemerintah. Setelah terbentuk, anggota-anggota Dewan Minangkabau mengusulkan Muhammad Yamin menjadi wakil Sumatera Barat di Volksraad Batavia. Sedangkan pada masa awal pendudukan Jepang, Sumatera langsung ditempatkan dibawah pengendalian Departemen Pemerintahan Militer (Gunseibu) tentara ke-25 di Singapura. Pada tanggal 1 Mei 1943, Markas besar Komando ke-25 di pindahkan ke Sumatera yaitu di Bukittinggi, dan Sumatera menjadi daerah kekuasaan Jepang. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang juga mendirikan organisasi Kerukunan Minangkabau dengan tujuan sebagai jembatan hubungan personal antara Jepang dengan Sumatera Barat. Pada tanggal 29 Juni 1943, Pemerintah Jepang mengeluarkan kebijaka untuk membentuk tentara sukarela di Jawa, Sumatera, Kalimantan Utara dan Malaya dengan tujuan agar dapat membantu tentara Jepang dalam melawan tentara Sekutu. Sehingga Jepang memerintah untuk mendirikan Tentara Rakyat (Giyu gun atau Lasykar Rakyat) pada Oktober 1943. Dan inilah yang menjadi dasar kekuatan devisi benteng yang memimpin perjuangan militer di Sumatera Barat dalam melawan Agresi Belanda. Dengan itulah penulis mengambil tema ini, karena penulis menganggap bahwa pembahasan ini sangat penting untuk di pelajari jika belajar Sejarah Minangkabau. Penulisan artikel ini yang bertujuan untuk melihat bagaimana kondisi ekonomi, sosial dan budaya masayarakat minangkabau pada masa pendudukan Jepang, dan bagaimana bentuk perlawanan masyarakat Minangkabau pada masa pendudukan Jepang, serta untuk melihat berbagai organisasi yang didirikan pada masa pendudukan Jepang. ISI KONDISI EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU ERA PENDUDUKAN JEPANG Awal kedatatangan Jepang ke Sumatera Barat Ketika Belanda mengalami keruntuhan pada awal tahun 1942, ia meminta kesediaan rakyat Sumatera barat untuk bekerja sama menghadapi kedatangan Jepang dan ajakan tersebut di tolak oleh takyat. Di padang Panjang dibawah pimpinan Khatib Sulaiman dan Leon Salim membentuk suatu badan yang bertujuan untuk mengibarkan bendera merah putih sebagai pernyataan bahwa Indonesia masih ada. Namun, hal tersebut tidak berhasil karena ada beberapa anggota yang berkhianat dan beberapa orang pemimpin ditangkap oleh Belanda dan untuk di adili di Kotaoane. Pada bulan Februari 1942, Jepang mulai menginvasi ke Sumatera dengan menerjunkan pasukan payung di Palembang untuk mendahului rencana Belanda yang akan merusak instalasi minyak didekat kota ini. Balatentara Jepang menyebar ke arah selatan dan utara pulau Sumatera. Pada pertengahan bulan Maret, tepatnya tanggal 17 Maret 1942 tentara pertama Jepang mendarat di Sumatera Barat dan seluruh kota-kota penting didduduki oleh Jepang yang menyebabkan sepuluh hari setelah kedatangan tentara tersebut membuat komandan militer Belanda menyerah tanpa syarat. Hal ini berarti penguasa di Sumatera Barat berpindah dari orang yang terkenal rapi, teliti dalam masalah pemerintahan yang kejam dan buas di medan perang. Melalui mata-mata, Jepang meluaskan berita tentang kedatangan mereka untuk kebebasan daerah Asia dari kekuasaan imperealisme barat yang lama membelenggu bangsa di Asia . Sehingga, kedatangan mereka di Sumatera Barat mendapat sambutan yang meriah. Secara keseluruhan daerah Sumatera Barat berada di bawah komando kesatuan Tomi , kesatuan ini berpusat di Shonanto (Singapura). Dengan demikian, membuat Sumatera langsung ditempatkan di bawah pengendalian Departemen Pemerintahan Militer (Genseibu) Tentara ke-25 di Singapura. Tahun pertama pendudukan Jepang, fokus utamanya adalah untuk memfungsikan aparatur pemerintah di Sumatera, sehingga mereka dapat memanfaatkan sumber daya vital di pulau ini . Hal itu membuat tentara Jepang menghidupkan kembali sistem pemerintahan peninggalan Belanda dan mengangkat kembali sebagian besar mantan pejabat Indonesia yang pernah duduk di Pemerintahan Kolonial Belanda. Komando tentara ke-25 menganggap bahwa mereka tidak mungkin memerintah Sumatera dengan markas besarnya di Singapura, terutama dalam melindungi daerah di sekitar instalasi vital. Maka pada tanggal 1 Mei 1943 markas besar komando tersebut di pindahkan ke Bukit Tinggi, sehingga Sumatera menjadi satu-satunya daerah yang dikuasainya. Awal pendudukan Jepang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, A. W. L. Tjarda Van Starkenborg Stachouwer, dan Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda, Letnan Jenderal Hein Ter Poorten, menyerah tanpa syarat kepada jepang pada 9 Maret 1942 di lapangan terbang Kali Jati, Jawa Barat. Tetapi, Gubernur Belanda wilayah Sumatera, A. I. Spits, mendeklarasikan tentara Belanda di Sumatera akan terus berjuang hingga tetes darah terakhir. Ia menerapkan sisitem bumi hangus di Sumatera untuk menghambat laju pasukan Jepang, sehingga mengakibatkan negeri mereka hancur dan rakyat menjadi sengsara . Demonstrasi di pusatkan di Padang Panjang pada tanggal 12 Maret 1942, mereka meminta Belanda menyerahkan kekuasaan kepada pihak Indonesia sebelum tentara jepang memasuki Sumatera Barat sehingga merekalah yang akan berunding dengan tentara pendudukan Jepang . Sebelum belanda menjatuhkan vonis hukuman, bom Jepang mulai menghantam Kota Cane, sehingga pasukan Belanda terpaksa lari ke Gunung Setan. Dengan demikian, Jepang memasuki dan menduduki kota Cane serta melepaskan semua tahanan dari penjara. Dan chatib Sulaeman dan kawan-kawan di perbolehkan kembali ke Sumatera Barat. Ketika sampai di kaban Jahe mereka bertemu dengan utusan dari Padang yang dikirim untuk mencari tahu yang telah menimpa mereka. Akhirnya mereka sampai di Padang Panjang pada tanggal 2 April 1942. Namun, pada masa awal pendudukan Jepang, peristiwa yang terjadi di Padang banyak dipengaruhi oleh Soekarno yang dibawa oleh Belanda di Bengkulu tempat pengasingan sejak tahun 1938. Ketika pasukan Jepang mendarat di Palembang, Belanda mengatur pemindahan Soekarno ke Padang untuk menerbangkannya ke Australia. Tetapi, Soekarno masih berada di Padang ketika para tentara masuk pada tanggal 17 Maret. Soekarno telah memutuskan bahwa bangsa Indonesia harus memanfaatkan Jepang untuk mencapai cita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Sikapnya yang Kooperatif terhadap jepang, Soekarno berhasil mencegah tindakan kasr tentara jepang terhadap rakyat Sumatera Barat. Kolonel Fijiyama memimpin balatentara Jepang memasuki kota Padang setelah Belanda menyerah tanpa syarat. Sejak 17 Maret 1942, pasukan Jepang yang bersenjata lengkap terlihat di jalan-jalan kota Padang dan menguasai tempat-tempat strategis. Pada mulanya orang-orang tidak meras takut bahkan menyambut mereka dengan senyuman. Maka dalam tempo yang singkat, kota Padang di banjiri oleh orang-orang di sekitar Padang yang ingin melihat secara dekat tentara tersebut. Tetapi situasi berubah dan ketegangan meningkat karena tentara ini mulai menangkapi dan menyita setiap sepeda yang mereka temukan serta jam tangan. Sehingga masyarakat dengan cepat mulai menyembunyikan harta benda yang bisa memancing selera tentara jepang tersebut. Soekarno memuji Kolonial Fujiama, karena bertanggungjawab membentuk pemeritahan di kota Padang, dan Soekarno yang membujuk penguasa Jepang untuk mengirim beberap orang untuk mencari Chatib Suleiman dan kawan-kawan. Soekarno terpaksa ikut campur untuk Anwar St. Saidi yang ditangkap balatentara Jepang pada 3 April tiba di Padang Panjang. Orang-orang Indonesia di Bukit Tinggi telah mengibarkan Bendera Merah Putih berdampingan dengan bendera Jepang. Ketika disuruh oleh Jepang untuk menurukan Bendera Indonesia, Anwar memprotes dan dia dimasukkan kedalam penjara . Mendengar kabar ini, Soekarno melakukan pendekatan kepada penguasa Jepang untuk mengupayakan pembebasan Anwar dengan menceritakan kembali peristiwa yang sebenarnya sehingga Anwar dapat di bebaskan. Pada bulan Mei, Soekarno diizinkan kembali ke Jawa. Walaupun keberadaan Soekarno di Padang sampai bulan Mei 1942, tetapi ia berhasil membujuk sebagain besar tokoh Indonesia di Sumatera Barat untuk bekerjasama dengan Jepang. Tokoh-tokoh PNI Baru Sumatera Barat (partai Hatta dan Sjahrir) yang mengadakan rapat di kantor Bumiputera di Bukittinggi, perpecah dua ke dalam kelompok yang mendukung dan yang menolak untuk bekerjasama dengan Jepang. Sikap Jepang yang manis tidak bertahan lama, situasi di medan perang memperlihatkan gejala bahwa Jepang semakin terdesak oleh gabungan pasukan sekutu. Keperluan perang Jepang semakin meningkat sedangkan sumber penghasilan berkurang, sehingga rakyat di tempat yang dikuasai disuruh bekerja untuk kepentingan perang Jepang dan untuk membiayai Perang Asia Timur dengan apa yang mereka sediakan . Berbagai golongan masyarakat yang membenci tindakan Jepang, yaitu pertama, golongan politisi yang kontra, yaitu golongan yang awalnya tidak mau bekerja sama dengan Jepang karena tidak yakin bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Kedua, golongan politisi yang pro, yaitu golongan yang menganggap bahwa kedatangan Jepang dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai cita-cita mereka yang telah lama terpendam, yaitu untuk kemerdekaan. Ketiga, golongan masa bodoh, yaitu golongan yang hanya mencari keuntungan pribadi. Keempat, golongan pro Belanda, yaitu orang-orang bekas pegawai belanda yang masih menginginkan Belanda kembali berkuasa di Indonesia. Hal itu mulai dikurangi oleh para pemimpin masyarakat Sumatera barat. Sejumlah kelompok bergabung untuk mendukung Jepang. Soekarno membantu membentuk Komite Rakyat agar terdapat ketengangan di kawasan ini tetap terjaga di saat pasukan Jepang mengkonsolodasikan kekuatan, dan Chatib Suleiman dan Leon Salim mempersatukan seluruh organisasi pemuda yang ada menjadi Pemuda Nippon Raya. Tetapi pihak Jepang curiga terhadap dukungan ini, dan setelah kepergian Soekarno mereka membubarkan komite ini dan membubarkan Pemuda Nippon Raya tersebut serta para pemimpin-pemimpin organisasi ini di tangkap pada tanggal 14 November 1942 dengan tuduhan berpura-pura bekerja sama dengan Jepang padahal menentang mereka. Namun seminggu kemudian mereka di bebaskan. Pada bulan Agustus 1942 datanglah Yano Kenzo untuk memangku jabatan Gubernur Sumatera Barat dan memperbesar kiprah pejuang nasionalis setempat. Yano adalah sosok independen yang tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan Komandan Tentara ke – 25 di Sumatera. Ia kagum dengan masyarakat Minangkabau, terutama terhadap tradisi matrilinealnya, sehingga ia senang di foto dengan mengenakan busana tradisional Minangkabau. Ia mendirikan organisasi untuk jembatan hubungan personal dengan orang-orang Sumatera Barat, dan mengadakan pertemuan secara teratur di kediaman Gubernur, dengan anggotanya Chatib Suleiman, tokoh pendidikan (Mohammad Sjafei, Dt Madjo Urang) dan tokoh ulama (Syekh Djamil Djambek), serta Kolonel Fujiyama dan asistennya Wakamatsu . Sebagai pemimpin di Sumatera Barat, Kenzo Kano sampai di Padang tanggal 9 Agustus 1942 bersama dengan 68 orang pegawai sipil lainnya. Sumatera Barat yang ber-nama Sumatera West Kust diganti dengan nama Sumatera Neishi Kaigun Shu. Afdeeling yang dikepalai oleh Asisten Residen diganti dengan nama Bun, yang dikepalai oleh Bun Shu Cho. Onder Afdeeling yang dikepalai oleh kontroler dirubah menjadi Baku Bun Cho. Distrik yang dikepalai oleh demang dirubah menjadi Gun dan dikepalai oleh Gun Cho. Onder District yang dikepalai oleh Asisten Demang diganti dengan nama Fuko Gun (Kecamatan) yang dikepalai oleh Fuko Gun Cho unit pemerintahan yang terkecil yaitu Negara tetap dikepalai oleh seorang kepala nagari. Disamping lembaga Admi-nistrasi pemerintahan terdapat lagi beberapa lembaga administrasi yang bergerak dibidang lainnya. Diantara koperasi bentuk baru Kumiai dan Rukun tetangga Tonariguni. Anggota-anggota dewan penasehat informal gubernur ini menjadi kelompok mayoritas di Majelis Perwakilan Provinsi, Shu Sangi Kai, dan di Hokokai (Perhimpunan Kebaktian) cabang Sumatera Barat yang terbentuk pada tahun 1944 untuk wilayah Sumatera . Perhimpunan ini memungkinkan Chatib Suleiman dan kawan-kawan menjadi penasehat tetap gubernur, dan pengaruh mereka mulai mewarnai kebijakam gubernur. Di Minangkabau, pemerintahan telah bekerjasama dengan golongan adat, ulama dan kaum terpelajar. Pada lembaga adat dicoba mendirikan suatu lembaga yang bernama ”Balai Penyelidikan Masyarakat Minang-kabau” pada tahun 1943 dengan anggota terdiri dari orang dengan penguasa-penguasa adat dari berbagai daerah agar dapat mempelajari seluk beluk adat bagi kepentingan pemerintahan administrasi Jepang. Di pihak lain, seperti halnya dalam kelompok adat, Jepang juga berusaha mengumpulkan para ulama, yang terlihat dengan diadakannya konferensi Islam I di Singapura pada tanggal 5 sampai 6 Maret 1943. Sumatera mengirim 44 orang wakil, sementara Malaya mengirim 47 orang wakil. Arahan dan konferensi tersebut adalah: 1) Menjelaskan gambaran tentang dunia Jepang; 2) Menjadikan orang Islam supaya memahami pentingnya bekerjasama dengan Jepang; 3) Meyakinkan bahwa perkumpulan tersebut semata-mata untuk kepentingan umat Islam. Pada masa pendudukan Jepang di Minangkabau, perdagangan setempat menjadi lebih giat, baik dalam volume maupun dalam intensitasnya, meskipun perdagangan jarak jauh berkurang . Industri kecil seperti tekstil, di galakkan supaya dapat mencukupi kebutuhan sendiri ketika barang-barang untuk kegunaan sehari-hari bertambah sukar untuk di impor. Mobilitas penduduk meningkat karena adanya program pengerahan tenaga manusia setempat, seperti penerimaan tenaga untuk Heiho (tenaga bantuan untuk kekuatan militer) dan Romusha (tenaga kerja paksa) . Pada tanggal 29 Juni 1943, pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan pembentukan tentara sukarela di Jawa, Sumatera, Kalimantan Utara, dan Malaya untuk membantu balatentara Jepang untuk mempertahankan kawasan ini dari serangan balasan tentara sekutu. Hal ini terlihat bahwa meningkatnya kekhawatiran Tokyo sejak setahun pendudukan Jepang, sekutu akan melancarkan ofensif besar-besaran yang di tunjukkan ke ladang-ladang minyak Sumatera atau ke sepanjang pantai antara Burma dan Siam. Pada awal Oktober 1943, pemerintah Jepang mengeluarkan perintah khusus tentang pembentukan Tentara Rakyat (Giyu gun atau Lasykar Rakyat) . Sehingga dibentuklah Giyu gun di Sumatera Barat, dan Tentara rakyat sukarela ini yang menjadi inti kekuatan Devisi Benteng . Peranan Giyu gun memungkinkan tokoh-tokoh nasional setempat dapat memotong struktur administratif formal yang masih didominasi oleh pejabat-pejabat konservatif Indonesia didikan Belanda, dan menciptakan iklim yang ramah bagi terciptanya cita-cita kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda maupun Jepang. Giyu gun dan unnit-unit pendukungnya di Minangkabau memungkinkan terbentuknya jalinan relasi dan jalinan organisasi di daerah ini, yang mampu membangun solidaritas di kalangan rakyat Minangkabau apabila menghadapi ancaman dari luar. Ciri khas Giyu gun lokal dengan berbagai cara dibentuk oleh tokoh Sumatrea Barat Chatib Suleiman dan Gubernur Chokan Yano Kenzo. Dalam acara pertemuan Kerukunan Minangkabau pada akhir tahun 1942 Chatib Suleiman mengusulkan kepada Gubernur untuk membentuk Tentara rakyat sukarela di Sumatera Barat. Gubernur bersimpati dan melanjutkan usulan Chatib kepada Panglima Komando Tentara ke-25, Tabane di Bukittinggi. Setelah keberhasilan sekutu melancarkan serangkaian operasi militer yang memaksa Tokyo menyetujui pembentukan tentara lokal di beberapa kawasan Asia Tenggara. Rapat propoganda untuk pembentukan Giyu gun di Sumatera pada bulan Oktober 1943. Pada tanggal 14 Oktober 1943 Chatib Suleiman memelopori terbentuknya Kantor Pusat untuk pembentukan Giyu gun. Ia juga memimpin organisasi ini dan kawan-kawannya . Mereka memilih calon perwira dari orang yang sudah matang dan berpengalaman dalam pergerakan nasional sebelumnya tidak akan menjadikan mereka termakan oleh propoganda Jepang. Giyu gun Sumatera Barat berbeda menurut letak geografisnya. Tujuan Jepang membentuk tentara sukarela ini untuk membantu mempertahankan daerah ini dari invasi Sekutu melalui laut. Untuk itu Giyu gun mulanya dibentuk adalah di Padang dan di sepanjang kawasan pesisir. Resimen Ifanteri ke-37 Divisi ke-4 (Divisi Osaka) bermarkas di Padang dan ditugaskan untuk melatih unit-unit Giyu gun kawasan pesisir, pelatih terdiri atas perwira yang didatangkan dari Jepang yang kebanyakan bukan tentara profesional . Pada akhir tahun 1944, barulah Komando tentara ke-25 di Bukittinggi mengorganisir langsung unit Giyu gun dibawah komandonya didaerah daratan tinggi Sumatera Barat, dengan tujuan untuk memperkuat pertahanan komando tentara ke-25 karena beberapa kestuan tentaranya dikirim ke Burma untuk membantu menghalau serangan sekutu. Angkatan pertama perwira Giyu gun yang dilatih oleh Jepang mencakup empat orang pria yang menjadi tokoh utama pendiri tentara kemerdekaan daerah tahun 1945 . Sejak awal perekrutan, tokoh-tokoh Indonesia yang menjadi panitia penerimaan Giyu gun menekankan tentang karakter dan tujuan nasional dari laskar sukarela ini. Perhimpunan penghimpun Giyu gun bertindak sebagai penghubung antara tokoh-tokoh sipil dan militer dan mengumpulkan makanan serta pembekalan untuk laskar dari Nagari. Organisasi perempuan didirikan untuk mengumpulkan bahan makanan dan menyelenggarakannya berbagai bentuk dukungan sosial dan kesejahteraan bagi laskar indonesia, organisasi ini dinamakan Hahanokai . Ada beberapa perbedaan antara Giyu gun Sumatera Barat dan laskar sukarela yang dibentuk Jepang di Jawa (Peta) dan didaerah lain di Sumatera. Pertama, tidak kelihatan tokoh-tokoh nasionalis di daerah lain begitu berpengaruh dalam menentukan dan memilih perwira Giyu gun. Di Jawa perwira direkrut dari kalangan bangsawan setempat atau dari keluarga pejabat pemerintah; sedangkan di Sumatera Barat, tidak seorang pun perwira Giyu gun Sumatera Barat pernah mendapat pendidikan militer Belanda. Sementara di Jawa sebagian besar perwira seniornya termasuk para komandan militer Indonesia di masa depan . Serta perbedaan yang sangat penting adalah di Sumatera Barat Giyu gun adalah salah satunya kekuatan militer yang di bentuk Jepang, mereka tidak membentuk laskar islam terpisah seperti di Jawa dan tidak pula menciptakan unit-unit khusus yang berada di luar Laskar Rakyat seperti yang dibentuk di Sumatera Timur tahun 1945 yang digunakan sebagai pasukan pemukul dalam menghadapi pendaratan pasukan sekutu yang belum pasti dan ditakuti Jepang . Akhir Dampak kemunduran militer Jepang mulai terasa pada awal tahun 1944, karena tindakan penguasa militer Jepang yang meningkatkan suplai uang tanpa didukung dengan aset nyata yang menimbulkan inflasi yang parah. Sepanjang masa pendudukan Jepang terjadi ketegangan antara penguasa militer Jepang yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Gubernur Yano Kenzo di Padang . Kemunduran militer Jepang semakin parah pada tahun berikutnya, dan pemerintah militer Jepang menuntut lebih banyak dari rakyat Sumatera . Tetapi, pada akhir tahun 1944, situasi militer yang makin memburuk memaksa Jepang untuk mengambil langkah konkret dalam rangka menarik dukungan para politisi Indonesia. Lewat Deklarasi Koiso yang dikeluarkan pada tanggal 7 September 1944, Tokyo menjanjikan kemerdekaan negara Indonesia yang meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda. Tetapi, Komando Tentara ke-25 keberatan atas dimasukkannya Sumatera sebagai wilayah Indonesia yang dijanjikan itu, dan berusaha terus mempertahankannya sampai menjelang berakhirnya era pendudukan Jepang. Dalam rangka pemisahan Sumatera, penguasa militer di Bukittinggi mencoba mengambil langkah sementara dengan membentuk Chui Sangi In (Dewan Penasehat Pusat) seluruh Sumatera, yang melakukan sidang pertama pada bulan Mei 1945, yang di ketuai oleh Mohammad Sjafei dan Chatib Suleiman sebagai sekretaris, namun hal itu gagal. Sejak pendudukan Jepang, kontak-kontak antarprovinsi (Shu) di Sumatera sangat minim, karena pada tingkat inilah organisasi pribumi bisa berkembang. Dalam perkembangan sejarah Minangkabau, pola-pola kepemimpinan tradisional terlihat berjalan dengan harmonis sampai dengan masuknya pengaruh-pengaruh luar atau kekuatan-kekuatan asing. Namun setelah dominasi kekuatan asing, pola kepemimpinan masyarakat tradisional menjadi rusak. Pada minggu terakhir masa pendudukan Jepang, Komando Tentara ke-25 di Sumatera mulai bekerjasama dengan mitranya di Jawa (Komando Tentara ke-16) mengambil langkah kearah pemberian kemerdekaan bagi seluruh wilayah Indonesia. Komando Tentara ke-25 menunjukkan tiga wakil Sumatera untuk ikut dalam rapat. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di bentuk di Jakarta pada akhir Juli 1945. Tetapi, ketiga delegasi Sumatera tidak mempunyai basis nyata diluar provinsi asalnya, dan dua diantaranya bukan anggota Chuo Sangi In. Pada tanggal 9 Agustus, Marsekal Terauchi mengundang Soekarno dan Hatta untuk bertemu di kota Dalat, Vietnam . Dalam perjalanan kembali dari Vietnam, Soekarno dan Hatta singgah di Singapura, dan disini mereka ketemu dengan ketiga wakil Sumatera. Pada tanggal 14 Agustus, yakni tanggal menyerahnya Jepang kepada Sekutu, kelima tokoh ini dibawa ke Jakarta dengan pesawat militer Jepang. Tiga hari kemudian, pada tanggal 17 Agustus, ketiga delegasi Sumatera hadir dalam pembacaan kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno Hatta. PENUTUP Dengan mengisolasi daerah ini dari daerah lain di Sumatera, juga dari Jawa, Jepang secara tak langsung telah mendorong berkembangnya organisasi-organisai yang memiliki akar kekuatan lokal. Dengan tidak adanya kepemimpinan dan pemerintahan pribumi di seluruh kawasan Sumatera maka tanggung jawab untuk menggerakkan perjuangan kemerdekaan di Sumatera karena adanya organisasi-organisasi tingkat lokal. Keterasingan dari pusat ternyata tidak mengurangi ikatan psikologis dan kesetiaan orang Sumatera Barat kepada pemimpin nasional Indonesia di Jawa, yang khususnya tokoh-tokoh yang berasal dari Minangkabau. Jepang juga memberikan latihan dasar militer kepada sebagian besar pemuda Minangkabau, mereka juga memperoleh rasa percaya diri dan kebanggaan menjadi orang Asia. Hal itu terwujud dengan untuk pencapaian cita-cita kemerdekaan Indonesia. Pada masa pemerintahan Jepang, pejuang-pejuang nasionalis baik sekuler maupun keagamaan diberi kesempatan untuk tampil sebagai tokoh politik. Pada masa kepemimpinan Gubernur Yano, pada tahun 1920-an pejuang nasionalis diberi kesempatan untuk menjadi tokoh masyarakat di Minangkabau. Disisi lain, dengan dipertahankannya aparatur pemerintah Belanda oleh Jepang maka pejabat-pejabat yang selama ini di curigai rakyat karena menjadi pejabat pemerintah kolonial Belanda dan agen Jepang. Hal ini lah yang menjadi sasaran penduduk yang menderita dan marah bertekad untuk membalas semua ketidak adilan yang mereka saksikan didalam masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Kahin, Audrey. 2008. Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Kato, Tsuyoshi. 1973. Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah. Jakarta: Balai Pustaka. Ricklefs, M. 1998. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Serambi. Sejarah Daerah Sumatera Barat. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah 1976/1977.

islam di Minangkabau

ISLAM DI MINANGKABAU 1. Masuknya Islam di Minangkabau Awal masuk dan berkembangnya islam di Minangkabau menurut berita Cina dari dinasti T’ang menyebutkan bahwa sekitar abad ke-7 M (674 M) ada kelompok orang Arab (Ta-Shih) yang perkampungan mereka ada di pesisir barat Sumatera. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa islam datang dan berkembang di daerah Sumatera Barat baru sekitar akhir abad ke-14 M atau abad ke-15 M, dan islam sudah memperoleh pengaruhnya di kerajaan besar Minangkabau. Islam masuk ke Minangkabau massuk pada abad ke-15 M dapat di hubungkan dengan cerita yang terdapat dalam naskah kuno dari Kerinci tentang Siak Lenih Malin Sabiyatullah asal Minangkabau yang mengenalkan Islam di Kerinci, semasa dengan Puteri Unduk Pinang Masak, Dayang Baranai dan Perpatih nan Sabatang, yang kesemuanya berada di Kerinci. Islam masauk di Minangkabau pada awalnya yaitu di daerah Ulakan dan Pariaman yang dibawakan oelh Syeikh Burhanuddin langsung dari Makkah. Semua penduduk Minangkabau beragama Islam, menurut Umar Yunus jika ada orang Minangkabau yang tidak menganut Islam itu adalah suatu keganjilan. Weekers mengemukakan bahwa semua muslim Minangkabau adalah Muslin Sunni yang bermadzhab Syafi’i. Sumatera Barat khususnya Minangkabau merupakan daerah yang sangat berperan dalam penyebaran cita – cita pembaruan ke daerah-daerah lain. Di daerah ini lah tanda-tanda pertama dalam pembaruan yang pada waktu daerah lain seakan masih terasa puas dengan praktik-praktik tradisional mereka. Proses islamisasi di Minangkabau berlangsung intensif sejak abad ke-13 M sejak raja kerajaan Pagaruyung memegang agama Islam pada tahun 1960 dan bergelar Sultan Alif. Tome Pires (1512-1515) mencatat keberadaan tempat-tempat seperti Pariaman, Tiku bahkan Barus didaerah Minangkabau ada tiga raja yang diragukan apakah beragama islam atau tidak. Berita tentang perdagangan yang dilakukan melalui pelabuhan Pariaman, Tiku dan Barus yamng merupakan kunci utama untuk memasuki daerah Minangkabau. Dari ketiga tempat ini dihasilkan barang-barang perdagangan seperti emas, sutra, damar, lilin, madu, kamper, dan kapur barus. Setiap tahun daerah tersebut di datangi oleh kapal-kapal Gujarat dua atau tiga kapal yang membawa barang dagangnya, diantaranya yaitu pakaian. Sejak aabad ke-15 dan ke-16 hubungan antara Sumatera Barat melalui pelabuhan-pelabuhannya dengan berbagai negeri antara lain adalah dengan Aceh. Pada masa Iskandar Muda, Pariaman merupakan salah satu daerah yang berada dibawah kekuasaan kerajaan Aceh. Pada abad ke-17 M ada ulama terkenal di Sumatera Barat yang merupakan salah seorang murid Abd. Al-Rauf Al-Sinkili yang bernama Syekh Burhan Al-Din (1646-1692) di Ulakan. Ia mendirikan surau dan Ulakan merupakan pusat keilmuan Islam di Minangkabau. Tarekat Syathriyyah yang diajarkannya tersebar di daerah Minangkabau dan ajaran Tasawufnya cenderung kepada Syari’at dan dapat dikatakan sebagai ajaran Neosufisme. Ia dikenal di kalangan masyarakat sebagai Tuanku Ulakan. Menurut Christine Dobbin merupakan Islam merupakan tambahan dari apa yang sebelumnya dan ini terlihat di Minangkabau yaitu yang bercorak mistik yang hadir dalam bentuk tarekat-tarekat seperti Naqsyabandiyah, Shattariyah, Qadiriyah, dan lain-lain. Corak yang seperti itu mrmudahkan masyarakat untuk memeluk agama islam tanpa harus pertentangan dari adat. Tetapi sejak munculnya gerakan untuk pemurnian di Arab, yang kemudian dibawa ke Indonesia, islam yang seperti itu dianggap menyimpang dari ajaran islam yang murni, yankni yang disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dan para Khalifahnya. Sehingga diperlukan pemurnian. Penyebaran islam yang sifatnya pembaruan dan berjangkauan lebih jauh lagi mencapai klimaksnya pada awal abad ke-19, yang dipelopori oleh 3 orang haji dari mekkah yang membawa ajaran Wahabi, yaitu Haji Miskin, Sumanik dan Piobang yang disebut sebagai gerakan Paderi. Namun, gerakan pemurnian ini gagal secara politis dan keagamaan. Hal itu dikarenakan sikap Schumann yang konservatif. Gerakan ini tidak mempertimbangkan bahwa suasana kehidupan di Arab tidak hanya di dasarkan pada ajaran agama tetapi juga akar-akar tradisi arab yang tidak bisa di pisahkan satu sama lain. Kelompok-kelompok yang terlibat dalam simbol-simbol keagamaan memiliki kesamaan dengan mereka yang terlibat dalam simbol-simbol kesukuan. Pesan-pesan simbolik yang berkarakter majemuk dizaman penjajahan digantikan oleh kekuasaan muslim setelah kemerdekaan. Karena agama Budha, Katolik dan Protestan diakui oelh ideologi negara pancasila, maka kaum muslim harus menampilkan argumen yang tidak berseifat keagamaan dalam mengekang warga lain yang kepercayaannya berbeda. Terdapat dua jenis simbol yang relevan, yaitu prosesi dan rumah ibadah. Prosesi adalah simbol yang sangat kuat sebab ia merupakan pokok tahunan, menimbulkan banyak kegembiraan, dan menyatukan masyarakat dalam tindakan komunal. Diawal abad masa penjajahan, ada tiga prosesi keagamaan yang penting, yaitu tabuik, barongsai dan paskah. Setelah kemerdekaan, prosesi warga katolik pada hari paskah, perayaan untuk memperingati hari kebangkitan Isa Almasih pernah dilarang sebab mengganggu mayoritas muslim. Pada tahun 18-an, prosesi ini diperbolehkan utnuki beberapa kali tetapi hanya dilaksanakan diantara gereja dan pusat olahraga katolik roma. Kaum muslim mengadakan pestival tabuik. Beberapa desa membuat konstruksi dari bambu yang disebut dengan tabuik, yang melembangkan buraq, sejenis burung yang membawa mayat Husein ke surga. Buraq adalah semacam mitos yang berbadan kuda, berkepala wanita, dan bersayap seperti elang. Husein terbunuh dan mayatnya dipotong-potong dalam perang sepuluh hari krbala untuk mencari pengganti khalifah di tahun 680 M. Tabuik diperkenalkan di Sumatera Barat dan Bengkulu oleh prajurit india selama pemerintahan Inggris (1795-1819). Festival ini berasal dari Islam Syi’ah, namun dirayakan oleh muslim Sunni di Sumatera Barat. Festival ini dirayakan mulai tanggal 10 Muharram, yang dulunya ditandai dengan reaksi agresif antara beberapa perkampungan, diawali dengan poengambilan tanah, lalu membungkusnya dengan kain putih yang melambangkan mayat Husein. Sampailah pada puncaknya, tabuik dibawa keluar dan di arak keseluruh bagian kota, kemudian di lemparkan kelaut. Perayaan tabuik ini sudah berkembang mulai zaman penjajahan Belanda. 2. Pusat-pusat Islam di Minangkabau Ciri utama dari pandangan hidup Minangkabau pada abad ke-19 adalah tumbuhnya tradisi-tradisi islam lokal. Minangkabau bersama-sama dengan Aceh sudah menjadi pusat studi Islam yang cukup penting. Payakumbuh dan Pariaman khususnya sebagai pusat poendidikan Islam yang menghasilkan banyak tokoh-tokoh agama (ulama terkenal). Kedua daerah tersebut memiliki sekolah-sekolah (surau) agama yang terkenal secara luas. Marsden memberikan kesannya bahwa Minangkabau penting dalam dunia Islam; orang-orang Sumatera yang tidak mampu untuk emnunaikan ibadah haji mekah paling kurang berusaha mengunjungi salah satu dari pusat pendidikan Islam di Sumatera Barat. Surau yang paling terkenal di Sumatera Barat dan menjadi contoh yang baik tentang keberhasilan meletakkan dasar pendidikan Islam, serta terus melanjutakan ajaran yang dirintis oleh para pendirinya yang terdahulu adalah “Surau Ulakan” yang terletak di sebuah nagari kecil dikawasan pantai dekat Pariaman. Ulakan ini dianggap sebagai pusat keagamaan tertua di Minangkabau. Tokoh utamanya adalah orang keramat yaitu Syekh Burhanuddin, seorang ulama dari abad ke-17 yang dilaporkan bahwa ia adalah orang yang pertama kali mkendengarkan tentang Islam dari seorang pelaut muslim, sehingga mengunggahnya untuk pergi ke Aceh untuk mempelajari Islam lebih jauh. Setelah kembali ke Sumaterea Barat, ia mendidirikan pusat latihan dalam pendidikan Islam di Ulakan utnuk membekali murid guna untuk menyebarkan Islam di Minangkabau. Tetapi ajaran Islam yang ia kembangkan lebih dititik beratkan dalam penanaman agama dengan ajaran mistisme dan lebig di fokuskan terhadap figur Syekh itu sendiri. Pusat-pusat agama Islam yang paling awal juga dikembangkan sebagai persaudaraan yang bersifat mistik atau tarekat. Para pengikutnya mencari pengalaman sporotual dan mistik dengan dibimbing oleh ulama yang menjadi guru dan permimpin mereka. Pusat-pusat studi Islam di surau-surau tersebut merupakan basis utama dari orang Minangkabau yang masuk islam. Murid-murid yang sudah maju mekanjutkan pelajuarannya ke Aceh dan ke Timur Tengah ataupu India; setelah mereka pulang, mereka turut membantu bekas gurunya dulu atau mendirikan surau baru dimanapun. Jenis ajaran Islam yang disebarkan dari pusat-pusat studfi islam tersebut menitikberatkan ajaran dengan menanamkan uunsur mistik dan tidak begitu dekat hubungannya dengan agama yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi berkembang ajaran islam sebagaimana yang dipraktekkan di Makkah maupun di Madinah sejak periode yang sama. 3. Peninggalan-peninggalan Islam di Minangkabau Masjid utama yaitu Ganting, terletak agak jauh dari pusat. Semenjak pusat pemerintahan dan ekonomi pindah kepusat dari daerah pinggiran kedaerah sungai, dua masjid baru yang besar di bagun yaitu masjid Nurul Iman dan Takwa, dibangun di pusat kota sekarang ini. Pembangunan mesjid tertua Ganting di mulai pada tahun 1866 dan penyelesaiannya memakan waktu selama dua puluh tahun. Masjid ini disebut dengan masjid adat sebab berada di bawah bimbingan pemuka adat hingga tahun 1958, dan KAN Nan VIII suku yang baru berharap bisa m,engendalikan mesjid ini lagi. Masjid ini mempunyai mimbar di luar bangunan, yaitu di bagian depan, tempat pemimpin suku memberikan ceramah kepada jamaah pada Idul Fitri. Pada tahun 1957, Muhammadiyah mulai membangun pengganti mesjid kayu tersebut yang disebut masjid Raya yang dibangun dengan menggunakan batu bata. Pada waktu yang bersamaan, pemerintah bersama angkatan senjata nasional mulai membangun Mesjid Nurul Iman di Padang sebagai isyarat perdamaian setelah melakukan penindasan terhadap PRRI. Pada tahun 1960-an terjadi persaingan yang ketat di antara kedua masjid ini untuk menjadi yang terdepan. Masjid Nurul Iman dibangun dalam dua tahap, dan diresmikan pada tahun 1977. Masjid Muhammadan adalah salah satu masjid tertua di Indonesia sekaligus cagar budaya yang terletak di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid ini merupakan masjid peninggalan sejumlah Muslim keturunan India di Padang yang dibangun pada tahun 1843. Masjid dengan arsitektur bercorak India ini berada dalam kawasan Kota Tua Padang, yakni kawasan sehiliran Batang Arau di sekitar pelabuhan Muara. Keberadaan masjid ini turut berperan dalam penyebaran agama Islam dan perjalanan sejarah Kota Padang. Masjid ini berada di Jalan Pasa Batipuh yang berdiri berjejer mengikuti rangkaian bangunan tua di sepanjang jalan tersebut. Saat ini selain digunakan untuk aktivitas ibadah umat Islam, masjid berlantai tiga ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar, bahkan juga menjadi salah satu daya tarik wisata terkenal di Kota Padang. Daftar Bacaan Colombijn, Freek. 2006. Paco – Paco (Kota) Padang: Sejarah Sebuah Kota di Indonesia pada Abad ke-20 dan Penggunaan Ruang Kota. Yogyakarta: Ombak. Djoened, Marwati Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: balai Pustaka. Aritonang, Jan S. 2012. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Graves, Elizabeth E. 2007. Asal – Usul Elite Minangkabau Modern: Respons Terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX. Jakarta: Obor Indonesia. Kato, Tsuyoshi. 2008. Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah. Jakarta: Balai Pustaka.

peristiwa sekitar proklmasi

Sekitar Proklamasi (12 s.d. 17 Agustus 1945) 1. Peristiwa Jakarta-Dalat-Jakarta Pada tanggal 9 Agustus 1945, tiga tokoh sekaligus pemimpin Indonesia yang menjadi unsur pimpinan PPKI dan BPUPKI yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Wediodiningrat diminta datang ke Vietnam, ke markas besar panglima tertinggi tentara Jepang di Asia Tenggara, Maesecal Terauchi, markas ini terletak di Dalat. Karena Soekarno sedang sakit maka ia ditemani dokter pribadinya yaitu R. Soeharto. Mereka juga disertai oleh dua orang Jepang sebagai pengantar dan juru bahasa, mereka adalah Nomura dan Myoshi. Pada tanggal 12 Agustus, ketiga pemimpin ini diterima oleh Jendral Besar atau Marsekal Terauchi. Pemerintah Dai Nippon sudah memutuskan untuk segera memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Dalam pertemuan itu, Terauchi juga menyampaikan daftar 21 Anggota PPKI yang dibentuk tanggal 7 Agustus, dan Sidang pertaman PPKI harus diadakan paling lambat tanggal 18 Agustus. Dalam perjalanan pulang melalui Singapura, mereka bertemu dengan dr. Amin, mr. Teuku Muhammad Hasan, dan mr. Abdul Abas, tiga anggota PPKI yang sedang menuju Jakarta untuk menghadiri sidang PPKI tanggal 16 Agustus. Pada tanggal 14 Agustus 1945, ketiga pemimpin Indonesia itu tiba di Jakarta. Banyak perubahan yang terjadi di Jakarta, misalnya aktivitas mahasiswa dan kelompok pemuda dan antisipasi sejumlah anggota Peta yang bersiaga-jaga terhadap kemungkinan menyusul kekalahan Jepang satu persatu di berbagai daerah pendudukan. Namun, hal itu di sembunyikan oleh Tedauchi, karena Jepang masih mempropogandakan kejayaan prajuritnya. 2. Peristiwa Rengasdengklok Berita tentang kapitulasi Jepang dan rencana Belanda untuk kembali yaitu melalui radio-radio klandestin, dengan mengembangkan situasi revolusioner di Jakarta. Walaupun para pemuda sudah diintriogasi oleh Jepang, namun mereka sudah mengembangkan rasa percaya diri didalam diri mereka sendiri serta sikap yang kritis terhadap orang Jepang. Mereka merasakan bahwa sudah saatnya untuk melakukan suatu tindakan untuk memproklamasikan kemerdekaan sebagai bentuk kulminasi Pergerakan Nasional. Mereka menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia harus bebas dari keterlibatan pihak Jepang. Bagi Jepang kemerdekaan merupakan hadiah bagi dunia internasional sesudah PD II tanpa memperdulikan anggapan Belanda, namun untuk menyakinkan Amerika dan Inggris tentang kemerdekaan Indonesia merdeka bukanlah sebagai bom waktu. Sedangkan para pemimpin tua, generasi Soekarno dan Hatta menganggap bahwa mereka harus memastikan kenetralan Jepang terhadap proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Mereka menghindari konfrontasi dengan Jepang karena pengalamannya dalam Pergerakan Nasional adalah suatu perjuangan politik dengan menggunakan jalan damai. Sedangkan para nasionalis yang lebih muda tidak segan-segan untuk menggunakan kekerasan karena mereka dibesarkan dalam suasana perang. Perbedaan paham yang seperti ini dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok, para pemuda menculik Soekarno dan Hatta ke suatu kota kewedanaan yang jauhnya 85 KM sebelah Timur Jakarta, mereka ditahan selama satu hari penuh dalam kompleks sebuah chudan Tentara Peta. Selama bulan pertama tahun 1945 daidan Jakarta ditugaskan untuk memberikan latihan baris-berbaris kepada para mahasiswa dan pelajar di Jakarta. Selama latihan itulah mereka mengadakan kontak dengan mahasiswa. Kontak itu digunakan dalam sehari sebelum terjadinya revolusi untuk melancarkan berbagai aksi. Kelompok yang menculik Soekarno dan Hatta dipimpin oleh Singgih, seorang Shodancho dari Jakarta yang menggunakan kendaraan dan pengawal dari Peta. Seorang dari pemimpin pemuda, yaitu Sukarni, menyertai kelompok penculik itu dengan mengadakan tekanan terhadap kedua pemimpin, sehingga mereka bersedia untuk memperoklamasikan kemerdekaan Indonesia bebas dari setiap campur tangan Jepang. Tetapi pemimpin tua itu tidak memasuki perundingan apa pun dengan pemimpin pemuda mengenai saat dan cara kemerdekaan diproklamasikan. Sehingga terjadi perdebatan diantara pemimpin kaum tua itu yang berakhir dengan hangat. Kedatangan Ahmad Soebardjo, seorang pemimpin nasionalis tua ke Rengasdengklok. Ia bekerja di kantor penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta (Kaigun Bukanfu) yang dipimpin oleh Laksamana Maeda Tadashi. Maeda mengetahui pentingnya Indonesia sebagai sumber minyak, suatu produk yang mutlak bagi Armada Jepang. Maeda setelah bertugas selama beberapa tahun sebagai atase angkatan laut di luar negeri, mengetahui tentang kekuatan nasionalisme. Ia juga bersimpati terhadap kemerdekaan Indonesia, berlawanan dengan baik kebijaksanaan resmi angkatan laut di Tokyo maupun dengan sikap pemerintah militer angkatan laut di bagian timur Indonesia. Dari pemimpin pemuda yang mempunyai hubungan dengan kantor penghubung Angkatan Laut, Subardjo berhasil memperoleh informasi mengenai pengasingan Soekarno dan Hatta. Ia mengadakan persetujuan dengan para pemimpin pemuda; ia mengikat diri untuk segera menyelenggarakan proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta sebagai pembebasan mereka berdua. Pada malam hari itu, kedua pemimpin senior tersebut dibawa kembali kejakarta dan diselenggarakanlah suatu pertemuan, baik dengan pemimpin tua maupun pemuda dalam suatu Komite Van Aksi. Untuk menjaga keamanan peserta rapat terhadap penangkapan oleh Kempeitai (polisi militer) yang di takuti, pertemuan dilaksanakan di rumah Laksamana Maeda. Tetapi sebelum pertemuan dimulai, Soekarno dan Hatta diantar oleh Laksamana Maeda dan beberapa pejabat jepang lainnya menemui Mayor Jendral Nishimura, Somubucho, yang bertindak atas nama Gunseikan, Mayor Jendral Yamamoto. Pemimpin senior tersebut menerima penegasan bahwa Jepang telah menyerah kepada serikat. Ia juga mengatakan bahwa penguasa Jepang harus memelihara Status Quo, yang berarti mereka tidak dapat megizinkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Status quo ini didasarkan atas interprestasi Jepang terhadap Konvensi Jenewa, dan waktu itu tidak ada komunikasi dari angkatan perang serikat yang telah sampai kepada komando tentara keenam belas jepang. 3. Penyusunan teks Proklamasi Setelah mendengar sikap resmi pemerintah Militer Jepang, Soekarno dan Hatta menyadari bahwa satu-satunya jalan yang masih terbuka adalah usulan dari para pemuda yang suatu kemerdekaan Indonesia di proklamasikan tanpa campur tangan Jepang. Soekarno dan Hatta kembali kekediaman Maeda, dan bersama Soebardjo mulai merumuskan tek proklamasi kemerdekaan. Ketika mereka selesai dengan teks proklamasi dan menyampaikannya kepada para pemimpin yang hadir. Teks disetujui dengan perubahan-perubahan kecil dan telah diterima sesuatu usul supaya teks ditandatangani hanya oleh Soekarno dan Hatta. Kata-kata yang dirubah diantaranya pertama, kata “Tempoh” di ganti menjadi “Tempo”, “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”, dan “Djakarta, 17-08-05” menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”. Setelah menandatangani naskah proklamasi, Soekarno dan Hatta pulang dan beberapa hadirin lainnya meninggalkan rumah Maeda. Soekarno kemudian meminta Sayuti Melik mengetik teks Proklamasiyang sudah di sempurnakan dan ditanda tangani. 4. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Setelah mengadakan pertemuan dengan para pemimpin untuk merumuskan teks proklamasi dan disetujui di kediaman Laksamana Maeda, maka beberapa jam kemudian pada pagi hari, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.30 dirumahnya di Pengangsaan Timur no. 56, Proklamasi Kemerdekaan dengan Khidmat di bacakan oleh Soekarno, disaksikan oleh Hatta dan beberapa ratus orang Indonesia lainnya. Kemudian sang saka merah putih dinaikkan diiringi dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh seluruh hadirin. Seluruh prajurit Peta dibantu oleh anggota-anggota Barisan pelopor dan kelompok lainnya menjaga rumah dari segala penjuru. Seorang chudancho, Latief Hendra Ningrat memimpin pergerakan bendera. Sumber: Notosussanto, Nugroho. 1979. Tentara Peta pada Jaman Pendudukan Jepang. Jakarta: Gramedia. Ricklefts, M.C. 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi. Sularto, St. Dan D. Rini Yunarti. 2010. Konflik di Balik Proklamasi: BPUPKI, PPKI, dan Kemerdekaan. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

posisi ekonomi kelompok Cina di Hindia Belanda

POSISI EKONOMI KELOMPOK CINA DAN HINDIA BELANDA Secara sosio – ekonomi, posisi ekonomi yang kuat dari Warga Indonesia keturunan Cina telah berhadapan dengan ketertinggalan Warga Negara Indonesia asli. Secara historis, posisi ekonomi tersebut berawal dari kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda yang menjadikan orang Cina sebagai kelas perantara (go between) ataupun kalangan menengah (middlemen). Mereka menghubungkan kepentingan-kepentingan perdagangan dan induestri dari para elite penguasa kulit putih dengan warga bumi putera. Dengan sistem koneksi dengan penguasa politik kolonial dan sisitem jaringan kekerabatan (clan), mereka muncul sebagai kekuatan ekonomi yang sangat tangguh dan penting di Hindia Belanda. Mereka menguasai perdagangan enceran (ratailer) dan keagenan (grosir) yang meliputi perdagangan barang-barang kebutuhan sehari-hari, industri tekstil, penerbitan dan percetakan, perkebunan, pabrik gula, bisnis hiburan dan pertunjukan, dan sebagainya. Mereka membentuk suatu komunitas yang eksklusif dengan subkultur khas yang disebut kantong budaya pecinan. Sukses orang-orang Cina di samping karena kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam hal ini kompeni, juga karena budaya Cina (the old Chinese culture) yang ulet, hemat dan tekun. Karena itu mereka mampu menguasai perekonomian dan berada pada kelas menengah pada zaman kolonial. Pecinan merupakan daerah strategis pusat lalu lintas perekonomian yang terletak di tepi-tepi jalan raya yang berdektan dengan pasar di kota-kota besar Hindia Belanda. Potensi ekonomi mereka sebagai kaum konsumen jelas sangat kuat meskipun tidak terdapat suatu angka statistik yang memberikan gambaran pendapatan golongan ini setiap bulannya. Pada masa kolonial, pasar beras hampir dikuasai oleh para pedagang Cina yang memiliki ikatan yang kuat dengan elite setempat; para Priyai menggunakan ikatan tersebut untuk memonefikasikan panen padi diwilayahnya. Sehingga para petani berada pada posisi yang rentan, posisi yang bergantung. Di pasar mereka berhadapan dengan para saudagar Cina yang disokong oleh elit lokal dan menguasai akses menuju pasar melalui sewa pajak pintu gerbang dan pajak lainnya. Di beberapa daerah, kontrol saudagar-saudagar cina atas tanah bahkan jauh lebih besar: didaerah pedalaman sekitar Batavia mereka menyewa banyak tanah perkebunan swasta, yang didalamnya ditanam gula dan padi sebagai produk ekspor. Diwilayah pantai utara atau pesisir, mereka memperoleh akses atas bagian kepemilikan tanah yang cukup substansial yang dimiliki oleh para elite tersebut. Mereka juga aktif sebagai pemberi pinjaman. Pada periode ini dapat dikatakan Cina mengalami jaman keemasan dalam perkembangan ekonomi di Hindia, walaupun pola perdagangan orang Cina mengalami perubahan penting dari perantara dalam perdagangan internasional ke ekonomi pedesaan. Para pedagang Cina mendominasi pasar beras yang pada bulan-bulan sebelum panen meminjamkan uang kepada petanidengan tingkat bunga yang sangat tinggi, pada saat harga sedang tinggi dan suplai beras sangat sedikit. Pasar terintegrasikan dengan buruk oleh orang cina yang mendominasi pasar beras lokal, juga mendominasi perdagangan pasar-pasar kota, pengimpor utama beras, dengan biaya transaksi pengumpulan beras pada tingkat lokal sangat tinggi. Selain itu, orang Cina memiliki kecendrungan untuk bekerja bersama dan menciptakan suatu monopoli yang sebenarnya atas niaga beras dalam pasar impor. Monopoli lokal (kelompok) Cina perantara adalah bagian yang tidak terpisahkan dari politik ekonomi kolonial, yang memperoleh sebagain besar uangnya dari hasil menyewakan izin pengumpulan pajak kepada orang Cina yang sama. Perkumpulan orang-orang Cina (kongsi) berkompetisi untuk memperoleh sewa pajak-pajak tersebut dalam rangka untuk memperoleh akses ke daerah pedesaan, yang dibatsi oleh negara kolonial untuk melindungi petani. Orang cina mempunyai akses atas sumber modal yang relatif murah dan tingkat bunga yang sangat tinggi atas segmen lain dari pasar modal. Keuntungannya yaitu segmen pasar modal yang kecil tidak memiliki biaya transaksi yang besar, yang mendorong naiknya tingkat bunga atas pasar modal (pedesaan, informal) lainnya. Pada tahun-tahun awal STP muncul tanda-tanda bahwa kontrol pedagang Cina atas dasar padi dan permodalan menurun berkat suntukan uang segar kedalam ekonomi pedesaan. Armada Cina berdagang melalui pelabuhan-pelabuhan besar di Hindia Belanda, tanpa melihat jaringan dagang Makassar di timur raya di kurangi dan dialihkan ke Singapura sejak tahun 1870 – an. Para pedagang Cina menetap di Maluku dan membuka jaringan hubungan langsung dengan Singapura. Pedagang-pedagang Cina membawa beras dan barang impor lainnya bagi penduduk di Maluku. Para pedagang Inggris dan Cina memperkuat posisinya melalui pedagang-pedagang Eropa. Kebijakan petinggi kolonial terhadap orang Cina berkembang demikian rupa yang memungkinkan mereka muncul pada posisi perantara. Dengan posisi kunci sebagai penebas gerbang tol, penyelenggara rumah gadai, monopoli penjualan candu dan garam atas nama pemerintah colonial, orang Cina dengan leluasa memperluas jaringan. Sektor yang didominasi oleh orang Eropa tidak bisa dimasuki oleh orang Cina, seperti perkebunan, perdagangan ekspor-impor, perdagangan besar, dan perbankan. Namur disisi lain, meskipun penguasan tanah di luar kota dilarang oleh Undang-undang Agraria 1870, beberapa tanah partikelir yang berada di tangan Cina, sejak sebelum peraturan ini dikeluarkan, tetap dipertahankan. Kegiatan ekspor – impor barang untuk kepentingan masyarakat Eropa di Hindia Belanda sepenuhnya dikontrol oleh pengusaha Eropa. Begitu depresi ekonomi 1930 melanda, golongan Eropa mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan. Hal ini dibaca oleh pedagang Cina, dengan sigap mendirikan berbagai industri barang substituís. Cina mendominasi industri jenis konsumsi yang semula di impor ini sampai awal abad ke -21 DAFTAR BACAAN Lutien, Daan. 2012. Ekonomi Indonesia 1800 – 2010. Jakarta: Gramedia. Habib, Achmad. 2004. Konflik antara Etnik di Pedesaan: Pasang Surut Hubungan Cina – Jawa. Yogyakarta: LKiS. Rasyid, Abdul Asba. 2007. Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah: Kajian Sejarah Ekonomi Politik Regional di Indonesia. Jakarta: Obor Indonesia. Susanto, Budi. 2003. Identitas dan Post Kolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: KANISIUS.